Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Florence, Jogja dan dendam

foto: www.deviantart.com foto: www.deviantart.com
KoPi-editorial. Kasus Florence Sihombing yang mengumpat pada Kota Jogja sungguh disesalkan. Polisi bisa memidana Florence sampai 6 (enam) tahun penjara. Benarkah penghukuman seperti itu adalah cara dari kota yang selama ini disebut sebagai penjaga peradaban dan perdamaian bangsa?

Florence merepresentasikan watak generasi yang kurang sensitif pada kondisi, tidak tanggap pada sifat kebudayaan, serta gagap terhadap hentakan situasi seperti antrian BBM. Oleh karenanya, mahasiswa program S2 UGM tersebut, marah melalui akun media path-nya. Ia menulis "Dan mau-maunya Jogja diperbudak monopoli Pertamina. Pantesan MISKIN".

Masyarat dunia maya (netizen) geram. Terutama mereka yang merasa dirinya sebagai orang Jogja, perbuatan Florence adalah bentuk penistaan pada entitas peradaban tua bernama Jogja. Media twitter, facebook, kaskus, dan blog dipenuhi serangan kepada perempuan berkacamata tersebut melalui cemooh pun sumpah serapah.

Florence, dan keluarganya, terpojok. Polisi menangkapnya atas dasar tuduhan penghinaan berdasar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Apakah Jogja terpuaskan dengan hukuman terhadap Florence tersebut?

Perjalanan sejarah manusia tidak pernah sepi dari lingkaran dendam, saling menghancurkan, dan kebencian. Pada lingkaran tersebut mulai tertanam sangat kuat di dalam struktur kesadaran manusia tentang cara menang-kalah (zero-sum game). Saya menang, kamu kalah. Mereka hancur, kita bertahta. Demikianlah sekiranya doktrin dalam zero-sum game.

Doktrin zero-sum game seringkali mengakar kuat dalam budaya yang mengalami sedimentasi peperangan dari waktu ke waktu. Perasaan dendam menyebabkan sepercik perkataan lawan pun bisa dianggap sebagai dosa yang harus dibasuh oleh darah dan masa depannya. Tengok saja lingkaran setan perang di Timur Tengah, sebagian Eropa Timur, Afrika dan Amerika Latin. Zero-sum game tidak akan terpuaskan oleh berapapun jumlah dan kualitas derita.

Jogja? Indonesia? Tentu tidak serupa dengan masyarakat yang membangun cara hidupnya dari zero-sum game. Namun, Florence memberi ujian bagi esensi kebudayaan Jogja dan Indonesia yang selama ini berpijak pada keterbukaan, pengayoman, pemafaan, dan kekeluargaan.

Sehingga, menghukum pidana yang menoreh masa depan individu yang masih bisa berbuat baik untuk ummat, bukanlah jalan dari esensi kebudayaan Jogja itu sendiri. Memaafkan tanpa harus melupakan kesalahan berarti belajar tentang cara hidup beradab penuh kedamaian.

 

 

back to top