Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Intelektual Amatiran, Musik, Dan Pengasingan

Intelektual Amatiran, Musik, Dan Pengasingan

Oleh: Ardhie Raditya


Tahun 1979, Regis Debray, pengajar di universitas Havana pernah menulis buku yang mengusik dunia intelektual eropa. Judulnya: Teachers, Writers, Celebrities: the Intellectuals of Modern France. Buku ini disusunnya sejak dirinya di penjara oleh rezim Bolivia karena kedekatannya dengan Che Guevara. Tesisnya sederhanya bahwa peran intelektual di Perancis sejak era modern (1930-1968) telah kehilangan otoritasnya sebagai “penjaga” kebenaran dan keadilan.

Sebelumnya, antara periode 1880-1930, peran intelektual sangat dihormati. Aktiftas mereka sangat bergairah dalam arena budaya ilmu pengetahuan yang ditunjukkan rutinitas dan produksi kerja penelitian, perdebatan, serta kritik tajam terhadap kondisi sosial melalui dalam kampus, kala itu lebih dominan di universitas sorbone. Setelah munculnya penerbitan Nouvelle Revue Française, pemikiran para intelektual di sana mulai meninggalkan Sorbone dan beralih ke dunia publikasi. Para intelektual berkompetisi untuk saling meyakinkan para pembacanya tentang landasan pemikiran tentang dunia sosial manusia. Camus, Sartre, dan Simone de Beauvoir merupakan beberapa intelektual yang pemikirannya mulai mendapatkan banyak perhatian dari publik.

Setelah media massa mulai bermunculan, sekitar tahun 1968, para intelektual mulai berubah posisi dari penulis sekaligus pemikir hebat menjadi selebritis populer. Acara-acara talkshow, konsultasi, dan dunia bisnis mulai diisi oleh mereka untuk memberikan ide-idenya dalam rangka mendukung program-program swasta dan politik yang menjanjikan akumulasi modal ekonomis. Media massa, menurutDebray, telah berhasil melegitimasi peran intelektual karena kedudukan mereka sangat bergantung pada selera penontonnya. Popularitas mereka bukan lagi atas dasar kualitas pemikiran dan analisanya, melainkan kemampuan memberikan suguhan yang menarik kepada pemirsanya. Perdebatan yang dilakukan untuk menggoda daya tarik audiensnya. Dengan demikian, tegas Debray, bahwa di dalam masyarakat modern inilah kemerosotan moral para intelektual benar-benar terlihat vulgar.

Pengalaman diskursif dari Franz Magnis Suseno dan Cathrine Bandel menunjukkan perbedaan yang mencolok di Jerman. Tengok saja di The Herald Tribune. Kita akan tampak kesulitan mencari nama-nama intelektual di dalam komentar-komentarnya tentang kebijakan politik di sana. Karena, aktifitas ini menjadi urusan para politisi dan ketua partai politik saja. Aktifitas intelektual berhubungan erat dengan ilmu pengetahuan, landasan kemasyarakatan, dan masa depan kemanusiaan. Apalagi, para intelektual kritis dan radikal seperti marxisme, maka analisis mereka sering terbaikan karena dianggap mengganggu kinerja pemerintahan.

Di Indonesia, kaum intelektual mudah sekali ditemukan. Komentarnya tentang situasi ekonomi-politik di tanah air sering menjadi headline media massa. Mereka benar-benar telah menjadi selebritis terdidik yang telah menyita banyak perhatian masyarakat. Apa yang telah dikatakannya dianggap kebenaran politik yang sesungguhnya. Tidak peduli seberapa banyak karya akademik yang dihasilkannya. Yang penting bahasa yang digunakan bernada seksis dan mudah dicerna kebanyakan masyarakat Indonesia yang masih awam. Barangkali, ini adalah dampak dari sistem kekuasaan totaliter orde baru yang telah lama membungkam suara-suara kaum terdidik. Sehingga, eforia diskursif dalam bentuk opini dan analisis akademik dianggap “suara tuhan”. Secara akademik, suara mereka patut dipertimbangkan karena mereka adalah kaum intelektual profesional yang memiliki kepakaran di bidangnya masing-masing.

Namun, bagi Edward Said justru itulah akar masalahnya. Secara sederhana, Edward Said mencoba menjelaskan tentang esensi intelektual menjadi dua kriteria umum. Pertama, intelektual profesional. Baginya, profesionalisme yang dilekatkan pada posisi intelektual tak lebih dari formalisasi pengetahuan: simplifikasi kualitas intelektual. Simplifikasi ini berkait dengan spesialisasi keilmuwan. Semakin tinggi jenjang pendidikan intelektual, maka semakin sempit ranah pengetahuan yang harus didalaminya.

Di sisi lain, profesionalisme menyimpan potensi kebenaran yang sangat politis. Dalam arti lain, seseorang yang bukan di bidangnya dianggap tidak layak untuk memberikan sebuah komentar dan opini dalam artikel media massa. Berikutnya, profesionalisme juga dikaitkan dengan sertifikat, ijasah, dan bayaran yang diterimanya dari universitas atau lembaga lainnya yang menggunakan tenaga dan pikirannya. Di sini, potensi komersialisasi pengetahuan amat sangat mungkin terjadi. Terakhir, profesionalisme dapat menjadi modal politik karena peran mereka digunakan untuk mendukung kebijakan pemerintah, termasuk orientasi partai politik tertentu.

Adorno, salah satu intelektual dari mazhab kritis, merupakan sosok intelektual yang terhormat menurut Said. Dia berani mengambil resiko menempuh jalan pengasingan karena menolak disebut sebagai intelektual profesional. Hal itu ditunjukkan dengan sikap kritisnya terhadap rezim nazi dan fasisme. Melakukan pengasingan ke Amerika, membuatnya semakin kritis terhadap tanah air orang lain. Hal itu ditunjukkannya terhadap kritik musik jazz yang menjadi simbol gaya hidup intelektual cafe (intelektual bohemian) di sana. Dari sinilah, lahir karya termasurnya tentang dialektika pencerahan bersama Horkheimer yang di dalamnya pun mengkritik budaya massa dan industri budaya masyarakat modern yang ditandai dengan maraknya perkembangan media massa. Belajar dari pengasingannya, Adorno berseru kepada kaum intelektual se dunia: “Intelektual tidak pernah memiliki tanah air. Karena itu, menulis adalah bagian dari tempat tinggalnya”.  

Kaum intelektual yang sejati, menurut Said, adalah kaum intelektual amatiran. Bukan berarti tidak tahu apa-apa, atau pura-pura tidak tahu menahu dengan penyelewengan politik dan manipulasi kebudayaan yang terjadi di sekitarnya. Intelektual amatiran adalah intelektual yang tidak pernah mencari kedudukan dan keuntungan dalam sebuah rezim kekuasaan, tetapi mereka selalu ingin terus mencari tahu dan belajar secara total membongkar dan menafsirkan berbagai potensi-potensi kemunafikan universal: kemunafikan intelektual sebagai bagian dari kaumnnya, dan pengkhianatan para penguasanya tanpa bersikap sinis. Mungkinkah kaum intelektual kontemporer di Indonesia seperti demikian adanya ? Entahlah.

-Penulis buku Sosiologi Tubuh, dosen Kajian Budaya di Sosiologi Unesa 

back to top