Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Indonesia masih sekedar menjadi pasar

Indonesia masih sekedar menjadi pasar

Jogja-KoPi| Pengolahan produk pertanian di Indonesia masih kalah bersaing dengan produk negara tetangga yaitu Thailand dan Vietnam. Indonesia akhirnya dituntut meningkatkan efisiensi dan kreatifitas pekerja dan pengusaha agar memberi perubahan yang signifikan ke depan. Demikian Bambang Kristianto mengatakan selaku Ketua Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta di ruang pertemuan kantor BPS Jl. Ringroad Utara (01/12).

Menurut Bambang Kristianto masyarakat Yogyakarta diakui kreatif, hingga saat ini produksi kreatif di Yogja berkembang cukup signifikan, baik dari kesenian, kerajinan, dan budaya merupakan produk yang sudah memiliki identitas membanggakan dalam persaingan pasar global.

Namun, di sisi lain, produk pertanian cenderung masih grogi dalam persaingan yang terjadi di tingkat internasional.

"Jelasnya kondisi pertanian Indonesia kini masih kalah saing dengan pertanian negara tetangga yang cenderung lebih efisien dalam memajukan hasil pertaniannya seperti kedelai, buah-buahan, dan sayuran hingga saat ini," tambah Bambang.

Pada bulan November perkembangan nilai tukar petani (NTP) terjadi kenaikan sebesar 0,19% dibanding dengan indeks bulan sebelumnya. Naiknya indeks NTP gabungan pada bulan ini disebabkan oleh naiknya sub sektor tanaman perkebunan rakyat, subsektor hortikultura, dan sunsektor tanaman pangan.

Indek Harga Konsumen (IHK) di daerah pedesaan DIY mengalami kenaikan inflasi cukup siknifikan sebesar 0,65% dibanding bulan sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa sektor diantaranya naiknya indeks kelompok bahan makanan sebesar 1,15%, makanan jadi (Rokok, tembakau, minuman) naik sebesar 0,81%, kelompok kesehatan naik sebesar 0,40%, kelompok perumahan naik sebesar 0,28%, kelompok sandang naik 0,20%, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga naik 0,06% dan kelompok transportasi dan komunikasi mengalami kenaikan 0,05%.

Data di atas menjelaskan bahwa peningkatan nilai indeks konsumen di daerah Yogyakarta mengalami kenaikan inflasi yang cukup signifikan. Hal ini menunjukan bahwa daya tukar produk yang dihasilkan lebih murah dengan produk yang dibutuhkan petani dalam rumah tangga. Selain itu, setiap bulan sektor Nilai Tukar Petani mengalami kenaikan maka nilai impor petani akan mengalami penurunan.

“Ditegaskan kembali ketika kita melihat tarif nol dalam impor beras, itu memang tercatat lebih murah, tapi dampaknya untuk negara jelas akan pengeluaran devisa negara yang cukup besar untuk melaksanakan impor”, ujar Bambang.

“Hal ini berarti bangsa Indonesia memberikan penghidupan bagi petani negara lain, sedangkan bagi petani dalam negeri, nilai jual hasil produksi pertanian lokal akan mengalami penurunan besar-besaran di pasaran”, tambah Bambang.

Inovasi dan kreatifitas dalam perusahaan dan pertanian kedepan harus ditingkatkan agar dapat bersaing dengan pasar Thailand dan Vietnam dengan hasil indeks 60 % lebih meningkat dari indonesia.

Faktor yang berpengaruh saat ini, Indonesia tidak bisa kerja keras seperti negara sebelah, jadi di Indonesia hanya dijadikan sebagai negara pasar (pemasok dan penjual) yang menyebabkan meningkatkan nilai efisiensi menjadi cukup tinggi dibanding negara tetangga (Thailand dan Vietnam). |Cucuk Armanto|

back to top