Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Iran paksa pengungsi Syi'ah Afghanistan untuk perang di Suriah

Al-Jazeera Al-Jazeera

New York-KoPi| Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) merekrut ribuan warga Afghanistan tanpa dokumen yang tinggal di Iran untuk ikut berperang di Suriah. Hal ini telah dilakukan sejak bulan November 2013, demikian laporan Human Rights Watch (HRW).

Bahkan beberapa pengungsi menyebut pemerintah Iran telah memaksa mereka. Iran juga mengarahkan pengungsi asal Afghanistan untuk berperang dengan alasan melindungi situs keramat keagamaan Syi'ah di Suriah.

Selain itu para pengungsi dijanjikan bayaran dan izin tinggal resmi di Iran, sehingga merangsang mereka bergabung menjadi milisi Syi'ah untuk diimpor ke Suriah.

Pada akhir tahun 2015 HRW mewawancarai puluhan warga Afghanistan yang tinggal di Iran tentang perekrutan tersebut.

Laporan HRW menyatakan bahwa pemerintah Iran tidak hanya mengiming-imingi pengungsi Afghanistan dengan kemudahan kependudukan di negara itu, tapi juga memberi ancaman deportasi ke Afghanistan kecuali mereka bertempur ke Suriah membantu Basyar al-Assad.

Dihadapkan dengan pilihan 'buah Simalakama', beberapa pengungsi Afghanistan dan anak laki-lakinya memilih kabur ke Eropa.

Mereka mengaku bahwa dirinya atau kerabatnya, telah dipaksa oleh pejabat Iran untuk berperang ke Suriah. Sehingga ada yang memilih melarikan diri dan berhasil mencapai Yunani, ada pula yang dideportasi kembali ke Afghanistan karena menolak.

Seorang remaja berusia 17 tahun mengatakan ia dipaksa berperang tanpa diberi kesempatan untuk menolak. Namun sumber lainnya mengaku telah sukarela menawarkan diri bergabung menjadi milisi buatan Iran untuk dikirim ke Suriah, dengan alasan sesuai keyakinan agama (Syi'ah) atau karena motif agar dipermudah status kependudukan mereka di Iran.

Pengungsi lain mengatakan bahwa dirinya ditahan lalu kemudian diberi pilihan, mau perang (ke Suriah) atau dideportasi, ia lebih memilih deportasi.

Ali, 14 tahun, bercerita kepada HRW melalui telepon dari Afghanistan, bahwa penjaga perbatasan Iran menahannya bersama dengan sekitar 150 warga Afghanistan yang mencoba menyeberang ke Turki dari wilayah Iran.

"Mereka membawa kami ke kantor polisi di dekat perbatasan, dan kami dipaksa berjalan tanpa alas kaki. Mereka memukuli kami dengan tongkat seperti binatang", ia berkisah.

Di kantor polisi, petugas Iran menawarkan laki-laki dewasa dan anak-anak untuk ikut perang di Suriah atau dideportasi ke Afghanistan.

"Mereka mengatakan kepada kami: 'jika ada yang ingin berperang di Suriah, maka kami akan mengurusnya. jika tidak mau, kami akan deportasi'. Tak satu pun dari orang-orang dalam rombongan setuju, dan mereka semua dideportasi ke Afghanistan", lanjutnya.

Menurut HRW, praktik terhadap pengungsi di bawah ancaman konsekuensi atau memberi mereka pilihan sulit seperti ini telah melanggar hukum internasional.

Para milisi Afghanistan dan Pakistan yang dikirim ke Suriah tergabung dalam brigade Fatimiyun dan berada di bawah kontrol pasukan al-Quds Garda Revolusi Syi'ah. Mereka dijanjikan bayaran hingga USD 1000 per bulan.

Sementara itu pemerintah Syi'ah Iran menyatakan jika para milisi tersebut adalah relawan yang dikirim ke Suriah untuk menjaga kuburan dan situs suci keagamaan Syi'ah. Namun ribuan milisi pengungsi ini dilaporkan bertempur di berbagai provinsi Suriah.

Milisi Afghanistan ini banyak yang telah tewas di Suriah dan dimakamkan di Iran dengan upacara penghormatan tertentu. |HRW|Risalah|

back to top