Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Indonesia dan Australia tak sanggup memiliki hubungan buruk

Indonesia dan Australia tak sanggup memiliki hubungan buruk

Kupang-KoPi| Secara geografis Indonesia dan Australia saling berdampingan menjadikan kedua Negara tetangga terdekat. Semestinya hal ini merupakan sebuah peluang paling baik untuk melakukan kerja sana yang saling melengkapi dan menguntungkan bagi kedua negara demi memenuhi tuntutan kepentingan nasional masing-masing.

Hal tersebut dikemukakan mantan agen imigrasi Australia Ferdi Tanoni kepada wartawan di Kupang, Ahad (18/10) menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi bahwa “Indonesia tidak sanggup memiliki hubungan yang buruk dengan Australia”.

Pernyataan Menlu Retno Marsudi ini, sebagaimana yang dikutip harian termuka Australia The Sydney Morning Herald edisi Sabtu 17/10,dengan judul “We Can’t Afford to Have Bad Relations with Australia: Indonesian Foreign Minister” (Kami tidak sanggup memiliki hubungan yang buruk dengan Australia: Menteri Luar Negeri Indonesia.

Ferdi Tanoni, peraih tunggal “2013 Civil Justice Award” dari Australian Lawyers Alliance” (Penghargaan Bagi Keadilan Masyrakat Sipil dari Aliansi Pengacara Australia) ini memberikan tanggapannya bahwa, pernyataan Menlu Retno Marsudi mungkin benar bila dilihat dari sisi kenangan dan hubungan pribadi beliau dengan Australia, berhubung pernah bertugas sebagai diplomat Indonesia di Canberra.

"Tapi, bagi kami rakyat Timor Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur merasa bahwa kami telah dikorbankan oleh berbagai kebijakan nasional dan internasional terutama dalam hubungan antara Jakarta dan Canberra. Sebuah hubungan baik antara Australia dan Indonesia menurut kami, Jakarta dan Canberra harus mampu mengelola kepentingan bersama demi martabat dan kepentingan nasional kedua negara, dimana hubungan itu tidak boleh hanya menguntungkan salah satu pihak saja,” tegas Tanoni.

Menurut Ferdi Tantoni, Canberra dan Jakarta harus mampu dan bersedia di dalam kejujurannya untuk melaksanakan apa yang ia sebut sebagai kerja sama yang saling menguntungkan di semua bidang tanpa kecuali demi kepentingan kedua Negara.

”Bagi kami di Timor Barat, seluruh perjanjian bilateral di masa lalu antara Indonesia dan Australia hingga saat ini hanya memberikan keuntungan sepihak saja kepada Australia saja,” lanjut Tanoni.

Ia menambahkan, pernyataan Menlu RI bahwa Indonesia tidak mampu memiliki hubungan buruk dengan Australia sangat tidak tepat, karena Australia juga tidak memiliki hubungan yang buruk dengan Indonesia, dikarenakan secara geografis Indonesia merupakan negara tetangga terdekat Australia.

Tanoni penulis buku "Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Politik Ekonomi Canberra-Jakarta" ini memberikan contoh sederhana,mengapa dia mengatakan bahwa Australia lah yang memperoleh keuntungan lebih dari Indonesia dalam hubungan kerja sama kedua Negara yang dibangun selama ini.

1. MoU 1974 tentang hak-hak nelayan tradisional di Gugusan Pulau Pasir (nama asli dari pulau-pulau itu), kemudian Australia merubah nya dengan memberi nama Ashmore Reef dan sekarang Asmore Islands. Australia menggunakan MoU ini sebagai senjata pamungkas mereka untuk memberangus para nelayan tradisonal Indonesia yang telah menjadikan wilayah tersebut sebagai tempat mata pencaharian mereka turun temurun sejak kurang lebih 500 tahun silam.

Di sisi lain pihak Australia menolak untuk menggunakan MoU 1996 tentang “Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat terhadap Tumpahan Minyak di Laut untuk menyelesaikan Petaka Tumpahan Minyak Montara di Laut Timor 2009".

2. Perjanjian RI- Australia tentang Zona Eksklusif dan Batas-Batas Dasar Laut Tertentu di Laut Timor, yang hingga saat ini belum diratifikasi, namun Australia telah menggunakan perjanjian ini secara sepihak untuk menganeksasi wilayah yang sangat kaya akan migas tersebut. Sementara Indonesia (Jakarta) hanya bisa berdiam diri saja atas tindakan sepihak Australia ini. Indonesia dan Australia harus secara jujur mengakui bahwa perjanjian ini tidak berlaku dan tidak bisa diberlakukan karena tidak valid lagi segera setelah terjadi sebuah perubahan geopolitikngat yang s signifikan di wilayah Laut Timor dengan lahirnya sebuah Negara baru TIMOR TIMUR.

"Apakah semua tindakan Australia ini dikatakan adil bagi rakyat ,bangsa dan negara Indonesia?" tanya Tanoni.

Namun demikian,tambah Tanoni bagaimanapun sebagai orang NTT, dia berterima kasih kepada Menlu Retno Marsudi yang tetap mau menjaga hubungan baik dengan Australia.

"Dan mungkin kami rakyat Timor Barat dan Nusa Tenggara Timur merupakan orang-orang yang paling bahagia bila hubungan Indonesia-Australia ini tetap baik dan saling melengkapi serta menguntungkan bagi kedua bangsa dan Negara. Berhubung kami merupakan bagian wilayah terdekat Indonesia dengan Australia, dan Australia mengakui wilayah kami ini sebagai halaman belakang rumah mereka," demikian pungkas Ferdi Tanoni. |Leo|

back to top