Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Inilah para sapi yang mengganti para ibu

Inilah para sapi yang mengganti para ibu

Surabaya – KoPi| Bagi orang Indonesia, susu formula masih dianggap sebagai sebuah keharusan. Persepsi bahwa susu formula sangat berpengaruh pada perkembangan anak-anak masih sangat umum dipegang. Hal tersebut terlihat dari survei yang diadakan oleh Proyeksi Indonesia mengenai persepsi masyarakat terhadap susu formula.

Lebih dari sepertiga responden mempercayai bahwa kemajuan suatu bangsa dipengaruhi dari penggunaan susu formula. Proyeksi Indonesia melakukan survei terhadap 200 orang ibu di Surabaya dengan berbagai latar belakang profesi. Dari hasil survei tersbeut, 34% responden percaya, semakin maju sebuah bangsa, mereka makin perlu mengkonsumsi susu formula. Bahkan 2% responden menyatakan sangat setuju jika kemajuan bangsa tergantung pada konsumsi susu formula.

Hanya 32% responden yang menyatakan tidak setuju mengenai klaim tersebut. Sementara 32% responden lain mengaku tidak tahu apakah kemajuan bangsa dipengaruhi oleh susu formula.

Satu hal yang pasti, mayoritas responden meyakini bahwa negara-negara maju sangat menganjurkan konsumsi susu formula pada bayi dan anak-anak. Hal itu diyakini oleh lebih dari 70% responden. Sedangkan 29,5% responden lain menyatakan bahwa negara maju tidak menganjurkan penggunaan susu formula.

Keyakinan tersebut tidak dapat dihindari, mengingat begitu masifnya terpaan iklan susu formula pada masyarakat. Setiap hari masyarakat disuguhi iklan-iklan yang menampilkan bagaimana susu formula membuat seorang anak secara “ajaib” menjadi lebih pintar daripada anak-anak lain, lebih sopan, lebih kreatif, dan lebih mandiri.

Dan hal itu pula yang kemudian yang diyakini masyarakat. Sebagian masyarakat menganggap apa yang ditunjukkan iklan adalah kebenaran. Iklan televisi memiliki pengaruh besar dalam keputusan menggunakan susu formula untuk anak-anak, terbesar kedua setelah anjuran dari saudara atau keluarga. 37% responden mengakui bahwa mereka mengetahui dan menggunakan susu formula karena pengaruh iklan di televisi. Sedangkan 43% mengaku menggunakan susu formula setelah dianjurkan oleh keluarga.

Para responden juga meyakini informasi yang ditunjukkan iklan di media mengenai susu formula sangat informatif. Sebanyak 60% responden menyebutkan bahwa iklan-iklan susu formula di media memberi informasi penting bagi mereka. Hanya 31% yang mengatakan iklan tersebut tidak terlalu informatif, dan hanya 5% yang menganggap iklan susu formula tidak memberi informasi penting.

Dokter spesialis anak dr. Dini Aditya Rini sangat prihatin dengan keadaan tersebut. Dokter anak asal Surabaya tersebut menyatakan bahwa negara-negara maju sangat membatasi peredaran susu formula, seperti Amerka Serikat, Australia dan Jepang. Persepsi salah masyarakat tersebut sangat dipengaruhi iklan susu formula. Iklan yang gencar dilakukan dan berbiaya besar. Padahal itu melanggar peraturan dan kode etik pemasaran susu formula yang berlaku secara internasional.

“Memperihatinkan. Masyarakat kita telah tertipu iklan susu formula. Negara-negara maju sangat membatasi peredaran susu formula dan iklannya. Selain itu, produk susu formula tidak diperlihat secara terbuka di toko-toko. Tersembunyi dan tidak direkomendasi.,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Padahal, susu formula diketahui berakibat buruk pada kesehatan bayi. Berbagai masalah kesehatan pada bayi seperti diare, sulit BAB, panas, batuk, atau bahkan gabungan dari penyakit tersebut, sering muncul akibat konsumsi susu formula. Lihat pada Penyakit-penyakit akibat susu formula

Bisa dikatakan, industri susu formula sukses mendorong para sapi mengganti peranan para ibu. Susu formula membodohkan, namun tetap disayang. | Amanullah GW.

back to top