Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Indonesia sudah di tepi krisis ekonomi Featured

Indonesia sudah di tepi krisis ekonomi
Surabaya – KoPi | Pengamat ekonomi dan pasar uang Farial Anwar mengatakan bahwa Indonesia sudah mengarah ke krisis ekonomi. Beberapa faktor telah mengindikasikan bahwa ekonomi Indonesia sudah berada di titik nadir. Farial menyalahkan sistem pasar modal Indonesia yang terlalu terbuka sebagai penyebabnya.
 

“Kita lihat sekarang, kurs rupiah jungkir balik, lalu pertumbuhan ekonomi triwulan pertama yang lebih  rendah dari perkiraan awal, defisit neraca perdagangan, dan harga komoditas andalan yang terus merosot,” ungkap Farial ketika menjadi pembicara dalam diskusi “Indonesia Di Ambang Krisis Ekonomi?” yang berlangsung di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.

Farial mengatakan, lemahnya kurs rupiah kali ini disebabkan beberapa faktor, antara lain karena masih adanya ketidakseimbangan ekonomi global. Saat ini guncangan akibat krisis ekonomi tahun 2012 masih terasa. Meskipun Amerika sudah mulai keluar dari resesi, namun beberapa negara di Eropa justru dilanda krisis fiskal. 

“Ekonomi Amerika sudah mulai pulih secara solid. Banyak pengamat yang memprediksi Amerika akan menaikkan suku bunga mereka untuk memperkuat mata uang dollar,” tutur Farial.

Resesi yang dialami Jepang dan pertumbuhan ekonomi China yang melambat ikut menambah beban mata uang rupiah. Konsumsi produk jadi, manufaktur, perumahan, dan investasi di China juga ikut turun. Padahal selama ini, China adalah tujuan utama ekspor Indonesia.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga masih di luar ekspektasi awal. Pada triwulan pertama 2015, ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 4,7%, meleset dari target semula yang sebesar 5,5%.

Farial menyatakan, saat ini banyak investor yang kehilangan kepercayaan pada pemerintahan Jokowi-JK. Padahal awalnya mereka sangat optimis pemerintahan Jokowi bisa memperbaiki ekonomi Indonesia. 

“Kenyataannya, banyak menteri Jokowi yang tak layak jadi menteri. Banyak kebijakan mereka yang tidak terealisasi. Bahkan beberapa menteri tidak bisa membuat anggaran,” keluhnya. Farial sendiri berharap ada reshuffle kabinet, yang akan mengganti menteri-menteri titipan dengan orang-orang yang bisa bekerja.

 

back to top