Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Iran: internet untuk pengetahuan, hanya 10% saja

Iran: internet untuk pengetahuan, hanya 10% saja

Tehran-KoPi, Lebih dari 2/3 pemuda Iran, pengguna internet menggunakan software illegal untuk bisa masuk ke website-website yang dilarang oleh pemerintah, penelitian pemerintah mengatakan pada hari Senin.

Penelitian yang dilaksanakan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga diterbitkan sehari setelah Presiden Hassan Rowhani mengatakan bahwa internet adalah lawan yang produktif.

Mohammad Taghi Hassazadeh, kepala tim peneliti mengatakan bahwa “69,3 % mereka menggunakan proxy (server di negara lain) untuk bisa menghindari sensor dan bisa masuk internet,” sebuah media, ISNA mengatakan.

Iran memiliki kebijakan untuk menyaring atau menyensor website-website terkenal seperti Facebook, Twitter dan You Tube agar tidak bisa diakses kecuali menggunakan software yang dilarang yang dapat membuat VPN (Virtual Private Network) dalam sebuah koneksi internet pada umumnya.

Advokasi penyaringan website di negara republik islam tersebut mengatakan bahwa hal tersebut melindungi warga negara dari konten-konten tak bermoral, seperti website porno, tapi para penantang kebijakan tersebut mengatakan bahwa pengubah VPN membuat pembatasan tersebut tidak berarti.

Penelitian tersebut dilaksanakan selama 12 bulan setelah bulan Maret 2013 yang mengikutsertakan 15.000 orang Iran yang berumur 15-29 tahun.

Berdasarkan temuan 67,4 % dari mereka semua yang disurvei adalah pengguna internet.

19,1 % dari mereka menggunakan internet untuk chatingan, 15,3 % untuk jejaring sosial dan 15,2% untuk hiburan.

Hanya 10,4 % yang menggunakan internet untuk pengetahuan, dan hampir 5 % mereka menggunakan internet untuk mengakses yang tak bermoral, penelitian tersebut mengatakan tanpa penjelasan yang spesifik.


Rowhani, yang mengatakan pendidikan dan pengetahuan sebagai alasan untuk membatasi internet, merasa tidak tenang dalam sebuah debat mengenai sensor, yang mengatakan aturan saat ini tidak berjalan mulus.


“Beberapa orang mengatakan kami bisa menyelesaikan masalah-masalah ini dengan membangun tembok pemisah, tapi ketika anda melakukan penyaringan, mereka membuat proxy,” katanya dalam sebuah pidato yang disiarkan di TV.


(Fahrurrazi)
Sumber: Al-Arabiya News

back to top