Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Indonesia masih jauh dari kebangkitan Featured

Indonesia masih jauh dari kebangkitan
Surabaya - KoPi | 20 Mei merupakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Deklarasi mengenai kebangkitan ini didasarkan pada tanggal berdirinya perkumpulan yang dinamakan Budi Oetomo. Budi Oetomo sendiri lahir atas miskinnya pendidikan bangsa Indonesia yang telah dijajah ratusan tahun oleh Belanda.

Perkumpulan tersebut bertujuan untuk mencapai sesuatu berdasarkan keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat, dan juga kemahiran. Namun, apakah indonesia telah bangkit secara utuh saat ini?

Menurut pandangan masyarakat Surabaya, Indonesia masih jauh dari kebangkitan. Yogi, selaku karyawan swasta di Surabaya menilai kebudayaan negatif yang tertanam di masyarakat Indonesia membuat Indonesia sulit untuk bangkit.

“Korupsi, kekerasan, sering melakukan kesalahan yang sama adalah bentuk bahwa Indonesia sama sekali belum bangkit. Dan masih jatuh terpuruk,” ujarnya.

Pak Suleman, tukang becak yang biasa beroperasi di kawasan Stasiun Gubeng Surabaya juga menilai bahwa Indonesia sama sekali belum bangkit. “Bangkit dari mana toh Mbak, orang susah kayak saya saja masih banyak. Sudah bangkit itu kalau masyarakatnya makmur, sejahtera, gak ada orang miskin,” ujar Suleman.

Lain lagi dengan Rahma, mahasiswi sebuah universitas di Surabaya yang menilai Indonesia sedang tahap proses menuju kebangkitan. Adanya sistem penerapan yang baik merupakan jalan untuk mengangkat Indonesia dari keterpurukan.

“Sedang bangkit, tidak terlalu terpuruk tapi belum tegak. Makanya pejabat-pejabat dibangkitkan moral dan etikanya, karena mereka itu contoh. Jadi ketika kebangkitan moral mereka sudah ada, mental masyarakat akan mengikuti,” ujar Rahma.

Apakah Hari Kebangkitan Nasional di Indonesia hanya tameng belaka? Tameng bahwa Indonesia pernah bangkit, sedangkan saat ini justru semakin terpuruk. Mentalitas masyarakat dan pejabat diyakini sebagai penyebab Indonesia masih jauh dari kebangkitan.

“Seharusnya Hari Kebangkitan Nasional itu tidak sekedar disuarakan hanya dalam satu hari besar. Setiap hari seharusnya pemimpin Indonesia menyuarakan untuk bangkit. Kalau cuma dijadikan hari besar seperti ini, justru membuat semangat bangkit hanya muncul setahun sekali,” lanjut Rahma. | Labibah

back to top