Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

GBPH Prabukusumo dinobatkan menjadi Sultan Hamengkubowono XI

GBPH Prabukusumo dinobatkan menjadi Sultan Hamengkubowono XI

Jogjakarta-KoPi| Sabda Raja Sultan Hamungkubuwono X yang dianggap cacat moral oleh para kerabat keraton, akhirnya berbuntut penobatan adik Sultan X. Paguyuban Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan mengakangkat raja baru. Penobatan ini dilakukan di Petilasan Kraton Ambarketawang, Gamping, Sleman, Ahad, 12 Juli 2015

Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo dinobatkan menjadi Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Kaping XI. Sinuhun bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono Senopati ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping XI (Sewelas) ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ketua Paguyuban Trah Ki Ageng Giring- Ki Ageng Pemanahan, Satrio Djojonegoro mengatakan bahwa tahta Ngayogyakarta dianggap kosong setelah Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan Sabda Raja yang dianggap melanggar paugeran (adat) leluhur.

"Sejak adanya Sabda Raja kita menganggap bahwa tahta Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat mengalami kekosongan atau komplang. Itu kenapa kita mengukuhkan Gusti Prabu." Demikian penjelasan Satrio Djonegoro.| BACA: GBPH Prabukusumo: Pengukuhan sebagai Sultan XI tidak sah

back to top