Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Iran: internet untuk pengetahuan, hanya 10% saja

Iran: internet untuk pengetahuan, hanya 10% saja

Tehran-KoPi, Lebih dari 2/3 pemuda Iran, pengguna internet menggunakan software illegal untuk bisa masuk ke website-website yang dilarang oleh pemerintah, penelitian pemerintah mengatakan pada hari Senin.

Penelitian yang dilaksanakan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga diterbitkan sehari setelah Presiden Hassan Rowhani mengatakan bahwa internet adalah lawan yang produktif.

Mohammad Taghi Hassazadeh, kepala tim peneliti mengatakan bahwa “69,3 % mereka menggunakan proxy (server di negara lain) untuk bisa menghindari sensor dan bisa masuk internet,” sebuah media, ISNA mengatakan.

Iran memiliki kebijakan untuk menyaring atau menyensor website-website terkenal seperti Facebook, Twitter dan You Tube agar tidak bisa diakses kecuali menggunakan software yang dilarang yang dapat membuat VPN (Virtual Private Network) dalam sebuah koneksi internet pada umumnya.

Advokasi penyaringan website di negara republik islam tersebut mengatakan bahwa hal tersebut melindungi warga negara dari konten-konten tak bermoral, seperti website porno, tapi para penantang kebijakan tersebut mengatakan bahwa pengubah VPN membuat pembatasan tersebut tidak berarti.

Penelitian tersebut dilaksanakan selama 12 bulan setelah bulan Maret 2013 yang mengikutsertakan 15.000 orang Iran yang berumur 15-29 tahun.

Berdasarkan temuan 67,4 % dari mereka semua yang disurvei adalah pengguna internet.

19,1 % dari mereka menggunakan internet untuk chatingan, 15,3 % untuk jejaring sosial dan 15,2% untuk hiburan.

Hanya 10,4 % yang menggunakan internet untuk pengetahuan, dan hampir 5 % mereka menggunakan internet untuk mengakses yang tak bermoral, penelitian tersebut mengatakan tanpa penjelasan yang spesifik.


Rowhani, yang mengatakan pendidikan dan pengetahuan sebagai alasan untuk membatasi internet, merasa tidak tenang dalam sebuah debat mengenai sensor, yang mengatakan aturan saat ini tidak berjalan mulus.


“Beberapa orang mengatakan kami bisa menyelesaikan masalah-masalah ini dengan membangun tembok pemisah, tapi ketika anda melakukan penyaringan, mereka membuat proxy,” katanya dalam sebuah pidato yang disiarkan di TV.


(Fahrurrazi)
Sumber: Al-Arabiya News

back to top