Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Indonesia, masyarakat sampah (?)

Indonesia, masyarakat sampah (?)

Kedu-KoPi. Puasa ramadhan usai dan datanglah hari Idul Fitri yang menjadi 'puncak' perjalanan ruhani kaum muslimin seluruh dunia. Masyarakat Indonesia merayakannya penuh suka cita. Saling bermaafan adalah cara yang membahagiakan. Sungguh khusuk dan tenang. Namun suara ledakan keras berkali-kali menyayat kekhusukan, dari arah ruas jalanan dan pojok-pojok kota.

Ada yang 'merayakan' hari suci itu dengan ledakan-ledakan mercon. Mereka menciptakan suasana ketakutan pada orang lain, daripada memberi kemeriahan. Menciptakan kengerian daripada menegur sapa menyenangkan. Tidak sedikit kecelakaan akibat mercon mengakibatkan korban luka dan jiwa.

"Saya sih suka-suka aja. Rasanya senang dengar suara keras." Sahut Eko, pemuda berusia 20 tahun, di Kota Magelang ketika ditanya mengapa suka bermain mercon. Dia tidak menjawab ketika ditanya tentang bahaya mercon pada diri sendiri dan orang lain.

Setelah berpesta mercon, sampah berserakan. Kertas-kertas kemasan mercon bertebaran. Tak ada yang peduli. Lingkungan tampak kotor dan suram. Sosiolog dari Universitas Airlangga, Dr. Tuti Butirahayu, memprihatinkan fenomena sosial mercon tersebut.

"Sebagian masyarakat Indonesia tidak memiliki nilai menghargai dan menghormati orang lain. Ada krisis ketidakpedulian pada kesadaran kolektif masyarakat. Mercon itu membahayakan orang lain, namun para pelaku tidak peduli".

Doktor pakar sosiologi pendidikan dan perilaku menyimpang ini juga menyatakan bahwa perilaku menyalakan mercon dan sampah berserakan merupakan tanda krisis kolektif. Itu bukan saja fenomena kenakalan namun terkait faktor habit (kebiasaan) dari setiap level kepemimpinan sosial.

"Perlu pendidikan lebih sistematif tentang saling menghormati di ruang publik. Pendidikan menjadi efektif jika para pemimpin sosial bersedia menjadi guru dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan, bukan malah menjadi pelaku perilaku menyimpang".*

 

Reporter: Winda Nur

 

back to top