Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Greenpeace Indonesia terus berjuang menolak PLTU Batang

Greenpeace Indonesia terus berjuang menolak PLTU Batang

Jogja-KoPi| Tujuh orang perwakilan warga Batang yang tergabung dalam Paguyuban UKPWR hari ini tiba di Jogjakarta. Dalam perjalanannya warga membagi kisah perjuangan empat tahun menolak rencana pembangunan PLTU Batang kepada jurnalis serta beberapa komunitas lokal di Jogjakarta.

Perjalanan yang disebut perjalanan ‘Warga Mengadu’ di Jogja, para perwakilan warga juga akan berkunjung ke Rembang untuk bertemu dengan Gus Mus, dan ke Solo berencana menemui ibunda dari Bapak Jokowi.

Sejak 2011, warga Batang telah berjuang mempertahankan lingkungan dan kehidupan mereka yang akan digunakan sebagai lokasi pembangunan PLTU. Warga Batang telah melakukan puluhan aksi di Jakarta dan Batang termasuk melakukan audiensi ke sejumlah kementerian terkait, hingga berangkat ke Jepang untuk bertemu investor.
Terakhir, warga melakukan aksi di depan Istana Negara pada Oktober 2015 lalu, dan berharap dapat menemui Presiden Joko Widodo secara langsung, namun upaya ini berakhir dengan pembubaran aksi dan penahanan 43 orang aktivis dan warga yang mengikuti aksi.

Tidak jarang dalam melakukan perjuangan penolakan tersebut, sejumlah warga kerap mendapatkan intimidasi, tindakan represif bahkan hingga kriminalisasi. Semua upaya di atas belum juga membuahkan hasil, hingga bahkan Presiden Joko Widodo diminta oleh pemrakarsa proyek untuk ‘meresmikan’ pembangunan PLTU Batang pada Agustus tahun lalu kendati pembebasan lahan belum tuntas.

Area yang diusulkan untuk Pembangkit Listrik Batubara terletak di atas sawah yang subur dan laut sumber lahan perikanan yang sangat produktif bagi petani dan nelayan di daerah sekitar. Masyarakat khawatir bahwa mata pencaharian mereka akan hancur jika PLTU tetap dibangun.

Kini warga mencoba mencari cara lain dengan melakukan perjalanan ‘Warga Mengadu’ dan bertemubeberapa tokoh untuk mendapatkan dukungan bagi perjuangan mereka.

“Perusahaan terkait harus menghentikan intimidasi dan represi terhadap masyarakat lokal. Pemerintah harus mendengarkan suara rakyat dan memastikan hak-hak asasi mereka dilindungi” kata Arif Fiyanto, Team Leader Kampanye Iklim dan Energi, Greenpeace Indonesia.

back to top