Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Hal yang selalu terlupa saat mudik lebaran

Hal yang selalu terlupa saat mudik lebaran
Jakarta - KoPi| Mudik ke kampung halaman merupakan budaya khas masyarakat Indonesia yang dilakukan saat Idul Fitri. Masyarakat yang bermigrasi dari kampung ke kota besar menjadikan lebaran sebagai momen untuk bercengkrama dengan halaman kelahiran.
 

Kondisi ini menyebabkan terjadinya kepadatan di sejumlah titik yang merupakan jalur untuk menuju tujuan. Seperti halnya di sepanjang jalan tol Jakarta-Cikampek. Pemudik yang menggunakan jalur utara maupun selatan pastinya memilih alternatif jalan tersebut. Sehingga kepadatan di jalan kerap sulit ditampung.

Satu hari setelah lebaran pemudik masih memanfaatkan waktu untuk mudik ke kampung halaman. Terlihat di sepanjang tol dari Bekasi sampai Karawang kepadatan sangat merambat.

Namun, sayangnya, budaya mudik ini membuat mereka lupa mengenai titahnya sebagai manusia. Tugas yang dititipkan untuk menjaga dan melestarikan alam, justru malah dilupakan dengan alasan kebutuhan.

Seperti salah satu contoh di tol KM 38 Cikampek. Rest area ataupun tempat peristirahatan yang disediakan pihak tol terlihat seperti lautan sampah. Tisu, plastik, botol minuman dan sampah lainnya bertebaran di segala ruas jalan.

“Ya habis tempat sampahnya jauh. Dan lagian yang lain juga buang sampah di tengah jalan seenaknya. Jadi saya ikut-ikutan buang aja,” ujar salah satu penabur sampah di jalanan.

Pihak rest area sendiri telah menyiapkan beberapa tempat sampah. Namun dirasa sangat kurang untuk menampung pertambahan pengunjung di rest area yang berkali lipat dari biasanya. Bahkan tempat sampah yang ada terlihat sudah tidak cukup sehingga menimbulkan tumpukan di sekelilingnya.

Bahkan sejumlah mobil terlihat sengaja membuang sampah yang berasal dari mobilnya di tengah jalan. “Udah wajar banget kalo lebaran rest area ini jadi lautan sampah. Meskipun tempat sampah disediakan, tapi memang kebudayaan Indonesia saja yang kurang peka terhadap lingkungan. Apalagi memang tempat ini sangat padat pengunjung,” ujar Asep selaku petugas rest area.

Meskipun mudik merupakan hal yang dianjurkan dalam agama. Sebagaimana bersilaturahim dan memohon maaf kepada sesama saudara. Namun fitrah manusia tidak lekas harus lupa. Sebab, lingkungan harus tetap kita jaga dalam keadaan seperti apapun. | Labibah

back to top