Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Festival Sastra Asean 2015 di Jakarta

Festival Sastra Asean 2015 di Jakarta

Jakarta-KoPi| ASEAN Literary Festival 2015 akan digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 21-23 Maret 2014. Festival ini gratis untuk umum, dan pendaftaran terbuka secara umum dan siapa saja yang ingin mengikuti, terutama lokakarya dan diskusi. Panitia juga menyediakan sertifikat bagi peserta.

Agenda acara ASEAN Literary Festival meliputi:

Workshop "Beyond Poetry Reading"

Workshop ini terinspirasi oleh penyair terbesar di Indonesia,WS. Rendra. Melalui aksi poetry readingnya, puisi menjadi tidak sekedar membaca puisi atau deklamasi. Aksi poetry reading Rendra mampu menarik massa dan membangunkan kesadaran masyarakat banyak. Workshop ini akan menghadirkan dua pembicara.

Diskusi (1) Sastra Kontemporer Asean

Dalam sesi ini, festival ini akan membahas tentang sastra kontemporer di kawasan ini dan posisinya di antara sastra dunia. Bagi sebagian orang di Indonesia, mereka mungkin tidak akrab dengan karya-karya sastra dari penulis Malaysia, Philipina, Vietnam, Singapura, dan negara-negara ASEAN lainnya. Apa membuat perbedaan antara mereka dan tema mereka?

Diskusi (2) "Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Sastra"

Setiap pemerintahan mempengaruhi karya sastra di sebuah negara. Dengan latar belakang yang berbeda, masing-masing negara juga memiliki cara yang berbeda untuk bercerita. Selain itu, dalam sesi ini, festival ini juga berusaha bagaimana  sastra berbicara tentang prinsip-prinsip hak asasi manusia dan demokratisasi.

Diskusi (3) "Karya sastra di bawah Rezim totaliter"

Sangat menarik untuk melihat bagaimana karya sastra mewakili suara di dua rezim totaliter: Soeharto di Indonesia dan Marcos di Filipina. Apakah ada persamaan dan perbedaan di antara dua negara ini ketika masa itu?

Diskusi (4) "Sastra Asia Tenggara dan Kolonialisme"

Sebuah diskusi tentang bentuk sastra kontemporer di masa kolonial. Seperti kita ketahui, kolonialisme dan postkolonialisme, adalah topik yang sangat menarik untuk dieksplorasi.

Diskusi (5) "Etnis, Agama dan Sastra"

Dalam sesi ini, festival ini akan membahas tentang peran karya sastra dalam mempromosikan perdamaian dan multikulturalisme, tidak hanya di negara-negara ASEAN, tetapi juga di negara-negara non-ASEAN. Peserta dapat mengusulkan karya sastra yang berbicara tentang konflik etnis dan agama, dan bagaimana penulis memecahkan masalah.

Diskusi (6) "Peran Sastra Terjemahan"

Membahas tentang keterbelakangan terjemahan sastra ASEAN, dan upaya untuk meningkatkannya.

Diskusi (7) "Kemanakah kritik sastra kita?"

Membahas peran kritikus dalam pengembangan dunia sastra dan tidak adanya kritik sastra kontemporer di Asean. Tidak saja di Indonesia, tetapi mungkin kita menemukan di negara lain. Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Diskusi (8) "Perempuan dan Sastra"

Ini adalah diskusi yang akan berbicara lebih banyak tentang munculnya penulis perempuan di ASEAN, dan bagaimana perubahan lanskap sastra terjadi. Apakah benar bahwa kebanyakan penulis wanita sekarang membangun kesadaran melalui karya-karya mereka, terutama tentang hak asasi manusia, kebebasan dan kemanusiaan? Yang pasti, ini menarik untuk dibahas. (Info: Asean Literary Festival)

back to top