Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Ini alasan dr. Rica terlibat Gafatar

Ini alasan dr. Rica terlibat Gafatar

Jogjakarta-KoPi| Seminggu terakhir masyarakat Jogja resah dengan merebaknya isu tentang Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara). Setelah pemberitaan hilangnya dokter asal Lampung dr. Rica Tri Handayani yang diduga terlibat organisasi tersebut.

Keterlibatan dr. Rica dengan organisasi Gafatar menjadi tanda tanya besar. Orang sekelas dokter dan memiliki pengetahuan tinggi bisa terjerat aliran yang diduga sesat ini.

Guru besar Psikologi UGM, Prof. Koentjoro, menilai keterlibatan dr. Rica pada gerakan Gafatar merupakan hal yang wajar. Pasalnya mereka menggunakan metode brain storming yang sangat halus. Mereka menerapkan metode dengan perlahan, hingga tanpa disadari oleh korban dirinya telah menyimpang.

"Masing-masing dengan metode cuci otak yang sangat halus, sedkit-demi sedikit, mereka terlena dan menyimpang", jelas Prof. Koentjoro saat ditemui di rumahnya pada tanggal 14 Januari 2016.

Prof. Koen menambahkan bertindak cerdas berkedok kegiatan sosial untuk menarik pengikut. Orang-orang berpendidikan tinggi mudah tertarik dengan kegiatan humanis. Baru setelah tertarik mereka mendoktrin ajarannya.

"Mereka percaya pulau Jawa akan tenggelam, sehingga mereka eksodus ke Kalimantan,"tambah Prof. Koen.

Korban kurang Kritis

Pencegahan seseorang dari pengaruh aliran sesat dengan benteng dari diri sendiri. Setiap orang harus bersikap kritis dengan ajaran baru. Orang tidak mudah menerima begitu saja pemahaman yang diajarkan oleh orang atau organisasi tertentu.

"(Orang yang terlibat), itu mereka pandai tapi tidak kritis,"kata Prof. Koen.

Menurut Prof. Koen orang-orang tersebut bersikap eksklusif mau terbuka dengan orang lain. Berdiskusi tentang keadaannya di dalam suatu organisasi. "Nah kebanyakan dari mereka (korban) kan menutup diri.”

Selain pencegahan internal, Prof. Koen mendesak negara serius menangani kasus aliran sesat. Negara cenderung terlambat mengantisipasi kasus aliran sesat.

Menurut Prof. Koen,"Sayang negara tidak hadir,dalam posisi mereka yang membelok. Padahal untuk menghilangkan aliran sesat membutuhkan kerjasama dari semua elemen. Meliputi lingkungan keluarga, masyarakat dan negara." |Winda Efanur FS|

back to top