Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda
Indonesia memiliki ribuan sarjana dan praktisi pertanian yang cemerlang. Mereka menemukan berbagai temuan jenis tanaman dan system. Tetapi sayangnya tak banyak yang digunakan. Beberapa diantaranya, bahkan hanya sekedar menjadi alat propaganda politik.

Yogyakarta-KoPi| Banyak penemuan bidang pertanian tidak terdengar di kalangan masyarakat bahkan pemerintah cenderung menutup diri terhadap perkembangannya. Seperti kasus Padi Superto, Kediri, misalnya yang memiliki keunggulan bisa dipanen dua kali tanpa memotong tanaman padinya. 

“Padi Superto awalnya padi endemik lokal asal Purworejo. Kita olah, lalu ada teman ngambil untuk kampanye Bu Mega. Kalau yang kami tanam bisa, panen dua kali. ditambah pupuk lagi bisa tumbuh lagi dan berbuah lebih banyak. Nah itu gagal, bukan tidak ada dukungan pemerintah. Tapi dicuri tadi, buat propaganda”, papar Gati.

Sementara tanggapan Prof. Andea Santosa, tentang tidak gaungnya penemuan pertanian Indonesia disebabkan oleh dua faktor. 

Pertama, kembali lagi ke pemerintah. Berdasarkan peraturan pemeritah varietas padi yang dilempar ke masyarakat harus melalui prosedur panjang dan rumit. Misal varietas padi tersebut harus melalui proses pelepasan oleh menteri pertanian. Ketika dilepas varietas tersebut harus ditanam 20 lokasi. Setelah itu harus memiliki ijin edar. Yang melali prosedur yang rumit. Itu salah satu yang menghambat mengapa karya besar peatani. 

Kedua, masalah kebijakan. Pemerintah masa orde baru pada varietas tertentu. Misal program penyeragaman petani wajib menanam padi IR 64. 

“Dengan penyeragaman itu lalu yang dimiliki petani musnah semua. Sementara kami, berusaha mengembalikan itu semua, bekerjasama dengan petani agar petani bebas menanam”, terang Prof. Andrea.

Implikasi dari penyeragaman ini, sekalipun program tersebut sukses mengantarkan Indonesia berswasembada pangan namun setelah itu kita mengalami defisit. 

Baca:

Terbaik di Asean dalam produkvitas, toh tetap saja impor

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan

Siap swasembada beras, ini syaratnya

Petani Indonesia kelas termiskin di Indonesia

back to top