Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Ini alasan dr. Rica terlibat Gafatar

Ini alasan dr. Rica terlibat Gafatar

Jogjakarta-KoPi| Seminggu terakhir masyarakat Jogja resah dengan merebaknya isu tentang Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Setelah pemberitaan hilangnya dokter asal Lampung dr. Rica Tri Handayani yang diduga terlibat organisasi tersebut.

Keterlibatan dr. Rica dengan organisasi Gafatar menjadi tanda tanya besar. Orang sekelas dokter dan memiliki pengetahuan tinggi bisa terjerat aliran yang diduga sesat ini.

Guru besar Psikologi UGM, Prof. Koentjoro, menilai keterlibatan dr. Rica pada gerakan Gafatar merupakan hal yang wajar. Pasalnya mereka menggunakan metode brain storming yang sangat halus. Mereka menerapkan metode dengan perlahan, hingga tanpa disadari oleh korban dirinya telah menyimpang.

"Masing-masing dengan metode cuci otak yang sangat halus, sedkit-demi sedikit, mereka terlena dan menyimpang", jelas Prof. Koentjoro saat ditemui di rumahnya pada tanggal 14 Januari 2016.

Prof. Koen menambahkan bertindak cerdas berkedok kegiatan sosial untuk menarik pengikut. Orang-orang berpendidikan tinggi mudah tertarik dengan kegiatan humanis. Baru setelah tertarik mereka mendoktrin ajarannya.

"Mereka percaya pulau Jawa akan tenggelam, sehingga mereka eksodus ke Kalimantan,"tambah Prof. Koen.

Korban kurang Kritis

Pencegahan seseorang dari pengaruh aliran sesat dengan benteng dari diri sendiri. Setiap orang harus bersikap kritis dengan ajaran baru. Orang tidak mudah menerima begitu saja pemahaman yang diajarkan oleh orang atau organisasi tertentu.

"(Orang yang terlibat), itu mereka pandai tapi tidak kritis,"kata Prof. Koen.

Menurut Prof. Koen orang-orang tersebut bersikap eksklusif mau terbuka dengan orang lain. Berdiskusi tentang keadaannya di dalam suatu organisasi. "Nah kebanyakan dari mereka (korban) kan menutup diri.”

Selain pencegahan internal, Prof. Koen mendesak negara serius menangani kasus aliran sesat. Negara cenderung terlambat mengantisipasi kasus aliran sesat.

Menurut Prof. Koen,"Sayang negara tidak hadir,dalam posisi mereka yang membelok. Padahal untuk menghilangkan aliran sesat membutuhkan kerjasama dari semua elemen. Meliputi lingkungan keluarga, masyarakat dan negara." |Winda Efanur FS|

back to top