Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

"FILM DOKUMENTER TRAGEDI MONTARA DI PARLEMEN AUSTRALIA"

"FILM DOKUMENTER TRAGEDI MONTARA DI PARLEMEN AUSTRALIA"

Kupang-KoPi| Senator Rachel Siewert anggota Senat Australia di Canberra menggagas pemutaran film dokumenter Taragedi Tumpahan Minyak Montara di Laut Timor "A Crude Injustice" di Parlemen Australia pada pertengahan bulan Agustus ini untuk membuka mata para politisi negeri Kanguru terhadap tragedi kemanusiaan yang dialami rakyat Nusa Tenggara Timur.

"Kami sangat berterima kasih dengan inisiatif Senator Siewert tersebut, karena pemutaran film tersebut untuk mengenang delapan tahun tragedi kemanusiaan tumpahan minyak di Laut Timor akibat meledekannya anjungan minyak Montara pada 2009," kata Ketua Tim Advokasi Rakyat Korban Montara Ferdi Tanoni kepada pers di Kupang, Minggu.

Film dokumenter "A Crude Injustice" mengisahkan tentang tragedi tumpahan minyak yang menimpa rakyat di wilayah pesisir Timor Barat dan kepulauan Nusa Tenggara Timur yang telah kehilangan mata pencaharian sebagai petani rumput laut maupun sebagai nelayan akibat wilayah perairan setempat terkontaminasi dengan tumpahan minyak mentah, bercampur zat timah hitam dan bubuk kimia sangat beracun dispersant.

Kehidupan ekonomi dan kesehatan masyarakat pesisir Nusa Tenggara Timur mengalami sebuah titik balik yang memilukan, sehingga dengan pemutaran film "A Crude Injustice" diharapkan dapat membuka mata hati para politisi dan pemerintah Australia untuk turut menyelesaikan masalah tersebut.

"Kami juga merasa bangga dan mendukung penuh kebijakan Pemerintah Indonesia yang ditegaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Pak Luhut Binsar Pandjaitan yang mendesak Pemerintah Australia untuk ikut bertanggungjawab menyelesaikan Petaka Tumpahan Minyak Montara tersebut," kata Tanoni.

"Lewat film dokumenter tersebut, kami berharap para politisi yang berada di Gedung Parlemen Australia dapat terurai hatinya untuk bersama pemerintah negeri itu ikut bertanggungjawab menyelesaikan tragedi Montara yang sudah delapan tahun berlalu itu," tambahnya.

Menurut Tanoni, kegiatan yang diprakarsai Senator Siewert itu sangat menarik untuk membuka mata dan telinga para politisi Australia tentang petaka kemanusiaan dan lingkungan yang maha dahsyat di Laut Timor pada delapan tahun lalu.

"Senator Rachel Siewert sejak awal kejadian hingga hari ini tetap tegak berdiri bersama kami untuk mengungkap sebuah kebenaran yang ditutup-tutupi oleh Pemerintah Australia terkait dengan tumpahan minyak tersebut," katanya.

Ia menambahkan berbagai upaya keras telah dilakukan hingga saat ini meski terus menuai berbagai rintangan dan tantangan yang tidak ringan.

"Berbagai upaya keras yang kami lakukan ini tidak hanya untuk mencari sebuah keadilan bagi lebih dari 100.000 rakyat Timor Barat dan Nusa Tenggara Timur yang menjadi korban Montara".


"Namun, lebih dari itu, kami mau menyatakan kepada dunia dan khususnya Australia dan berbagai pihak yang berseberangan dengan kami bahwa kami bukanlah warga dunia kelas tiga, sehingga hak dan kepentingan kami dirampas begitu saja secara curang dan tidak adil," ujar Pemegang Mandat Hak Ulayat Masyarakat Adat Atas Laut Timor itu.

Tanoni menegaskan dengan seizin Tuhan Yang Maha Kuasa "Kami tidak akan pernah berhenti bersuara hingga mendapatkan sebuah keadilan secara menyeluruh dan komprehensif".

back to top