Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Heri Pemad: ArtJog berpotensi ciptakan trend seni rupa dunia

Heri Pemad: ArtJog berpotensi ciptakan trend seni rupa dunia

Sub Judul

Yogyakarta,KoPi- Banyak hal yang menarik di Jogja ketika bicara soal budaya dan kesenian. Di kota ini, hampir setiap minggu selalu ada agenda pameran seni rupa. Saking padatnya, ada yang bilang Jogja adalah kota tersering di dunia yang mengadakan pameran seni rupa. Dari sepanjang tahun pameran seni rupa yang digelar –ArtJog adalah agenda pameran terbesar dan termegah di Indonesia, bahkan Asia tenggara. Setiap tahun, ribuan pengunjung berdesakan untuk melihat pergelaran seni rupa tahunan ini.
 
Bicara ArtJog, tentu tidak lepas dari nama Heri Pemad. Pria berkaca mata ini, adalah seniman rupa yang menggagas dan membagun ArtJog bersama teman-teman yang lain. KoPi  berbincang dengannya seputar gagasannya tersebut. berikut petikannya.

Ranang Aji SP (RASP): Artjog sudah masuk tahun ke tujuh, apa yang menarik dari setiap temanya?

Heri Pemad (HP): Sebenarnya kalau masalah tema kita menyesuaikan moment, moment apa yang paling menarik di tahun itu. Dan bisa dikatakan dimulainya dari mana, Kan kurator awalnya, mereka kasih tema. Kemudian tema itu dilanjutkan dengan merespon moment, misalnya tahun ini tahun politik. Selama ini ada dua kurator di ArtJog, Aminudin Siregar dan bambang Toko.
Aminuddin Siregar dulu) tentang ‘Strategies of Being yang 2010, kemudian yang 2012 berganti kurator Bambang Toko,temanya ‘Looking East’, Looking East itu melihat timur. Menariknya ya ketika pada saat itu dunia seni rupa terutama di Asia Tenggara, mereka sedang melihat kita. Bahwa seniman-seniman kita, di tengah keterpurukan pasar dunia setelah booming kemudian anjlok, sepi sekali, tapi justru itu perhatian dunia mengarah ke kita. Nah itu kan ditangkap oleh kurator dan menjadi tema ‘Looking East’, melihat ke timur, dan menjadi tema manjadi tema yang sangat menarik di 2012 itu.

Kemudian berlanjut ke 2013, setelah Looking East masuk ke dalam lagi. Tema tentang negara kita apa yang terlupakan? Misalnya kita Negara maritim, kemudian menjadi sangat manarik, dan saat itu juga banyak yang merespon tentang dunia maritim, tentang nusantara. Kebetulan di sana-sini banyak event temanya tentang maritim juga. Ya diskusi, di Borobudur, disana ada event juga soal maritim, setelah itu ada Festival Nusantara di Palu, ngomongnya tentang bahari. Kemudian tahun ini masuk ketahun politik, menariknya ya seniman ini mau ngomong apa gitu, gak tahu bisa gak! Kalau gak bisa biasanya mereka mundur. Dan yang menariknya lagi ternyata banyak yang mendaftar, semuanya ngomong tentang pemimpin, ngomong tentang politik, tentang demokrasi, dan segala macem. Saya kira, berkat ketersinambungan tema itu menjadi satu yang khas buat ArtJog, bahwa ArtJog bukan hanya sekedar pameran seni rupa dan jualan, tapi kita itu mengedepankan apa tanggung jawab seniman itu terhadap lingkungan.

RSAP: Apa yang membedakan Artjog dengan Biennale?

HP: Oh, saya kira sangat berbeda, karena Biennale itu-kan sebenarnya punyanya pemerintah. Biennale itu sebenarnya sebuah event yang mempresentasikan perkembangan karya terkini selama dua tahun, jadi dua tahun sekali. Apa yang dimunculkan dalam Biennale itu diangggap sebagai perkembangan karya terkini, seperti itu. Kalau Artjog menggabungkan banyak hal misalnya pasar, wacana juga dikemas habis-habisan, juga dikasih tema. Kemudian kita juga menganggap bahwa ini adalah perkembangan terkini dalam satu tahun terakhir, ini setahun sekali.

RASP: Jadi secara idealisme tidak terlalu berbeda antara Artjog dengan Biennale?

HP: Sebenarnya seluruh artfair diseluruh dunia, Artfair sedang mengarah kesana. Meraka tidak lagi melulu jualan karya yang di pajang di sana, tetapi mereka jualan projek, jualan konsep, disitu juga ada tempat promo yang dijadikan tempat gallery atau seniman untuk promo. Dan memang kemasanya tidak lagi kayak jualan di Artfair yang dulu-dulu. Kalau memang bagaimana menginspirasi untuk sebuah karya yang memang layak untuk ditonton. Yaitu biasanya museum yang akan ngambil, atau kolektor yang gila itu yang biasanya ngambil karya-karya yang besar dijadikan museum private, ditampilkan disitu, kemudian menarik pengunjung untuk datang. Jadi semacam rujukan, kadang itu dijadikan rujukan untuk mengoleksi karya seni yang bagus, yang ada juga di mana-mana.

RASP: Kalau perbedaannya dengan artfair Jakarta?

HP: Lain dong! Kalau di Jakarta itu saja tempatnya di dalam gedung, di bazaar art itu di dalam gedung, itu sangat berbeda. Jadi dari kemasan yang kita utamakan adalah laku budaya itu, ini berkesenian, jualan nomor sekian, walaupun itu tetep professional, itu tetep dikemas secara professional. Tapi bagaimana kita membuat kemasan itu, tidak menipu secara visual. Tapi ketika masuk, ketika menyaksikan karya-karyanya menikmati keseluruhan, ini lo, ini sebuah kesatuan, Artjog ini sebuah kesatuan, jangan dinilai hanya satu-satu. Lihatlah dari depan, masuk, rasakan semuanya, rasakan atmosfir tidak hanya di wilayah Taman Budaya, tetapi keseluruhan, itu yang harus dicatat. Jogja, tidak hanya Jogja saja, tapi Jogja mewakili Indonesia dan dunia, dunia seni rupa.

RASP: Kalau tujuan Artjog dari segi budaya itu apa?

HP: Dari awal sebenarnya saya sebagai yang mendirikan, sebenarnya ini laku budaya, dulu kan saya juga nglukis. Saya kira kalau menjadi seniman harus menjadi pelukis. Kita  bisa berkarya atau berkesenian melakukan laku budaya juga harus memamerkan berbenuk karya seni. Tapi event atau sebuah hal perhelatan budaya yang kita kemas sedemikian rupa itu kita wujudkan sebagai momen kebudayaan.

RASP: Apa yang kemudian berkembang dari dampak wacana kebudayaan di dalam masyarakat?

HP: Pasti ada tujuan. Pertama, untuk seniman sendiri, karena seniman kita itukan banyak sekali, ribuan, dan tidak ada event yang bagus untuk bisa mendatangkan sekian banyak orang untuk mengapresiasi itu. Nah kesempatan bagi seniman-seniman ini untuk mempertanggung jawabkan karyanya dimana lagi? Saya kira event seni rupa, atau event sebuah pameran besar sudah terwakili di Artjog. Kalau orang mengalami kerinduan pada pameran yang bagus, yang berkualitas, dengan momen yang pas gitu, dan disana mewacanakan perkembangan karya seni rupa yang terkini, yang mengacu pada perkembangan seni rupa dunia. Karena sifatnya ini internasional, jadi orang bisa melhat disini kualitas yang memang kita harapkan berkualitas internasional.

Jadi saya kira penting sekali untuk masyarakat, memang perhatiannya terhadap seni rupa dan untuk pelajar juga mereka sangat membutuhkan pengetahuan tentang ini. Karena tidak cukup mereka itu tau dari pameran-pameran kecil yang memang publikasinya kecil. Dan disinikan publikasinya memang besar-besaran dan memang menjadi ajang yang rutin, setiap tahun. Jadi mereka itu sudah terpola, bahwa setiap tahun ada pameran Artjog, mereka itu berduyun-duyun datang. Dari mulai anak sekolah TK, mereka udah tahu juga sampai ke Perguruan Tinggi, dan mereka datang khusus. Ini terlihat dari setiap kita ada Artjog, itu kelihatan sekali pengunjungnya siapa saja, dan ketika kita tanya mereka sangat terbiasa melihat pameran, dan di otaknya itu sangat merekam artistic. pengalaman artistik itu penting sekali buat mereka untuk mengasah estetika. Dan juga disediakan Artjog, betapa disana itu sangat mengutamakan edukasi dan diskusi, kemudian program-program yang ditawarkan, studio visit, museum visit, institusi visit, betapa itu sangat memperluas pengalaman masyarakat.

Saya kira saya tidak berlebihan kalau mengutip beberapa temen yang mengatakan hal yang sama ketika bahawa Jogja itu berhutang pada Artjog. Karena event ini sangat besar, mendatangkan sekian ribu orang, dari luar negeri sekian ratus orang, kemudian efeknya pada dunia pariwisata itu jelas, dari dunia usaha juga jelas. Dan itu sangat kita rasakan juga bahwa ternyata telah sekian lama, sekarang ini banyak hotel, banyak travel, banyak pengusaha yang pengen mensupport Artjog, bener-bener pengen mensupport Artjog. Ternyata bahwa event macam Artjog itu sangat menarik buat tamu-tamu mereka dan selalu menanyakan. Mereka sendiri bisa jual, dalam arti menawarkan.

RASP: Jadi Artjog bisa menjadi penegasan entitas budaya Yogyakarta?

HP: Iya, dan menariknya ketika ada Artjog ini kita selalu berharap dan sekarang telah menjadi kenyataan dari beberapa tahun yang lalu. Setelah terselenggaranya Artjog, di berbagai tempat budaya itu mereka merespon, jadi mereka bikin juga. Nah ini betapa menambah warna untuk Jogja sendiri dikenal sebagai kota budaya. Dimana-mana ada event, dan orang yang datang khusus untuk melihat Artjog ternyata banyak disuguhin event-event yang menarik. Misalnya mau datang kemana, di Artjog itu sudah ada data, sudah ada semacam guidebook disitu, itu menjelaskan ada event apa pada bulan ini, tentu informasinya lengkap. Dan tidak hanya ada di kantong-kantong budaya seperti gallery, tetapi direstoran juga ada, di studio pun juga bikin acara, di rumah seniman. Itu info dari kita, kita cantumkan disana, itu saya kira menarik sekali. Betapa meriahnya bulan itu, bagi mereka yang datang ke Jogja dengan sadar untuk melihat event seni. Ada festival gamelan, apa lagi gitu sangat berdekatan.

Besok itu saya kira banyak sekali yang merespon, dan itu sangat menguntungkan bagi kita semua. Artjog sangat berterima kasih pada temen-temen yang ada di tempat lain juga bikin acara. Kalau hanya menjamu tamu dengan hanya satu event, dengan waktu yang dia korbankan untuk datang ke Jogja itu gak sia-sia. Mereka bisa melihat ini itu, kuliner-lah, apalah, event di restoran juga ada.

back to top