Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Ini model dokter yang diperlukan oleh buah hati

Ini model dokter yang diperlukan oleh buah hati

"Anak-anak merupakan tubuh dan jiwa yang sangat peka. Bukan saja kulitnya yang terlalu lembut, namun hatinya terlebih lembut lagi. Ketika senang, mereka tidak kuasa menahan diri. Tertawa bebas, sekuatnya dan tanpa batas. Begitu jua, ketika sakit dan sedih, mereka mudah sekali menangis. Sangat keras, tajam mengiris perasaan yang mendengarnya. Pemahaman seperti inilah yang belum sungguh-sungguh terpateri pada jiwa dokter-dokter anak" (dr. Dini Adityarini, SpA., 2015)

KoPi| Erna (anomin), ibu muda usia tiga puluh satu tahun, usai memeriksakan anaknya di salah satu rumah sakit Kota Surabaya bercerita tentang anaknya yang sakit batuk tidak sembuh-sembuh. Dokter spesialis anak yang menanganinya hanya memeriksa tenggorokan, pernapasan, dan kemudian memberi resep obat. Tapi buah hatinya tersebut tetap batuk. Minum obat? Sulit sekali.

Konsultasi kedua dengan dokter tersebut, dia direkomendasi mengganti susu formula yang anti alergi. Ya, anaknya mengonsumsi susu formula karena kesibukannya. Menurut dokter tersebut kemungkinan dari susu formula. Erna menuruti nasehat tersebut, alhasil anak belum sembuh juga dari batuk. Rasanya sedih nian. 

Sampai suatu ketika ibu muda pemilik butik itu, pindah ke dokter anak lain di rumah sakit berbeda. Dokter anak tersebut bernama dokter Dini Adityarini, SpA. Erna mengatakan bahwa dokter Dini langsung menggendong cinta mungilnya. Beberapa saat dia terheran, buah hatinya itu tersenyum dan tertawa kecil di antara batuknya. Dokter Dini langsung memberinya rekomendasi besar.

"Mulai hari ini, berikan ASI saja tanpa sufor (susu formula, red)."

Pada awalnya, Erna terbengong. Tanpa obat? Dokter Dini menyatakan obat tidak akan bisa menyembuhkan jika sumber masalahnya adalah sufor itu sendiri. Kepada KoPi Erna menceritakan bahwa dirinya sangat padat urusan bisnis butik. Itu pula yang dikatakannya kepada dokter Dini. Namun dokter Dini memberinya pengertian detail, dan teknik-teknik mengambil ASI walaupun sibuk.

Kelembutan kepada kelembutan

Satu hal yang diperhatikan Erna, selain ketegasan serta kesabaran dokter Dini Adityarini, adalah kelembutan dalam perlakuan kepada buah hatinya. Dokter itu mau menggendong, mengajak bicara anaknya, dan bermain. Selama ini setiap bertemu dokter anak, seringkali hanya 'teknis' saja. Iya, mereka pandai tapi komunikasi pada pasien tidak cukup baik.

Setelah perbincangan dengan Erna, tim KoPi menghubungi dokter Dini Adityarini. KoPi tertarik sekali dengan pendekatan yang memang berbeda tersebut. Mengingat pada satu survey dari Proyeksi Indonesia, para dokter anak di Surabaya cenderung tidak komunikatif. Selain itu, dokter spesialis anak  berkerudung dengan penampilan selalu ceria memang paling dikenal di Kota Surabaya berdasar survey dari Proyeksi Indonesia.

Pada perbincangan dengan dokter Dini Adityarini, KoPi tidak menceritakan pertemuan dengan salah satu pasiennya. KoPi memberi beberapa pertanyaan terkait bagaimana dokter anak seharusnya memperlakukan pasien-pasiennya.

"Profesional itu tidak cukup. Ilmu hebat itu tidak cukup. Sebab anak masih sangat lembut luar dalamnya. Pengobatan adalah proses keseimbangan antara medis yang akurat dan komunikasi yang intim".

Komunikasi yang intim, menurut dokter Dini, adalah komunikasi yang menyentuh jiwa, hati, melalui pelukan, melalui kata-kata yang mengerti. Anak kecil, terutama balita, berkomunikasi dengan kelembutan itu. Sehingga komunikasi yang formal tidak akan memberi proses pengobatan sempurna.

Pengobatan sempurna bisa dilihat pada ketidaktakutan anak pada dokter, mendorong buah hati mau minum obat, dan mau makan. Komunikasi merupakan proses yang intim, antara dokter dan pasiennya, dalam hal ini para anak. Pada berbagai literatur penelitian sosiologi kesehatan, perilaku dokter sangat berpengaruh terhadap perilaku pasien. Termasuk perilaku membuka diri apa yang dirasakan dari sakitnya, dan semangat melakukan proses penyembuhan.

Dokter Dini Adityarini telah mencontohkan bagaimana semestinya dokter anak melakukan pengobatan. Dia menyebutnya sebagai kelembutan kepada kelembutan. Artikel-artikel ringan dan sangat bermanfaat darinya bisa diakses di www.dokter-dini.com. | Yusuf Perwira

 

 

back to top