Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Ini alasan dr. Rica terlibat Gafatar

Ini alasan dr. Rica terlibat Gafatar

Jogjakarta-KoPi| Seminggu terakhir masyarakat Jogja resah dengan merebaknya isu tentang Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Setelah pemberitaan hilangnya dokter asal Lampung dr. Rica Tri Handayani yang diduga terlibat organisasi tersebut.

Keterlibatan dr. Rica dengan organisasi Gafatar menjadi tanda tanya besar. Orang sekelas dokter dan memiliki pengetahuan tinggi bisa terjerat aliran yang diduga sesat ini.

Guru besar Psikologi UGM, Prof. Koentjoro, menilai keterlibatan dr. Rica pada gerakan Gafatar merupakan hal yang wajar. Pasalnya mereka menggunakan metode brain storming yang sangat halus. Mereka menerapkan metode dengan perlahan, hingga tanpa disadari oleh korban dirinya telah menyimpang.

"Masing-masing dengan metode cuci otak yang sangat halus, sedkit-demi sedikit, mereka terlena dan menyimpang", jelas Prof. Koentjoro saat ditemui di rumahnya pada tanggal 14 Januari 2016.

Prof. Koen menambahkan bertindak cerdas berkedok kegiatan sosial untuk menarik pengikut. Orang-orang berpendidikan tinggi mudah tertarik dengan kegiatan humanis. Baru setelah tertarik mereka mendoktrin ajarannya.

"Mereka percaya pulau Jawa akan tenggelam, sehingga mereka eksodus ke Kalimantan,"tambah Prof. Koen.

Korban kurang Kritis

Pencegahan seseorang dari pengaruh aliran sesat dengan benteng dari diri sendiri. Setiap orang harus bersikap kritis dengan ajaran baru. Orang tidak mudah menerima begitu saja pemahaman yang diajarkan oleh orang atau organisasi tertentu.

"(Orang yang terlibat), itu mereka pandai tapi tidak kritis,"kata Prof. Koen.

Menurut Prof. Koen orang-orang tersebut bersikap eksklusif mau terbuka dengan orang lain. Berdiskusi tentang keadaannya di dalam suatu organisasi. "Nah kebanyakan dari mereka (korban) kan menutup diri.”

Selain pencegahan internal, Prof. Koen mendesak negara serius menangani kasus aliran sesat. Negara cenderung terlambat mengantisipasi kasus aliran sesat.

Menurut Prof. Koen,"Sayang negara tidak hadir,dalam posisi mereka yang membelok. Padahal untuk menghilangkan aliran sesat membutuhkan kerjasama dari semua elemen. Meliputi lingkungan keluarga, masyarakat dan negara." |Winda Efanur FS|

back to top