Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

"Halo dokter, mengapa berlaku demikian?"

dr. Erry Dewanto (tengah mengenakan baju koko putih motif hitam) dr. Erry Dewanto (tengah mengenakan baju koko putih motif hitam)

Surabaya-KoPi| Dokter biasanya dipandang eksklusif dengan 'jarak' cukup jauh dari masyarakat dan khususnya para pasien. Selain karena keahliannya yang dipandang 'linuwih' (lebih), biasanya kehidupan para dokter cukup eksklusif. Akan tetapi tidak semua dokter demikian walaupun mungkin jumlahnya tidak banyak. Termasuk yang tidak banyak tersebut adalah dr. Erry Dewanto, Sp.M. yang merupakan pakar bedah katarak di Kota Surabaya.

Peraih gelar profesi dokter dari Universitas Airlangga, dan spesialis dari Universitas Indonesia ini memilih jalan berbeda. Posisi sebagai seorang dokter spesialis mata, bedah katarak, yang ramai dikunjungi pasien, tidak menyebabkannya menjadi eksklusif. Sebaliknya, dokter Erry sering melakukan kegiatan kemanusiaan terutama pelayanan kesehatan mata.

Beberapa waktu lalu (3/12/15) ia bersama Klinik Mojoagung, Pemerintah Kabupaten Jombang, dan Ikatan Penyandang Cacat melaksanakan peringatan Hari Disabilitas Internasional dengan kegiatan pemeriksaan kesehatan mata dan pembagian kacamata gratis untuk penyandang cacat.

Dokter Erry memobilisasi para staffnya di Klinik Mojoagung memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal. Ada celetuk pasien yang heran dengan prinsip dokter Erry.

"Halo dokter, mengapa berlaku demikian?" 

Menanggapi celetuk tersebut, kepada KoPi dokter Erry tidak banyak berkomentar. Ia hanya menyatakan bahwa dirinya yang memiliki kepakaran bedah katarak tidak harus bersikap acuh dan sibuk dengan kehidupan sendiri.

"Saya hanya ingin setiap orang di Indonesia ini memiliki mata yang sehat. Itu yang bisa saya lakukan," jawab dokter penggemar olahraga alam itu tersenyum.

Masyarakat sendiri sangat mengagumi dan menghormati dokter Erry. Salah satu pasien usai perawatan di Kayon Health Center, klinik milik dokter Erry di Surabaya, menyatakan bahwa cara pendekatan dalam perawatan kesehatan mata dokter Erry memberinya hal berbeda.

"Dulu saya takut periksa mata setelah datang ke seorang dokter mata, saya merasa tidak nyaman. Namun setelah bertemu dokter Erry saya merasa lebih nyaman dan menjalani perawatan dengan tenang."

Jika saja para dokter mata juga bersikap dan berprinsip sama seperti dokter Erry maka masyarakat Indonesia akan lebih memiliki mata yang sehat. |Labibah l|

back to top