Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

ISIS salib dan kubur anak hidup-hidup

Cuplikan video yang menunjukkan tentara anak-anak rekrutan ISIS di Kazakhstan Cuplikan video yang menunjukkan tentara anak-anak rekrutan ISIS di Kazakhstan
KoPi | Kekejaman kelompok militan Islamic State (IS) atau sering disebut ISIS semakin menjadi-jadi. Sebuah laporan dikeluarkan oleh tim independen PBB setelah peristiwa pemenggalan reporter Jepang dan pembakaran hidup-hidup pilot Jordania tentang daftar kekejaman kelompok tersebut.
 

Komite Hak Anak-anak PBB di Jenewa melaporkan beberapa fakta bahwa ISIS telah menculik dan menjual anak-anak dari Iraq sebagai budak seks (4/2). Selain itu, beberapa anak lain juga dibunuh dengan cara disalib dan dikubur hidup-hidup. Laporan tersebut juga menyebutkan sebagian anak-anak direkrut untuk menjadi pembom bunuh diri, pembuat bom, informan, atau dijadikan tameng manusia.

Mayoritas anak-anak yang menjadi korban kekejaman militan ISIS adalah anak-anak kaum Yazidi atau dari pemeluk agama Kristen. Meski demikian, anak-anak dari keluarga Sunni dan Shiah juga turut menjadi korban.

“Kami mendapat laporan bahwa anak-anak, terutama mereka yang terganggu secara mental, dijadikan sebagai pembom bunuh diri. Kebanyakan anak-anak tersebut bahkan tidak tahu apa yang mereka lakukan,” terang Renate Winter, anggota Komite Hak Anak-anak PBB.

Laporan tersebut menyebutkan ISIS melakukan “pembunuhan sistematis terhadap anak-anak dari kalangan agama dan etnik minoritas, termasuk di antaranya eksekusi masal anak laki-laki, pemenggalan, penyaliban anak-anak, dan penguburan hidup-hidup”.

Komite tersebut juga menuduh ISIS telah melakukan “kekerasan seksual secara sistematis” dan “penculikan serta perbudakan seksual pada anak-anak”. “Anak-anak dari etnis minoritas tersebut diculik dan ditangkap dari berbagai tempat, kemudian diberi label harga, dan dijual sebagai budak,” ungkap Winter.

Selain menjadi korban langsung dari ISIS, anak-anak di Iraq juga menjadi korban tewas atau terluka akibat serangan udara pasukan Iraq dan koalisi pimpinan Amerika Serikat. Anak-anak lain juga meninggal karena dehidrasi, kelaparan, dan tersengat panas berlebihan.| The Huffington Post

back to top