Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Inilah para sapi yang mengganti para ibu

Inilah para sapi yang mengganti para ibu

Surabaya – KoPi| Bagi orang Indonesia, susu formula masih dianggap sebagai sebuah keharusan. Persepsi bahwa susu formula sangat berpengaruh pada perkembangan anak-anak masih sangat umum dipegang. Hal tersebut terlihat dari survei yang diadakan oleh Proyeksi Indonesia mengenai persepsi masyarakat terhadap susu formula.

Lebih dari sepertiga responden mempercayai bahwa kemajuan suatu bangsa dipengaruhi dari penggunaan susu formula. Proyeksi Indonesia melakukan survei terhadap 200 orang ibu di Surabaya dengan berbagai latar belakang profesi. Dari hasil survei tersbeut, 34% responden percaya, semakin maju sebuah bangsa, mereka makin perlu mengkonsumsi susu formula. Bahkan 2% responden menyatakan sangat setuju jika kemajuan bangsa tergantung pada konsumsi susu formula.

Hanya 32% responden yang menyatakan tidak setuju mengenai klaim tersebut. Sementara 32% responden lain mengaku tidak tahu apakah kemajuan bangsa dipengaruhi oleh susu formula.

Satu hal yang pasti, mayoritas responden meyakini bahwa negara-negara maju sangat menganjurkan konsumsi susu formula pada bayi dan anak-anak. Hal itu diyakini oleh lebih dari 70% responden. Sedangkan 29,5% responden lain menyatakan bahwa negara maju tidak menganjurkan penggunaan susu formula.

Keyakinan tersebut tidak dapat dihindari, mengingat begitu masifnya terpaan iklan susu formula pada masyarakat. Setiap hari masyarakat disuguhi iklan-iklan yang menampilkan bagaimana susu formula membuat seorang anak secara “ajaib” menjadi lebih pintar daripada anak-anak lain, lebih sopan, lebih kreatif, dan lebih mandiri.

Dan hal itu pula yang kemudian yang diyakini masyarakat. Sebagian masyarakat menganggap apa yang ditunjukkan iklan adalah kebenaran. Iklan televisi memiliki pengaruh besar dalam keputusan menggunakan susu formula untuk anak-anak, terbesar kedua setelah anjuran dari saudara atau keluarga. 37% responden mengakui bahwa mereka mengetahui dan menggunakan susu formula karena pengaruh iklan di televisi. Sedangkan 43% mengaku menggunakan susu formula setelah dianjurkan oleh keluarga.

Para responden juga meyakini informasi yang ditunjukkan iklan di media mengenai susu formula sangat informatif. Sebanyak 60% responden menyebutkan bahwa iklan-iklan susu formula di media memberi informasi penting bagi mereka. Hanya 31% yang mengatakan iklan tersebut tidak terlalu informatif, dan hanya 5% yang menganggap iklan susu formula tidak memberi informasi penting.

Dokter spesialis anak dr. Dini Aditya Rini sangat prihatin dengan keadaan tersebut. Dokter anak asal Surabaya tersebut menyatakan bahwa negara-negara maju sangat membatasi peredaran susu formula, seperti Amerka Serikat, Australia dan Jepang. Persepsi salah masyarakat tersebut sangat dipengaruhi iklan susu formula. Iklan yang gencar dilakukan dan berbiaya besar. Padahal itu melanggar peraturan dan kode etik pemasaran susu formula yang berlaku secara internasional.

“Memperihatinkan. Masyarakat kita telah tertipu iklan susu formula. Negara-negara maju sangat membatasi peredaran susu formula dan iklannya. Selain itu, produk susu formula tidak diperlihat secara terbuka di toko-toko. Tersembunyi dan tidak direkomendasi.,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Padahal, susu formula diketahui berakibat buruk pada kesehatan bayi. Berbagai masalah kesehatan pada bayi seperti diare, sulit BAB, panas, batuk, atau bahkan gabungan dari penyakit tersebut, sering muncul akibat konsumsi susu formula. Lihat pada Penyakit-penyakit akibat susu formula

Bisa dikatakan, industri susu formula sukses mendorong para sapi mengganti peranan para ibu. Susu formula membodohkan, namun tetap disayang. | Amanullah GW.

back to top