Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Hotel-hotel di Surabaya yang bikin sengsara

Hotel-hotel di Surabaya yang bikin sengsara
Surabaya-KoPi| Pembangunan Hotel di Surabaya semakin hari menimbulkan banyak permasalahan. Dampak pembangunan yang berbondong-bondong tersebut menimbulkan kemacetan. Di Jl. Basuki Rahmat, Jl. Tunjungan dan Jl. Embong Malang, misalnya, merupakan pusat kota yang terkena dampak kemacetan sangat berarti.

Sejak tahun 2014, Surabaya ditambahi 16 hotel dengan 2.185 kamar. Kebijakan ini dilandasi dengan terjadinya lonjakan jumlah kedatangan wisatawan asing dan domestik di Surabaya. Menurut Jamhadi, selaku Ketua Kadin Surabaya pada tahu 2012 pembangunan hotel yang terus menerus merupakan upaya dalam menjadikan kota Surabaya sebagai kota penyangga untuk kabupaten dan kota di sekitarnya.

Namun,  menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, tingkat pertumbuhan kunjungan ke Surabaya setiap tahunnya berkisar 10 persen. Sementara, pertumbuhan hotel di Surabaya berkisar 20 hingga 30 persen setiap tahunnya.

Hal ini menyebabkan terjadinya ketimpangan pertumbuhan hotel dengan kebutuhannya. Maka yang terjadi adalah dampak negatif dengan adanya pembangunan tersebut. Menurut M. Soleh selaku ketua perhimpunan hotel dan restoran Indonesia, saat ini jumlah hotel yang berada di pusat kota sudah berada dibatas kewajaran.

Sehingga, menurutnya Pemkot Surabaya seharusnya sudah menolak perijinan pembangunan hotel di Surabaya dan mengalihkannya ke pinggiran kota di Surabaya.

Namun pemerintah lupa dalam menangani permasalah kemacetan dan dampak ketidakmerataan perekonomian di Surabaya. Pembangunan hotel yang bertajuk menyokong perekonomian Surabaya kemudian melupakan perekonomian warga kecil di sekitarnya. 

back to top