Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Ironi ekowisata tanpa unsur ekologi

Lalu lalang kapal wisata di ekowisata Wonorejo dinilai mengganggu habitat burung Lalu lalang kapal wisata di ekowisata Wonorejo dinilai mengganggu habitat burung
Surabaya – KoPi | Semakin hilangnya kawasan singgah untuk burung migran di Wonorejo diakui para aktivis lingkungan di Surabaya. Iwan Londo dari Sahabat Burung Nusantara mengatakan penempatan lahan konservasi di Wonorejo salah tempat. Di tempat tersebut banyak ditanam mangrove yang dimaksudkan sebagai upaya kelestarian lingkungan, tapi konversi lahan untuk perumahan terus dilakukan.
 

Iwan menyebutkan tidak ada batas yang jelas di mana pengembangan lahan boleh dilakukan. Hal itu juga diakui Ratno, petani tambak setempat. Meskipun kawasan Wonorejo disebut sebagai wilayah konservasi, namun pengembangan perumahan terus berjalan, bahkan semakin mendekati area konservasi. “Ini kalau pengembang terus masuk, lama-lama kawasan sini bisa habis, Mas,” ujar Ratno.

Iwan mengaku pernah berbicara dengan kawannya yang bekerja di Departemen Kehutanan Surabaya. Sang kawan tersebut juga mengaku Departemen Kehutanan sendiri bingung dengan kepemilikan lahan di Wonorejo. Departemen yang mengawasi pun tidak jelas, karena semuanya tumpang tindih.

Selain itu, ia mengkritisi masalah ekowisata Wonorejo. Kawasan wisata tersebut dianggapnya tidak menerapkan konsep ekologi sama sekali. Ia melihat selama ini pengunjung hanya disuguhi pemandangan bakau, naik perahu, kemudian pulang. “Konsep ekowisata itu tidak seperti itu. Seharusnya ada guide yang memandu mereka, menjelaskan tanaman apa ini, burung apa itu, bagaimana habitatnya. Seharusnya seperti taman safari. Nah kalau ini tidak ada konsep sama sekali,” ujarnya.

Ia mengatakan pengelolaan ekowisata saat ini justru jauh dari kelestarian lingkungan, bahkan mengganggu ekosistem pantai. Kapal-kapal wisata yang lalu lalang dengan suara berisik tentu akan membuat burung takut mendekat. Akibatnya tidak ada atau sedikit sekali burung yang terlihat di kawasan ekowisata.

Seharusnya, ada jadwal kapan kapal wisata boleh lewat. Selain untuk membatasi jumlah kapal yang lalu lalang, jadwal juga bisa berguna agar pengunjung bisa melihat langsung burung-burung yang singgah di kawasan konservasi. Burung-burung tersebut tidak sepanjang hari di sana, mereka hanya mencari makan di saat tertentu. Dengan penjadwalan yang sesuai, pengunjung juga bisa melihat langsung burung-burung tersebut.

 

back to top