Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Jago Tarung membawa topeng ke Museum Nasional Rumania

kendyferdian.wordpress.com kendyferdian.wordpress.com

Jogja-KoPi| Topeng merupakan karya rupa yang terus mengikuti peradaban manusia dalam rentang waktu yang sangat panjang yakni sejak masa prasejarah hingga era modern. Sifatnya pun universal. Selain itu topeng memiliki aspek seni sekaligus magis dalam fungsinya sebagai media komunikasi-ritual-simbolik.

Di Indonesia, budaya topeng ini tersebar ke dua belas provins dan masih cukup terjaga, diantaranya adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua.

Bentuk-bentuk topeng di Indonesia sangat beragam sekaligus unik, mulai dari yang mirip wajah binatang, makhluk menakutkan, bentuk stilisasi karakter-karakter tertentu, sampai ke bentuk yang agak realistis mendekati wajah manusia. Bahan pembuatan topeng pun bermacam-ragam dari mulai kulit, kayu, tanah liat, keramik, logam (emas, perak, perunggu), hingga batu.

Pada masa prasejarah di Indonesia, dimana topeng digunakan sebagai media ritual tertentu oleh karena topeng dianggap memiliki kekuatan magis. Pada nekara perunggu untuk ritual memanggil hujan misalnya, terukir gambar-gambar wajah. Ukiran gambar wajah tanpa anggota badan ini menunjukkan masa itu mereka telah mengenal konsep topeng.

Pada masa ini topeng berfungsi sakral sebagai sarana dalam pemujaan terhadap roh atau arwah nenek moyang. Upacara ritual yang berkaitan dengan topeng atau kedok adalah pemujaan, upacara kesuburan dan upacara kematian atau penguburan. Topeng dimanfaatkan sebagai perantara antara dunia roh dengan manusia. Kehadiran roh nenek moyang dalam topeng berarti pemulihan hubungan kedua dunia tersebut.

Keberadaan topeng di Indonesia telah melewati tiga periode sejarah yakni masa Prasejarah, masa Hindu-Buddha-Islam, hingga masa modern saat ini. Pada masa modern ini keberadaan topeng masih terkait dengan fungsinya sebagai penutup wajah dengan alasan religi, sosiologis, hingga kesenian dan tontonan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa topeng di Indonesia memiliki dua fungsi, yakni fungsi keagamaan dan fungsi kesenian.

museum romania

Sebuah grup kesenian dari kota Yogyakarta bernama Jago Tarung Yogyakarta berencana akan membawa macam-ragam kesenian topeng Nusantara ini ke belahan Eropa Timur. Mereka mendapat undangan untuk mengadakan pameran seni rupa dari The National Museum of Romanian Peasant, Bucharest, Romania. Pameran yang akan diselenggarakan pada tanggal 27 Juli s/d 3 Agustus 2016 ini juga merupakan bagian dari event "Festival Kota Busteni", sebuah festival budaya tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintahan kota Busteni, Romania. Dalam kesempatan ini KoPi mewawancarai Dedi Yuniarto, pendiri Jago Tarung Yogyakarta.

KoPi: Bisa diceritakan mengenai program pameran di Romania ini?

Dedi Yuniarto: Kegiatan pameran kami di Romania ini merupakan program Internasional kami yang kedua. Sebelumnya kami mengadakan 'pameran budaya' di AKTO College of Art and Design, sebuah universitas seni di Athena dan Thessaloniki, dua kota terbesar di Yunani. Dalam kesempatan itu kami mengambil tema pameran "Behind the Myth" yang mengangkat narasi mitologi Nusantara. Event ini mendapatkan fasilitasi dari KBRI Athena.

Nah, dalam kesempatan pameran kami di Romania bulan Juli yang akan datang kami akan mengangkat tema topeng Nusantara. Judul pamerannya "Indonesian Mask: Touching the Hidden Spirit". Pameran ini adalah kolaborasi antara Jago Tarung Yogyakarta dengan Centrul Cultural Indonezian (CCI) dan The National Museum of Romanian Peasant.

KoPi: Mengapa topeng?

Dedi Yuniarto: Narasi topeng Nusantara telah cukup panjang bergulir. Bahkan keberadaan topeng yang bertransformasi menjadi seni tari topeng telah dimulai sejak masa keemasan kerajaan Majapahit dalam kurun 1350-1389 M dengan raja Hayam Wuruk sebagai tokoh utamanya. Sejak saat itu tari topeng menjadi barang kebanggaan raja-raja di pulau Jawa, Madura, dan Bali. Jika pada masa lalu, tari topeng hanya digelar di dalam pagar istana kerajaan, para era modern ini tari topeng telah menjadi milik rakyat kebanyakan, kecuali untuk Yogyakarta dan Solo dimana tari topeng klasik hanya dapat dijumpai dalam acara-acara keraton.

KoPi: Jadi narasi apa yang ada dibalik seni topeng?

Dedi Yuniarto: Secara sederhana saja, menurut Sumardjo, dalam sebuah penelitiannya mendapati bahwa tari topeng Panji merupakan perlambang keyakinan Jawa-Hindu-Buddha (Hindu Siwa) yang merupakan agama mayoritas di kerajaan Majapahit pada saat itu, dan menggambarkan pola pemikiran purba Jawa tentang dualisme semesta yakni: siang dan malam, matahari dan bulan, atau lelaki dan perempuan. Bukankah dualisme ini merupakan pasangan oposisi yang sama-sama diperlukan di dalam kehidupan manusia? Untuk mencapai harmoni dari kenyataan dualistik ini, yang berarti keselamatan dan kesejahteraan hidup, maka keduanya harus dipasangkan kemudian dikawinkan. Itulah kandungan filosofis para leluhur Nusantara melalui karya tari topeng.

KoPi: Jadi nanti apa saja yang akan dilakukan selama di Romania?

Dedi Yuniarto: Selain pameran seni rupa, berupa lukisan dan ragam topeng Panji Nusantara sebagai program utama, kami juga akan mengadakan workshop tari topeng Panji yang akan diikuti oleh kalangan mahasiswa, penari profesional, dan umum di Bucharest untuk belajar menari selama 1 (satu) jam langsung bisa dengan instruktur Aerli Rasinah, seorang penari topeng profesional cucu Mimi Rasinah seorang maestro tari topeng asal Kandangan-Indramayu. Workshop menari topeng ini akan dilakukan selama dua hari berturut-turut, namun tidak menutup kemungkinan diperpanjang jika antusiasme publik di Bucharest cukup bagus.

Dalam kesempatan ini seluruh lukisan dan topeng yang dipamerkan akan kami jual. Disamping juga kami akan membawa serta souvenir bertema topeng lainnya yang berasal dari Indramayu dan desa Bobung, Gunung Kidul.

Selain itu kami juga akan mengadakan kegiatan melukis bangunan-bangunan heritage di seputaran Bucharest secara on the spot.

Kopi: Karya-karya apa saja yang akan dipamerkan?

Dedi Yuniarto: Karena program ini utamanya adalah kegiatan pameran seni rupa, maka kami akan memamerkan karya-karya lukis dari 3 orang perupa Yogyakarta dan Jakarta, serta beberapa topeng Panji.

KoPi: Siapa saja seniman-seniman yang akan berpartisipasi dalam kegiatan ini?

Dedi Yuniarto: Saya mengajak serta 2 orang perupa alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yakni Dedy Sufriadi dan Suharmanto, serta 1 orang perupa alumni Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (IKIP) Makassar yakni Syis Paindow. Selain itu saya mengajak serta Aerli Rasinah seorang penari topeng profesional cucu Mimi Rasinah seorang maestro tari topeng asal Kandangan-Indramayu.

KoPi: Siapa yang mendukung program Anda?

Dedi Yuniarto: Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa program ini didukung oleh Centrul Cultural Indonezian (CCI) sebuah lembaga non-profit yang berkedudukan di Bucharest, serta The National Museum of Romanian Peasant. InsyaAllah kami akan mendapatkan dukungan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan KBRI Bucharest. Sejak bulan Februari yang lalu saya telah mengadakan komunikasi intensif dengan Ibu Endah W. Sulistianti dari Bekraf dan Ibu Gading Parasati dari KBRI Bucharest.

KoPi: Terakhir dari kami, apa output yang ingin Anda capai dalam event ini?

Dedi Yuniarto: Sebagaimana kita ketahui gerakan kebudayaan merupakan bagian dari soft power politics.

Seni rupa dan tari topeng sebagai bagian dari budaya sebuah masyarakat memiliki kedudukan yang melampaui bahasa itu sendiri, oleh karena mengandung nilai-nilai universal yang melampaui fakta perbedaan umat manusia. Nilai-nilai humanisme yang terkandung di dalam sebuah karya seni adalah karakter ideal dan universal yang tidak mungkin dikungkung oleh batas-batas wilayah, bahasa, agama, budaya, bahkan sejarah manusia.

Maka dengan kelebihannya itu, seni rupa serta tari mampu mempertemukan manusia dengan berbagai latar belakangnya. Ia pun merupakan salah satu bentuk media komunikasi paling efektif untuk menemukan persaudaraan antar anggota masyarakat yang memiliki perbedaan sejarah, budaya, bahasa, dan batas-batas wilayah.

KoPi: Terimakasih atas waktu Anda.

Dedi Yuniarto: Terimakasih kembali. Sukses untuk kita semua.

back to top