Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Gap Areal dan Poduktivitas Sebabkan Produksi Gula Nasional Rendah

Sleman-KoPi|Produksi gula nasional dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Produksi nasional hanya mencapai 2,1 juta ton per sementara kebutuhan akan gula konsumsi dan rafinasi mencapai 6,8 juta ton. Menurunnya produksi gula nasional disebabkan rendahnya produktivitas 48 pabrik gula milik pemerintah dan 17 milik swasta  serta semakin menurunnya jumlah lahan perkebunan tebu nasional.

 

Oleh karena itu pemerintah dan swasta diharapkan melakukan revitalisasi pabrik gula, menambah jumlah lahan tebu serta meningkatkan program kemitraan dengan petani tebu rakyat.

Demikian yang mengemuka dalam Seminar Nasional yang bertajuk Kajian Komprehensif Sistem Pergulaan Menuju Ketahanan dan Kemandirian Industri Gula Nasional, Kamis (26/4) di Gedung Auditorium MM UGM. Seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Asia Pasifik (PSAP) UGM ini menghadirkan pembicara diantaranya Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kemenko Perekonomian, Ir. Musdalifah Machmud, MT, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Kementertian Perdagangan, Oke Nurwan Dipl.Ing, dan Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Dr. Agus Wahyudi.

Musdalifah Machmud mengatakan industri gula saat ini sebagian besar berada di pulau Jawa karena beberapa pabrik tersebut umumnya bekas peninggalan Belanda.“Rata-rata perushaan gula berumur lebih dari 100 tahun,” ujarnya.

Dengan pabrik yang berusi sudah tua tersebut menurutnya pemerintah melakukan revitalisasi dan penambhan jumlah pabrik baru untuk meningktakan jumlah produksi gula nasional,“Empat pabrik  yang baru akan mulai beroperasi tahu 2022 dengan kapasitas 12 ribu Ton cane Per Day (TCD),” katanya.

Meski sekitar 78,7 persen dari pabrik gula berada di Pulau Jawa, namun daerah yang paling banyaka da pabrik gula justru berada di daerah Jawa Timur. Jawa timur menurutnya tidak hanya sebagai lumbung penghasil gula nasional namun juga penghasil komoditi pangan terbesar lainnya seperti daging ayam, telur hingga jagung.

“Daerah ini sangat cocok untuk tempat pabrik gula dan kualitas SDM-nya sangat mendukung untuk industri pangan kita,” katanya.

Oke Nurwan menuturkan dari 63 pabrik gula, 48 diantaranya milik pemerintah dan sisanya milik swasta. Namun jumlah pabrik tersebut belum mampu mampu memenuhi kebutuhan gula nasional yang setiap tahunnya terus meningkat.

“Oleh karena itu dilakukan buka tutup kran impor. Kebutuhan gula capai 6,8 juta ton, diperkirakan 3 juta ton gula konsumsi dan sisanya gula rafinasi,” katanya.

Kebutuhan gula rafinasi menurutnya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman dipasok oleh 11 pabrik gula rafinasi. Penyerapan gula rafinasi, 64 persen penggunananya untuk industri makanan dan minuman dimana sebagain produknya dijula untuk ekspor.

“Impor gula ini untuk mendukung industri makanan dan minuman yangs etiap tahunnya tumbuh 7-8 persen,” katanya.

Menurutnya apabila tidak dilakukan pembenahan dalam meningkatkan produktivitas gula nasional serta penambahan lahan maka bangsa Indonesia akan terus bergantung dengan bahan baku gula impor.

“Apabila tidak berbenah, produksi gula yang seharusnya menggerakkan roda perekonkmian, akan selalu bergantung pada bahan baku impor,” paparnya.

Agus Wahyudi menyebutkan saat ini produksi gula nasioanl hanya 2,14 juta ton dengan luas area perkebunan tebu sekitar 423 ribu hektar. Setiap hektarnya, perkebunan tebu menghasiklan 5 ton gula per hektar.

“Idealnya 600 ribu heltar dengan produksi 10 ton per hektar. Ada gap areal dan gap produktivitas,” katanya. 

Untuk mengatasi gap yang begitu besar tersebut salah satu kebijakan yang ditempuh dengan menjembatanai manajemen pabrik gula dan petani tebu yang selama ini dinilai berjalan sendiri-sendiri.

“Saat ini lepas dan minim, apabila terkena hama, penyaluraa benih dan pupuk, kredit pinjaman seolah terputus antara pabrik, petani dan pemerintah,” katanya.

Salah seorang petani tebu asal Mojokerto, H. Mubin mengeluhkan kelangkkan pupuk subsidi dan benih bagi para petani tebu.Padahal adanya pupuk subsidi menurutnya bisa mengurangi biaya produksi.

“Kesannya pupuk subsidi diperuntukan untuk tanaman pangan. Bantuan bagi kami sangat minim. Apalagi soal bibit, kalau seperti ini kami harus mengadu kemana?,” kata Mubin. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

back to top