Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

FDA, standar pangan internasional Pupuk ZA aman

FDA, standar pangan internasional Pupuk ZA aman

Sleman-KoPi|Kasus nata de coco telah menjadi perbincangan nasional. Para pakar dan pihak merasa terlibat masing-masing beradu argumentasi tentang keamanannya. Menurut petani nata, penggunaan pupuk ZA di dalam proses pembuatan nata de coco hanya sebagai unsur untuk mengembangbiakan bakteri.

Hal itu juga dikuatkan oleh pernyataan dari konsultan produksi nata de coco Rahmad Agus Koto. S.si. Dia memaparkan peran ZA dalam nata de coco. ZA, singkatan dari Zwavelzure Ammoniak, berasal dari bahasa Belanda yang berarti Ammonium Sulfat ((NH4)2SO4), 21% Nitrogen dan 24 % Sulfat.

Senyawa garam anorganik berbentuk kristal pada suhu ruang, larut dalam air yang “pecah” menjadi ion ammonium (NH4+) dan ion sulfat (SO4−2 ).

Dalam proses pembuatan nata de coco dari air kelapa tua, ZA ditambahkan sebanyak 3-5 gram per liter air kelapa sebagai suplemen makanan bagi bakteri Acetobacter xyllinum (sumber nitrogen dan sulfur dalam proses metabolisme), untuk meningkatkan produktivitasnya dalam mengubah gula dalam air kelapa menjadi serat selulosa (nata).

Hal ini dapat disamakan seperti pupuk yang diberikan kepada padi, lalu padi “memakan” pupuk tersebut, yang kemudian akan menghasilkan beras.

Jikapun ada sisa ZA yang sudah “pecah” pada nata saat dipanen, ZAnya sudah terbuang habis selama proses pengolahan paska panen. Hal ini dapat dianalogikan seperti mencuci buah-buahan dari kotoran yang melekat.
Rahmat menegaskan ZA tersebut bukanlah bagian dari nata de coco yang telah diolah. Istilah zat tambahan pangan untuk ini sama sekali tidak tepat, bukan seperti zat tambahan pangan yang ditambahkan ke dalam produk akhir misalnya zat pengawet makanan.

ZA bukanlah bahan beracun, sejauh ini tidak ada indikasi zat kimia ini bisa membahayakan kesehatan. Malah ada yang menggunakannya sebagai zat tambahan pangan dalam pembuatan roti (bread) untuk meningkatkan kualitas teksturnya.

ZA aman

US Food and Drug Administration (FDA) memasukkan ZA ke dalam daftar zat tambahan pangan aman (Generally Recognized As Safe (GRAS)) yang ditambahkan langsung ke dalam makanan, dengan catatan sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practice(GMP), tidak lebih dari 0,15 % untuk produk roti, 0,1% untuk produk gelatin dan puding (CFR, FDA).

Hal itu juga disepakati oleh pakar pangan fakultas teknologi pertanian UGM, Prof. Endang S. Rahayu mengatakan Amomium sulfat itu aman untuk produksi makanan, sesuai pernyataan dari FDA.

Sampai sini sudah terjawab kekhawatiran masyarakat tentang kandungan pupuk ZA dalam proses pembuatan nata de coco. Namun Prof. Endang tetap menganjurkan menggunakan foodgrad demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Penggunaan ammonium sulfat (ZA) aman itu statement dari FDA, tetapi kami tetap menghimbau agar petani nata menggunakan Foodgrad, kami tidak berbicara pada aman dan tidaknya tetapi untuk produki pangan ya sesuai standar pangan yang pas, dengan foograd”, papar Prof. Endang.  |Winda Efanur FS|

back to top