Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda
Indonesia memiliki ribuan sarjana dan praktisi pertanian yang cemerlang. Mereka menemukan berbagai temuan jenis tanaman dan system. Tetapi sayangnya tak banyak yang digunakan. Beberapa diantaranya, bahkan hanya sekedar menjadi alat propaganda politik.

Yogyakarta-KoPi| Banyak penemuan bidang pertanian tidak terdengar di kalangan masyarakat bahkan pemerintah cenderung menutup diri terhadap perkembangannya. Seperti kasus Padi Superto, Kediri, misalnya yang memiliki keunggulan bisa dipanen dua kali tanpa memotong tanaman padinya. 

“Padi Superto awalnya padi endemik lokal asal Purworejo. Kita olah, lalu ada teman ngambil untuk kampanye Bu Mega. Kalau yang kami tanam bisa, panen dua kali. ditambah pupuk lagi bisa tumbuh lagi dan berbuah lebih banyak. Nah itu gagal, bukan tidak ada dukungan pemerintah. Tapi dicuri tadi, buat propaganda”, papar Gati.

Sementara tanggapan Prof. Andea Santosa, tentang tidak gaungnya penemuan pertanian Indonesia disebabkan oleh dua faktor. 

Pertama, kembali lagi ke pemerintah. Berdasarkan peraturan pemeritah varietas padi yang dilempar ke masyarakat harus melalui prosedur panjang dan rumit. Misal varietas padi tersebut harus melalui proses pelepasan oleh menteri pertanian. Ketika dilepas varietas tersebut harus ditanam 20 lokasi. Setelah itu harus memiliki ijin edar. Yang melali prosedur yang rumit. Itu salah satu yang menghambat mengapa karya besar peatani. 

Kedua, masalah kebijakan. Pemerintah masa orde baru pada varietas tertentu. Misal program penyeragaman petani wajib menanam padi IR 64. 

“Dengan penyeragaman itu lalu yang dimiliki petani musnah semua. Sementara kami, berusaha mengembalikan itu semua, bekerjasama dengan petani agar petani bebas menanam”, terang Prof. Andrea.

Implikasi dari penyeragaman ini, sekalipun program tersebut sukses mengantarkan Indonesia berswasembada pangan namun setelah itu kita mengalami defisit. 

Baca:

Terbaik di Asean dalam produkvitas, toh tetap saja impor

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan

Siap swasembada beras, ini syaratnya

Petani Indonesia kelas termiskin di Indonesia

back to top