Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

Golkar, sebenarnya partai untuk siapa?

Golkar, sebenarnya partai untuk siapa?
Partai Golkar (Golongan Karya) adalah partai politik peninggalan Suharto di era rejim Orde Baru. Partai berlambang pohon beringin ini merupakan mesin politik utama yang mendukung pemerintahan Suharto. Ideologinya adalah pembangunanisme, yaitu konsep politik yang memandang pembangunan harus berada dalam kontrol kekuasaan.

Pada tahun 1964 berdiri cikal bakal partai bersimbol warna kuning ini dengan nama Sekber Golkar yang dibentuk oleh tentara angkatan darat. Alasan politik berdirinya partai adalah untuk memberi tandingan terhadap partai komunis (PKI) yang waktu itu di puncak kejayaan.

Selama kurang lebih 32 tahun pemerintahan Orde Baru, Golkar mempertontonkan loyalitasnya terhadap Suharto. Para elitenya menduduki jabatan-jabatan penting dalam birokrasi pemerintahan dan kepala-kepala daerah. Parlemen selalu dikuasai oleh Golkar dengan kemenangan mutlak, di atas 70 persen suara, melalui pemilu yang tidak transparan dan tidak jujur.

Para elite Golkar mendapatkan fasilitas ekonomi politik luar biasa. Mereka diantaranya Liem Su Liong, Bob Hasan, Eka Tjipta Widjaja dan Prajogo Pangestu. Selain itu nama-nama seperti Abu Rizal Bakrie dan Jusuf Kalla adalah generasi selanjutnya dari konglomerat semasa Orde Baru.

Abu Rizal Bakrie kini menjabat sebagai Ketua Umum Golkar, sejak tahun 2009. Partai ini masih tetap hidup, kuat dan menjadi agensi politik besar yang tidak runtuh walaupun gelombang reformasi menghancurkan rejim Orde Baru. Ilmuwan politik, termasuk V. Hadiz, melihat fenomena bertahannya oligarkhi Orde Baru.

Bertahannya oligarkhi Orde Baru yang direpresentasikan Golkar, memberi pengaruh terhadap bagaimana kualitas demokrasi diciptakan. Termasuk di dalamnya kualitas birokrasi kepemerintahan. Terlepas dari siapa dan ambisi apa yang ada dalam Golkar terhadap bangsa ini, pada kenyataannya bisa bertahan. Walaupun pertanyaan publik sering juga muncul, Golkar bertahan dan berkembang untuk siapa? Untuk rakyat atau bukan?

Saat ini Golkar sedang melakukan proses pemlihan ketua umum yang baru. Kontestasi internal sangat tinggi. Rakyat akan melihat bagaimana partai 'pohon beringin' ini mampu menemukan ketua umum barunya. Apakah masih representasi Orde Baru yang terkenal korup atau tiba-tiba figur baru yang memberi harapan baru sebagai partai pro rakyat.

back to top