Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Indonesia, masyarakat sampah (?)

Indonesia, masyarakat sampah (?)

Kedu-KoPi. Puasa ramadhan usai dan datanglah hari Idul Fitri yang menjadi 'puncak' perjalanan ruhani kaum muslimin seluruh dunia. Masyarakat Indonesia merayakannya penuh suka cita. Saling bermaafan adalah cara yang membahagiakan. Sungguh khusuk dan tenang. Namun suara ledakan keras berkali-kali menyayat kekhusukan, dari arah ruas jalanan dan pojok-pojok kota.

Ada yang 'merayakan' hari suci itu dengan ledakan-ledakan mercon. Mereka menciptakan suasana ketakutan pada orang lain, daripada memberi kemeriahan. Menciptakan kengerian daripada menegur sapa menyenangkan. Tidak sedikit kecelakaan akibat mercon mengakibatkan korban luka dan jiwa.

"Saya sih suka-suka aja. Rasanya senang dengar suara keras." Sahut Eko, pemuda berusia 20 tahun, di Kota Magelang ketika ditanya mengapa suka bermain mercon. Dia tidak menjawab ketika ditanya tentang bahaya mercon pada diri sendiri dan orang lain.

Setelah berpesta mercon, sampah berserakan. Kertas-kertas kemasan mercon bertebaran. Tak ada yang peduli. Lingkungan tampak kotor dan suram. Sosiolog dari Universitas Airlangga, Dr. Tuti Butirahayu, memprihatinkan fenomena sosial mercon tersebut.

"Sebagian masyarakat Indonesia tidak memiliki nilai menghargai dan menghormati orang lain. Ada krisis ketidakpedulian pada kesadaran kolektif masyarakat. Mercon itu membahayakan orang lain, namun para pelaku tidak peduli".

Doktor pakar sosiologi pendidikan dan perilaku menyimpang ini juga menyatakan bahwa perilaku menyalakan mercon dan sampah berserakan merupakan tanda krisis kolektif. Itu bukan saja fenomena kenakalan namun terkait faktor habit (kebiasaan) dari setiap level kepemimpinan sosial.

"Perlu pendidikan lebih sistematif tentang saling menghormati di ruang publik. Pendidikan menjadi efektif jika para pemimpin sosial bersedia menjadi guru dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan, bukan malah menjadi pelaku perilaku menyimpang".*

 

Reporter: Winda Nur

 

back to top