Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Ini alasan dr. Rica terlibat Gafatar

Ini alasan dr. Rica terlibat Gafatar

Jogjakarta-KoPi| Seminggu terakhir masyarakat Jogja resah dengan merebaknya isu tentang Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Setelah pemberitaan hilangnya dokter asal Lampung dr. Rica Tri Handayani yang diduga terlibat organisasi tersebut.

Keterlibatan dr. Rica dengan organisasi Gafatar menjadi tanda tanya besar. Orang sekelas dokter dan memiliki pengetahuan tinggi bisa terjerat aliran yang diduga sesat ini.

Guru besar Psikologi UGM, Prof. Koentjoro, menilai keterlibatan dr. Rica pada gerakan Gafatar merupakan hal yang wajar. Pasalnya mereka menggunakan metode brain storming yang sangat halus. Mereka menerapkan metode dengan perlahan, hingga tanpa disadari oleh korban dirinya telah menyimpang.

"Masing-masing dengan metode cuci otak yang sangat halus, sedkit-demi sedikit, mereka terlena dan menyimpang", jelas Prof. Koentjoro saat ditemui di rumahnya pada tanggal 14 Januari 2016.

Prof. Koen menambahkan bertindak cerdas berkedok kegiatan sosial untuk menarik pengikut. Orang-orang berpendidikan tinggi mudah tertarik dengan kegiatan humanis. Baru setelah tertarik mereka mendoktrin ajarannya.

"Mereka percaya pulau Jawa akan tenggelam, sehingga mereka eksodus ke Kalimantan,"tambah Prof. Koen.

Korban kurang Kritis

Pencegahan seseorang dari pengaruh aliran sesat dengan benteng dari diri sendiri. Setiap orang harus bersikap kritis dengan ajaran baru. Orang tidak mudah menerima begitu saja pemahaman yang diajarkan oleh orang atau organisasi tertentu.

"(Orang yang terlibat), itu mereka pandai tapi tidak kritis,"kata Prof. Koen.

Menurut Prof. Koen orang-orang tersebut bersikap eksklusif mau terbuka dengan orang lain. Berdiskusi tentang keadaannya di dalam suatu organisasi. "Nah kebanyakan dari mereka (korban) kan menutup diri.”

Selain pencegahan internal, Prof. Koen mendesak negara serius menangani kasus aliran sesat. Negara cenderung terlambat mengantisipasi kasus aliran sesat.

Menurut Prof. Koen,"Sayang negara tidak hadir,dalam posisi mereka yang membelok. Padahal untuk menghilangkan aliran sesat membutuhkan kerjasama dari semua elemen. Meliputi lingkungan keluarga, masyarakat dan negara." |Winda Efanur FS|

back to top