Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Hijrahnya kabinet "ngantukan"?

Ilus: ds priyadi Ilus: ds priyadi

Oleh DS Priyadi


Setelah dibolak-balik dalam wajan penggorengan pak presiden, kita kini punya "Kabinet Kerja". Nama kabinet yang gurih. Semoga sesuai harapan kita semua. Ya, kabinet yang bekerja. Dan tentu, untuk kemaslahatan rakyat Indonesia Raya. Nama yang lebih memancing husnudzon kita semua. 

Husnudzon di sini jadi pilihan super aman, nyaman serta sarat harapan. Sebab ia melampaui kegelisahan kritis kita yang sering beringsut menjadi 'gregetan'. Artinya, tak selamanya husnudzon bernilai sebagai topeng wagu atas miskinnya wacana dan sikap jirih kita. Meski ini jarang terjadi, adakalanya husnudzon justru merupakan sublimasi kesadaran yang berhasil lolos membaca pelbagai perkara sengit dengan sikap yang bijak tentram.

Demikian pula dalam melihat Kabinet Kerja yang berada dalam kurang lebihnya. Ia tak mungkin perfect. Formulanya justru menyuguhkan banyak ruang komen. Dan sebagian kita memaklumi, bahwa proses menggoreng kabinet sulit terlepas dari kompromi dan intervensi. Ia tak dianggap racikan ideal yang bisa menjadi terminal perhentian segala selera.

Di sinilah keputusan pak Jokowi diuji. Beliau memang jago bikin teka-teki. Terpilihnya beliau menjadi presiden, membuktikan bahwa beliau bukan politisi yang "wantah". Dengan cekatan beliau membukakan pintu bagi KPK untuk setor rapot bagi calon menterinya. Beliau mempersilakan kita semua mengintip rapot itu. Dan setelah pengumuman kabinet, relawan langsung berdemo menolak menteri yang nilainya jeblok.

Tentu beliau tahu. Mungkin lebih dari tahu. Ada semacam "game" di situ. Dan beliau amat lihai memainkannya. Adakah proses penggorengannya belum rampung? Kita tak tahu. Kita hanya mampu menduga: mungkin terlalu banyak ketegangan di dalamnya.

Mungkin. Karena betapapun kita mencium aroma tegang itu, toh kita selalu disuguhi intermezo yang segar. Bu Susi, bu Menteri Kelautan dan Perikanan yang baru itu, yang kabarnya bertato itu, yang konon hanya tamatan SMP itu, yang usai pengumuman kabinet jebas-jebus dengan sigaretnya saat diwawancara para kuli tinta, langsung jadi trending topic berita dalam dunia maya maupun dunia nyata. Eksentrisitas yang bikin kita lebih baik terhibur daripada merengut membebani diri dengan sanggahan nilai yang begini dan begitu. Supaya kita tidak cepat tua!

Setelah itu kita kembali pada ketidaktahuan kita. Karena faktanya Kabinet Kerja memang menyimpan segudang tanya. Di situ tak ada nama bung Ara. Tak ada pula nama pak Dahlan di dalamnya. Cak Imin apalagi. Tak ada si ini dan si itu yang kita tidak tahu sebab persisnya. Kita hanya punya data dari seabreg media yang belum teruji kesahihannya.

Yang kita tahu, bahwa Kabinet Kerja diumumkan pada 26 Oktober 2014, bertepatan dengan tahun baru Hijriah 1436. Akankah momentum tahun baru Hijriah itu disengajakan sebagai simbolisme hijrahnya kabinet "ngantukan" menuju kabinet yang akan bekerja sungguhan?

Hm! Betapa kita semua berharap demikian. Tapi belum lagi mendapatkan pencerahan, tiba-tiba kita dikagetkan 7 pertanyaan tandas mas Ibas yang kudu dijawab oleh pak presiden. Kita mungkin gedeg-gedeg karena selama ini mengenal mas Ibas gak suka banyak bicara. Yang repot, kita jadi kebawa turut bertanya serupa, dan turut kebawa pula meraba-raba jawabannya.

Lalu, sementara semua masih ambigu, kita disuguhi gosip paling "gress" bahwa kodok pak Jokowi mati persis setelah beliau mengumumkan nama-nama kabinet. Padahal belum tuntas kita menyibak misteri pasukan lelembut yang mengiringi pelantikan beliau tempo hari. Kepala kita jadinya mirip angkringan, yang berisi lalu-lalang obrolan dan fantasi tanpa tepi.

Mari sareh! Bukankah diam-diam kita semua hepi karena merasa dilibatkan meski hanya sebagai figuran? Ssebagai figuran kita musti berusaha mawas diri dan bersabar hati menunggu aktor-aktor penting yang memiliki skala prioritas spesial dan selalu didahulukan. Padahal tugas kita sama berlipatnya. Kita harus kerja, kerja, kerja dan kerja! Kita harus canggih mengendurkan syaraf: nyawang mereka dengan hati terbuka dan baik sangka.

Yogya, 27 Okt 2014

back to top