Menu
Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Prev Next

Hari Nelayan Nasional, WWF luncurkan aplikasi Seafood Advisor

Hari Nelayan Nasional, WWF luncurkan aplikasi Seafood Advisor
Surabaya-KoPi| World Wild Fund (WWF) Indonesia meluncurkan Panduan Seafood versi terbaru dalam bentuk aplikasi berbasis Android dalam rangka memperingati Hari Nelayan Nasional. Melalui aplikasi ini, WWF berharap dapat membantu penikmat seafood untuk memilih hidangan laut dengan bijak.
 

"Kami berharap panduan ini dapat membantu menjaga keberlanjutan sumber daya ikan dan ekosistem laut. Selain itu, panduan ini juga dapat digunakan untuk mendukung nelayan yang mempraktikkan penangkapan ikan dengan cara yang lebih baik dan ramah lingkungan," ungkap Direktur Program Coral Triangle WWF Indonesia Wawan Ridwan dalam siaran pers WWF. Aplikasi bernama Seafood Advisor tersebut dapat diundung secara gratis di Google Playstore.

Wawan mengatakan, saat ini permintaan terhadap produk hidangan laut seperti kakap, tuna, baronang, kepiting, udang, hingga lobster yang semakin tinggi membuat nelayan semakin tergiur pada keuntungan besar. Akibatnya, banyak cara ilegal yang dilakukan nelayan untuk mendapatkan sumber daya laut tersebut dalam jumlah besar, seperti penggunaan bahan peledak, racun, dan jaring pukat yang tidak ramah lingkungan.

"Cara penangkapan tersebut tidak hanya berdampak negatif pada ekosistem dan biota laut, tetapi juga kesehatan manusia, khususnya jika ikan ditangkap menggunakan racun," jelas Ridwan.

WWF berharap, melalui aplikasi ini, dapat mensosialisasikan praktik penangkapan ikan yang sesuai dengan prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability). Hal itu akan dapat memastikan stok sumber daya ikan terpelihara di masa mendatang, sehingga tingkat konsumsi per kapita dapat terus meningkat.

Selain itu, WWF juga telah menyusun dan mensosialisasikan serial dokumen BMP (Better Management Practices) Perikanan Berkelanjutan kepada pengusaha perikanan dan nelayan. Diharapkan, panduan ini dapat mendukung perbaikan sektor perikanan di Indonesia. Dalam panduan tersebut, nelayan diajarkan proses penangkapan biota laut secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, termasuk proses penanganan dan pengemasannya.

Data perhitungan angka konsumsi ikan oleh Survei Sosial Ekonomi Badan Pusat Statistik menunjukkan, konsumsi ikan masyarakat Indonesia pada tahun 2015 mencapai 41,1 kg per kapita per tahun. Namun, data WWF Living Blue Planet Report pada September 2015 melaporkan, kondisi ekosistem laut dan sumber daya ikannya terus mengalami penurunan selama beberapa dekade terakhir.

back to top