Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Festival Lima Gunung masih sekedar tontonan, bukan gerakan kebudayaan

Festival Lima Gunung masih sekedar tontonan, bukan gerakan kebudayaan
Festival Lima Gunung yang digagas Sutanto Mendut, boleh jadi sukses sebagai tontonan, tetapi ia gagal sebagai sebuah gerakan kebudayaan.

Magelang-KoPi- Demikian, Ismanto, mantan ketua Festival Lima Gunung mengungkapkan. Pernyataan ini disampaikannya ketika diminta tanggapannya setelah usai gelar Festival Lima Gunung ke 13, 25 Agustus 2014, di rumahnya, Dusun Ngampel, Talun Magelang.
Ismanto, menuturkan bahwa ajang ini masih sekedar menjadi tontonan, namun belum memberikan arti sesungguhnya sebagai sebuah gerakan kebudayaan.  Seniman pahat ini lebih jauh menyampaikan kekecewaannya tentang pengelolaan Komunitas Lima Gunung yang tidak transparan dan tidak berbasis edukasi.

Hal senada disampaikan Nundang Rundagi (51), seorang pengamat kebudayaan dan Yoyo (53), seniman lukis asal Magelang. Nundang dan Yoyo melihat bahwa peristiwa kebudayaan Festival Lima Gunung masih hanya sampai peristiwa bersuka ria tanpa alasan.

“Esensinya belum sampai pada dampak kultural yang mendidik,” jelas Nundang. “ Saya tidak menemukan apa-apa. Sebagai pesta rakyat,  iya bagus, festival ini berhasil bertahan dalam kurun waktu tiga belas tahun. Di Indonesia belum pernah terjadi. Saya tidak tahu,apa tujuan dari festival ini, apakah hanya untuk menyatukan masyarakat lima gunung , atau apakah ada kaitannya dengan peristiwa kebudayaan masyarakat setempat, misalnya, masyarakat berhasil dalam panen kemudian berpesta untuk merayakan, atau masyarakat berhasil dalam menyelamatkan lingkungannya kemudian diadakan pesta, atau hanya berpesta saja tanpa tujuan. Saya hanya melihat masih hanya sebagai pesta “

Nundang dan Yoyo berpendapat bahwa setiap event kebudayaan pasti memiliki dampak kultural pada masyarakat. Dan bila kebudayaan lain seperti perilaku yang tidak cocok masuk, itu sangat berbahaya bagi masyarakat pegunungan yang memiliki tradisi relatif murni. Dampak-dampak itulah yang harusnya dipertimbangkan.

“Sebagai sebuah peristiwa, event ini berhasil sebagai tontonan dan menarik banyak orang ke gunung, termasuk bule-bule. Tetapi jika masyarakat tidak siap bisa berbahaya bagi eksistensi nilai-nilai moral mereka. Karena masyarakat akan melihat dan bisa terpengruh pada budaya yang sama sekali berbeda dengan kebudayaan mereka yang belum tentu cocok,” Nundang Rundagi menjelaskan.

Sementara itu, Yoyo, berpendapat, bahwa ajang kesenian seperti ini seharusnya mampu menghadirkan sebuah dampak kesadaran moral kebudayaan yang lebih luas. Hal kecil misalnya yang harus ada, bagaimana masyarakat kemudian menjadi sadar tentang menjaga lingkungannya, seperti membuang sampah dengan benar, misalnya.

“Ini sebuah pesta rakyat yang berhasil, namun, seharusnya, sebuah pesta rakyat mesti dimulai atas dasar  ‘untuk merayakan  peristiwa keberhasilanke budayaan lainnya.” Demikian, kesimpulan Nundang.

Tanto Mendut sendiri ketika dihubungi melalui istrinya Mami Kato tidak memberikan jawaban.

Winda Efanur Fs

back to top