Menu
Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Prev Next

Film, perempuan dan stereotipe

Film, perempuan dan stereotipe

Jogjakarta-KoPi| Dalam dunia perfilman perempuan menjadi istilah yang sangat penting. Istilah perempuan merujuk pada peran perempuan di dalam layar maupun di luar film. Hal inilah yang menarik bagi antropolog asal Belanda, Felicia Hughes Freeland meneliti film perempuan di Indonesia.

Dalam dialog bersama “Women’s Creativity in Indonesian Cinema di Pusat Studi Kebudayaan UGM, Felicia memaparkan makna perempuan dalam film. Menurutnya ada perubahan positif dari perkembangan film Indonesia. Selama masa orde Baru kebanyakan film menampilkan subordinat perempuan.

“Selama orde baru, film menampilkan dua stereotipe tentang perempuan. Pertama, posisi perempuan yang selalu menerima, seringkali menjadi korban. Kedua menggambarkan perempuan yang rewel. Keduanya menggambarkan perempuan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Namun setelah reformasi terdapat eksplorasi lebih dalam film perempuan. Bukan lagi sebatas cerita antara laki-laki dan perempuan“, papar Felicia.

Terlepas dari tema perempuan, Felicia sangat apresiatif dengan film- film saat ini. Film setelah reformasi tidak hanya mencerminkan kondisi sosial namun mengandung nilai-nilai kehidupan yang dalam. Seperti film Arisan dan film ‘Tanah Mama’ yang menceritakan perjuangan perempuan Papua.

Meskipun perkembangan film Indonesia terbilang sukses namun Felicia menyayangkan kontribusi perempuan dalam film relatif sedikit. “Saat ini masih sangat sedikit perempuan yang menjadi sutradara film bahkan di dunia sekalipun. Pemenang Oscar kemarin saja, perempuan itu sebagai writer, dan itu untuk film maskulin tentang perang Irak bukan film bertema perempuan”.|Winda Efanur FS|

back to top