Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Israel bunuh satu tentaranya, sebagai alasan memusnahkan Palestina

Israel bunuh satu tentaranya, sebagai alasan memusnahkan Palestina

KoPi| Sepuluh orang tewas ketika Israel menyerang sekolah PBB di Rafah, Gaza selatan, pada tanggal 3 Agustus tahun lalu. Israel menggunakan "hilangnya" seorang prajurit di Gaza sebagai dalih untuk membunuh 225 warga Palestina selama tiga hari musim panas lalu, sebuah riset baru menyebutkan.

Pada tanggal 1 Agustus tahun lalu, militer Israel melaporkan bahwa salah satu letnan-nya, Hadar Goldin, telah hilang di daerah Rafah, dekat dengan perbatasan Gaza dengan Mesir. Tanggapan Israel kemudian adalah  "menembak apa pun dan siapa pun," menurut sebuah analisis yang dipublikasikan minggu ini oleh kelompok hak asasi manusia Palestina, Al-Haq.

Rafah diserang dari darat, laut dan udara. Sebagian besar dari 225 warga Palestina yang tewas dibunuh pada hari pertama. Pada 3 Agustus, total 2.579 rumah di Rafah telah dihancurkan sepenuhnya atau sebagian.

Israel dilaporkan dijuluki "Hannibal direktif" setelah mengetahui bahwa Goldin hilang. Ini adalah prosedur dari strategi yang memungkinkan militer membunuh satu tentaranya sendiri untuk mencegah ditangkap oleh pejuang dan dibuat  alasan untuk menyerang . Serangan di Rafah terjadi pada saat gencatan senjata sementara -yang seharusnya berada di tempat. Lebih dari 2.200 warga Palestina tewas dalam serangan 51 hari Israel di Gaza pada bulan Juli dan Agustus tahun lalu.

Studi Al-Haq menunjukkan bahwa warga sipil menanggung beban penderitaan selama serangan. Lebih dari 43.500 keluarga yang terkena dampak kehancuran rumahnya. Sekitar 125.000 anak-anak tinggal di rumah-rumah.

Masjid menjadi target

Hal ini juga menunjukkan bahwa Israel sengaja menargetkan rumah sakit dan tempat-tempat ibadah. Sebanyak 61 masjid hancur dan 121 rusak sebagian, Al-haq mengatakan. Tujuh fasilitas kesehatan hancur total dan 27 hancur sebagian.

Tujuh sekolah juga hancur dan 57 mengalami kerusakan serius. Laporan jug itu menyatakan bahwa fasilitas untuk anak-anak usia pra-sekolah diserang juga. Fasilitas tersebut, delapan hancur sepenuhnya dan 44 sebagian. Sebanyak 556 anak-anak Palestina tewas selama 51 hari. Al-Haq menuduh Israel melakukan taktik "Pecah dan Taklukkan".

Sebelumnya pada 2014, Hamas, memerintah Gaza, dan Fatah, yang menguasai Pemerintah Palestina di Tepi Barat yang diduduki, dan kemudian sepakat membentuk "pemerintahan bersama'. Setelah terjadi kesepakatan itu, Israel melancarkan operasi militer di Tepi Barat dan Gaza.

Serangan yang menghancurkan tanpa pandang bulu itu dipandang sebagai upaya hukuman dan dimotivasi oleh rekonsiliasi Palestina, kata Al-Haq. Tujuannya adalah menaklukkan dua wilayah itu.

Al-Haq menolak jaminan Israel yang berusaha menghindarkan warga sipil dengan memberikan pemberitahuan ketika ada pemboman selanjutnya. Mungkin metode yang paling dikenal adalah memberikan peringatan yag disebut sebagai "mengetuk atap." Ini ditandai dengan satu pengeboman satu rumah sebagai tanda sebelum kemudian disusul pengeboman yang lebih mematikan.

Peringatan lima menit

Menurut Al-Haq, semua pengeboman rumah sama hal-nya serangan terhadap kehidupan dan infrastruktur sipil. "Peringatan" tersebut juga tidak membebaskan Israel dari tanggung jawabnya di bawah hukum internasional. Warga sipil tidak diwajibkan untuk meninggalkan rumah mereka setelah peringatan diterima. Dan "mengetuk atap" menunjukkan belas kasihan terhadap kelompok rentan seperti orang tua, anak-anak atau orang-orang cacat.

Faktanya, dalam beberapa kasus, ada jarak yang sangat singkat antara yang disebut peringatan "mengetuk atap" dan serangan yang lebih besar. Dalam peristiwa satu bom seperti di daerah Khan Younis, jarak itu hanya lima menit. Seorang wanita hamil dan anak perempuannya berusia satu tahun tewas dalam insiden itu.

Israel mengklaim bahwa tujuan pengiriman pasukan darat ke Gaza adalah untuk menghancurkan terowongan bawah tanah yang digunakan oleh pejuang Palestina. Al-Haq berpendapat bahwa tidak mungkin keberadaan terowongan tersebut akan diberikan Israel  "sebagai alasan utama" untuk mencabut ratusan ribu orang.

Dengan hanya sepuluh terowongan yang dilaporkan telah ditemukan pada 20 Juli 2014, adalah tidak rasional dan proposional jika harus mengerahkan militer dan memusnakan masyarkat sipil, kata Al-haq. Itu bisa dipahami sebagai bentuk hukuman kolektif yang dilarang dalam hukum internasional.

Studi baru itu memberikan bukti kuat bahwa Israel melakukan kejahatan kemanusiaan selama musim panas lalu. Mudah-mudahan, itu akan meningkatkan upaya untuk membawa Israel kepada Mahkamah Pidana Internasional.

back to top