Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Indonesia memerlukan UU Perlindungan Agama

Indonesia memerlukan UU Perlindungan Agama

Jogjakarta-KoPi|Suatu anugerah dan tantangan tersendiri bagi Indonesia memiliki multi agama dan kepercayaan. Menurut undang-undang, Indonesia hanya mengakui enam agama yaitu, Islam, Katolik, Kristen, Budha, Hindhu, dan Konghucu.

Di luar itu kementrian agama mencatat adanya agama nusantara yang terdiri dari 245 aliran dan kepercayaan. Kondisi multi agama dan kepercayaan ini mengarahkan Indonesia rawan tindakan intoleran. Dialog kebersamaan turut diupayakan guna menekan aksi radikal kelompok tertentu. Bahkan ikon kota Jogjakarta “Berhati Nyaman” tercoreng setelah mendapat ranking 2 kota intoleran se-Indonesia.

Menurut Koordinator Nasional Sobat KBB (Solidaritas Korban Pelanggaran Kebebasan Beribadah dan Berkeyakinan), Pendeta Palti Panjaitan, sangat penting mengadakan dialog bersama lintas agama. Dialog ini upaya untuk menentukan visi dan misi kehidupan keagamaan ke depan.

Pendeta Palti yang menjadi narasumber “Dialog Keagamaan RUU Perlindungan Umat Beragama” di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta siang tadi berharap masyarakat bisa membangun iklim komunikasi antar agama.

“Banyak kasus kekerasan agama terjadi karena kurangnya dialog, bisa dilihat banyak spanduk yang mengatakan anti Syiah dan beberapa aksi lain. Seperti aksi ISIS itu tidak termasuk agama. Saya tahu agama Islam dan tidak seperti itu. Tujuan semua agama untuk mencapai perdamaian”, tutur Pendeta Palti.


Untuk mencapapai cita-cita bersama tersebut kini DPR tengah menggodok RUU tentang Kerukunan umat beragama yang sudah masuk program kerja nasional. Namun menurut Pendeta Palti ada kekurangan terhadap RUU Kerukunan Umat Beragama (KUB).

“RUU Perlindungan ini baru wacana dari Kementrian Agama RI tapi belum masuk prolegnas. Kenapa muncul usul RUU baru karena menurut saya dari kata kerukunan juga bermasalah. Berati ada yang nggak ‘rukun’ itu. Jika perbedaan tidak dikelola memang selalu akan tidak rukun. Jadi kata perlindungan itu yang tepat. Itu tafsiran saya”, papar Pendeta Palti.

Pendeta Palti menambahkan RUU Perlindungan Umat Beragama nantinya harus mengakui tidak hanya enam agama saja tetapi mengakui keberadaan agama nusantara lainnya. Pasalnya setiap orang bebas memiliki agama sesuai pasal 29 UUD 1945. |Winda Efanur FS|

back to top