Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Indonesia darurat, Jokowi atau Prabowo penyelamat?

foto: www.pemilu.com foto: www.pemilu.com

KoPi bekerjasama dengan Sociology Center Departemen Sosiologi Unair memberikan refleksi kepemimpinan politik Indonesia terkait acara Simposium Ilmuwan Sosial pada akhir bulan Juni ini. Berikut adalah paparan konsep Simposium Ilmuwan Sosial Indonesia yang membedah masalah-masalah masyarakat yang harus dihadapi dan dipecahkan oleh para pemimpin politik Indonesia ke depan.

***

Perubahan dari kondisi kekinian menjadi kondisi lebih baik pada masa depan bangsa Indonesia merupakan proses politis darikepemimpinan transformatif.Kepemimpinan transformatif merealisasikan mandat konstitusi, menegakkan keadilan berbasis hukum, dan mengaktualisasi nilai demokrasi. Praktek politik kepemimpinan transformatif tersebut merupakan formulasi yang akan menjawab kompleksitas permasalahan Indonesia.

Kompleksitas permasalahan muncul melalui isu kemiskinan, konflik kekerasan, ketidakadilan hukum, kondisi buruk infrastruktur, korupsi dan rendahnya integritas birokrasi dalam pelayanan publik. Pertanyaan paling dasar pada isu ini adalahbagaimana para pemimpin politik menjalankan kepemimpinan transformatif menjawab kompleksitas permasalahan tersebut dalam konteks sosiologi masyarakat Indonesia?

Kompleksitas permasalahan Indonesia menunjukkan kualitas kehidupan yang masih belum sesuai dengan harapan ideal konstitusi. Angka kemiskinan menurut BPS dari maret 2013 ke September 2013 meningkat dari 28,07 juta orang menjadi  28,55 juta orang.Jika menggunakan standar World Bank jumlah kemiskinan melampaui angka versi BPS tersebut, yaitu hampir 50 persen penduduk Indonesia pada garis kemiskinan.

Pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin melalui sistem BJPS masih bermasalah secara konsep dan implementasi. Kritik, keluhan, dan ketidakpuasan baik dari para dokter dan masyarakat merupakan indikator betapa sistem pelayanan kesehatan masih berantakan. Masalah perlindungan terhadap kelompok-kelompok beragama dan keyakinan juga masih belum kuat. Konflik kekerasan dengan isu etnisitas, keagamaan, dan golongan masih sering terjadi dengan korban jiwa dan material sangat besar. 

Korupsi menjadi salah satu masalah paling fundamental yang menggerogoti tubuh Indonesia. Sebagian pihak memandang korupsi sebagai inti penyakit dari kompleksitas permasalahan bangsa. Ketika pemilu presiden 2004 dan 2009 melahirkan kepemimpinan nasional, harapan masyarakat luas kepemimpinan politik nasional mampu menangani masalah korupsi. Namun demikian, sampai saat ini korupsi masih belum bisa dikurangi secara signifikan. Pada tahun 2013, Transparency International merilis indeks persepsi korupsi 177 negara dunia.

Indonesia mendapat skor 32 yang bermakna masih dalam kategori sangat korup. Wacana sosiologi korupsi menelaah bahwa salah satu sebab pemberantasan korupsi yang lemah adalah unsur sistem sosial Indonesia yang tidak memungkinkan terealisasinya penegakan hukum berbasis keadilan.

Indonesia membutuhkan model kepemimpinan transformatif untuk mengurai dan menangani kompleksitas permasalahan. Namun demikian, kepemimpinan transformatif adalah konsep ideal yang harus berhadapan dengan konteks sosiologi masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu.

Sosiologi Indonesia merupakan realitas jejaring kelompok-keleompok kepentingan, kontestasi ideologis, konflik nalar masyarakat terhadap sistem kekuasaan negara (demokrasi), dan fragmentasi primordialisme sosial. Kemiskinan, pembangunan, konflik kekerasan, dan korupsi merupakan tesis dari kepemimpinan politik dengan konteks sosiologi masyarakat Indonesia tersebut. Bagaimana kepemimpinan mampu memanifeskan praktek politik transformatif di belantara sosiologi masyarakat Indonesia?

Para ilmuwan sosial Indonesia akan berkumpul di Universitas Airlangga dan menantang para pemimpin politik memperlihatkan kualitas kepemimpinan mereka secara akademik dalam menjawab kompleksitas permasalahan Indonesia tersebut. Apakah mereka berani?*

*Tim Sociology Center Unair

back to top