Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Greenpeace Indonesia terus berjuang menolak PLTU Batang

Greenpeace Indonesia terus berjuang menolak PLTU Batang

Jogja-KoPi| Tujuh orang perwakilan warga Batang yang tergabung dalam Paguyuban UKPWR hari ini tiba di Jogjakarta. Dalam perjalanannya warga membagi kisah perjuangan empat tahun menolak rencana pembangunan PLTU Batang kepada jurnalis serta beberapa komunitas lokal di Jogjakarta.

Perjalanan yang disebut perjalanan ‘Warga Mengadu’ di Jogja, para perwakilan warga juga akan berkunjung ke Rembang untuk bertemu dengan Gus Mus, dan ke Solo berencana menemui ibunda dari Bapak Jokowi.

Sejak 2011, warga Batang telah berjuang mempertahankan lingkungan dan kehidupan mereka yang akan digunakan sebagai lokasi pembangunan PLTU. Warga Batang telah melakukan puluhan aksi di Jakarta dan Batang termasuk melakukan audiensi ke sejumlah kementerian terkait, hingga berangkat ke Jepang untuk bertemu investor.
Terakhir, warga melakukan aksi di depan Istana Negara pada Oktober 2015 lalu, dan berharap dapat menemui Presiden Joko Widodo secara langsung, namun upaya ini berakhir dengan pembubaran aksi dan penahanan 43 orang aktivis dan warga yang mengikuti aksi.

Tidak jarang dalam melakukan perjuangan penolakan tersebut, sejumlah warga kerap mendapatkan intimidasi, tindakan represif bahkan hingga kriminalisasi. Semua upaya di atas belum juga membuahkan hasil, hingga bahkan Presiden Joko Widodo diminta oleh pemrakarsa proyek untuk ‘meresmikan’ pembangunan PLTU Batang pada Agustus tahun lalu kendati pembebasan lahan belum tuntas.

Area yang diusulkan untuk Pembangkit Listrik Batubara terletak di atas sawah yang subur dan laut sumber lahan perikanan yang sangat produktif bagi petani dan nelayan di daerah sekitar. Masyarakat khawatir bahwa mata pencaharian mereka akan hancur jika PLTU tetap dibangun.

Kini warga mencoba mencari cara lain dengan melakukan perjalanan ‘Warga Mengadu’ dan bertemubeberapa tokoh untuk mendapatkan dukungan bagi perjuangan mereka.

“Perusahaan terkait harus menghentikan intimidasi dan represi terhadap masyarakat lokal. Pemerintah harus mendengarkan suara rakyat dan memastikan hak-hak asasi mereka dilindungi” kata Arif Fiyanto, Team Leader Kampanye Iklim dan Energi, Greenpeace Indonesia.

back to top