Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Imam ini bagi resep sadarkan rekrutan ISIS

Imam ini bagi resep sadarkan rekrutan ISIS
KoPi | Ancaman ISIS bukanlah aksi mereka yang biadab saja. Ancaman utama yang mereka tebarkan adalah mengajak kaum Muslim untuk menjadi seperti mereka. Itulah yang disadari Imam Mohammad Magid, ketua imam di masjid terbesar ke-tiga di Amerika.
 

Imam Magid telah membantu bimbingan konseling pada beberapa remaja yang ingin bergabung dengan ISIS. Bagaimana cara ia menyadarkan pemuda-pemuda tersebut?

Ternyata kuncinya sederhana, ajak bicara mereka dengan menggunakan logika. Imam Magid mengatakan ISIS mengintepretasikan Al-Quran dan sejarah Islam secara menyimpang. Namun, intepretasi mereka tersebut mudah sekali dibongkar. Ini beberapa poin pikirannya.

 

Ayat-ayat Al-Quran mengutuk perbuatan ISIS

Imam Magid pernah bertanya pada beberapa pemuda yang ingin bergabung dengan ISIS, "Dapatkah  kamu menjelaskan pada saya, di ayat mana Islam memperbolehkan membakar hidup-hidup seseorang?". Ternyata mereka tidak dapat menjawab. "Tidak ada bukti dari Al-Quran atau ajaran Nabi Muhammad SAW yang memperbolehkan membakar orang hidup-hidup. Ada bukti melawan hal itu!" tukasnya.

Apakah kalian pernah membantu sesama Muslim

ISIS selalu menggunakan alasan ini untuk mengajak umat Islam bergabung dengan mereka. Imam Magid mengatakan para pemuda sering mendatangi mereka dan mengatakan bahwa umat Muslim di seluruh dunia dipermalukan dan ditindas. "Jadi saya tanya pada mereka, apakah ISIS benar-benar membantu mereka? ISIS membunuh lebih banyak umat Muslim daripada organisasi lain... Mengapa kalian tidak menjadi bagian untuk membantu mereka yang menderita, seperti yang kami lakukan di Fairfax. Kami mengumpulkan selimut selama musim dingin dan mengirimkannya ke pengungsi Suriah," ujar Imam Magid.

ISIS adalah tanda tanya besar

Satu hal lain yang sering dikatakan Imam Magid adalah bagaimana umat Islam seharusnya memperlakukan ibu mereka. "Saya tanya, bukankah jelas dikatakan bahwa kalian harus merawat ibu kalian? Karena itu senangkanlah Allah dengan menjaga ibu kalian. Menyenangkan Allah dengan bergabung dengan ISIS itu tanda tanya besar," tutur Imam Magid.

 

Imam Magid mengatakan para pemuda yang menjalani bimbingannya merupakan kelompok yang rawan. Ia menyamakan mereka dengan pemuda-pemuda yang bergabung dengan geng. Mereka adalah orang-orang yang memiliki masalah dengan kesehatan mental. Peran masjid dan ulama adalah membantu pihak keamanan untuk mencegah bahaya tersebut. 

"Saya tidak mengerti mengapa orang-orang tidak mempertimbangkan faktor kesehatan mental ketika berhubungan dengan umat Muslim. Mereka pikir umat Muslim tidak bisa jadi gila? Jika ada pemuda non-Muslim melakukan sesuatu yang salah, hal pertama yang mereka lakukan adalah mengevaluasi kesehatan mental mereka. Tapi pada umat Islam? Tidak pernah!" tukasnya. | ThinkProgress.org

back to top