Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Ini tuntutan petani perempuan pada Hari Tani Nasional

Ini tuntutan petani perempuan pada Hari Tani Nasional

Jogkakarta-KoPi| Sekitar 50 perempuan yang tergabung dalam solidaritas perempuan Kinasih melakukan aksi di Tugu pukul 09.30-11.00 WIB. Solidaritas terdiri dari Perempuan Sahabat Merapi, Petani kota, Bantul, dan Kulonprogo.

Aksi tersebut memperingati 55 tahun Undang-Undang no 5 tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria, atau Hari Tani Nasional. Aksi terselenggara serentak di beberapa wilayah lain di Indonesia. Menurut Ketua Perempuan Sahabat Merapi, Ana semangat UU PA adalah untuk meruntuhkan ketidakadilan struktur agraria, yang berdampak langsung kepada perempuan.

"Perempuan dari solidaritas. Haknya selalu terampas dengan adanya penggusuran yang merugikan perempuan," jelas Ana di tengah aksi di Tugu pukul 10.00 WIB.

Ana memandang kondisi ekonomi saat ini menempatkan perempuan sebagai tulang punggung keluarga. Dengan jaminan pemerintah terhadap kesetaraan gender menguatkan peran perempuan berjuang di bidang pertanian. Peran perempuan petani ini juga mengkritik tergerusnya lahan pertanian masyarakat. Bahkan seringkali praktek alih fungsi lahan menimbulkan kriminalisasi terhadap perempuan.

"Peran perempuan menyikapi hak lahan. Kita ingin maju bersama jangan tertindas. Jangan sebagai kita yang punya lahan tapi hanya melihat (kepentingan kapitalis)," tambah Ana.

Tindak lanjut aksi ini, dari solidaritas akan meneruskan ke DPRD DIY tanggal 28 September mendatang. Agenda audiensi menyerukan beberapa poin. Berupa penegakan UUPA, tolak pembangunan mall/ toko berjejaring, hentikan alih fungsi lahan dan kembalikan kedaulatan tanah kepada perempuan. |Winda Efanur FS

back to top