Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

ETNOGRAFI PULAU CINTA : Getaran Cinta Dari Madura

ETNOGRAFI PULAU CINTA : Getaran Cinta Dari Madura

Banyak catatan lapangan yang membuat hati Saya bergetar. Dari pengalaman berkunjung ke Pulau Cinta di Madura. Catatan ini akan Saya tuangkan sekelumit saja. Karena, sejatinya ini adalah catatan etnografis yang sengaja disusun untuk memenuhi tugas perkualiahan di kajian budaya dan media Universitas Gadjah Mada.

Setidaknya, ada beberapa pulau yang hendak dikunjungi. Termasuk diantaranya Masalembu di ujung paling timur Madura yang berbatasan dengan Kalimantan. Untuk yang satu ini, akan saya simpan dulu. Saya akan berbagi catatan dari satu pulau di Sampang-Madura. Bagi masyarakat sekitar Madura, pulau itu dikenal sebagai Pulau Kambing. Belakangan justru lebih populer dengan sebutan pulau Mandangin.Tapi, Saya lebih senang menyebutnya sebagai Pulau Cinta karena asal-usul mitos leluhurnya.    

Belakangan, Pulau Mandangin itu sempat menjadi perdebatan sengit diantara anak muda Madura di forum kompasiana.com. Setidaknya, ada dua penulis yang memperdebatkannya. Satu asli pemuda Mandangin. Satunya lagi, anak muda dari luar Mandangin, tetapi lahir dan besar di Madura. Dua-duanya Saya mengenalnya. Mereka tengah memproduksi makna genealogis Pulau Mandangin.

Sebagai orang keturunan Mandangin, dia menulis catatan bahwa pulau itu merupakan pulau para pertapa. Karena tempatnya yang sunyi, jauh dari pusat kota, dan tentu saja dikelilingi bukit dan hutan yang lebat. Namun, anggapan itu dibantah oleh penulis dari luar Mandangin. Menurut telusur kajian akademik, Pulau Mandangin dulunya adalah pulau pengasingan para pengidap lepra ketika masa kolonial Belanda.

Tulisan ini tidak akan memperkeruh suasana perdebatan itu. Namun, ada mitos yang telah lama berkembang di sana mengenai legenda Bangsacara dan Ragapadmi. Keduanya disebut-sebut sebagai leluhur pulau Mandangin. Jejak pusaranya masih ada hingga kini. Meski demikian, dari tilikan dokumen historis yang saya temukan bahwa di sana pada masa Majapahit telah tinggal Pangeran Pratikel, keturunan dari Ario Lembu Peteng (putra dari Raja Majapahit terakhir). Lembu Peteng ini menjadi cikal bakal dari raja-raja di Madura Barat, termasuk Cakraningrat I (suami dari ratoh ebuh di Arosbaya pada masa kerajaan Mataram). Lembu Peteng kemudian memutuskan untuk turun tahta karena mengikuti jejak Sunan Ampel hingga akhir hayatnya. Makamnya kini berada di lingkungan pemakanan Sunan Ampel Surabaya.

Namun, cerita Bangsacara dan Ragapadmi justru lebih menarik perhatian orang Mandangin dan masyarakat Madura pada umumnya. Bahkan, Sastrawan Madura sekaliber Zawami Imron pun pada tahun 1983 (terbitan Bintang) pernah menuliskan kisah Bangsacara-Ragapadmi sebagai cerita cinta dari Rakyat Madura. Termasuk, pemerhati budaya Madura dari Bangkalan, Moh. Hasan Basra juga pernah menuliskan kisah yang sama.

Cerita Bangsacara-Ragapadmi juga pernah tertuang dalam materi pelajaran sejarah Madura di sekolah pada era Orde Lama dan awal Orde Baru. Sayang, cerita itu kini nyaris tidak terdengar lagi di sekolah Madura. Anak sekolahan di sana lebih senang membaca cerita detektif Conan, Sherlock Homes, Spiderman dan kegilaan Wiro Sableng. Bahkan, para orang tua di sana merasa bangga jika anak-anaknya memiliki pengetahuan dunia ‘barat’ daripada kehidupan sosial budaya Maduranya. Saya pun sempat terkena imbasnya. Padahal, dibalik cerita Bangsacara-Ragapadmi itu bisa dipetik banyak pelajaran hidup yang tidak kalah berharganya.

Fans Berat Bangsacara-Ragapadmi

Tidak ada jalan lain menuju ke Pulau Mandangin selain menempuh jalur laut. Dari pusat kota Sampang sekitar 2 Km menuju ke arah timur (mengikuti jalan raya menuju ke kota Pemekasan) ada pelabuhan Tanglo’. Pelabuhan inilah satu-satunya tempat keberadaan perahu motor berlayar yang digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang menuju ke Pulau Mandangin. Waktu tempuh ke pulau itu sekitar 2-3 jam, bergantung cuaca. Waktu keberangkatan pun hanya sekali dalam sehari. Jam 11.30 WIB dari Tanglo’ ke Mandangin. Dan, jam 06.00 WIB dari Mandangin ke Tanglo’. Beberapa perahu memang ada yang berangkat jam 09.30 WIB. Tetapi, sangat jarang sekali. Jika cuaca buruk, perahu tidak akan berlayar. Karena alasan keselamatan.  

Umumnya, pemilik perahu adalah orang Mandangin. Begitu pula dengan para awaknya yang kebanyakan anak muda. Uniknya, mereka tahu persis penumpang ‘asli’ Mandangin dan ‘orang luar’ Mandangin. Ketika mengangkut ‘orang luar’, biasanya di tengah perjalanan sebagian besar awak perahu bercerita tentang Bangsacara dan Ragapadmi. Keduanya dianggap sebagai ‘leluhur’ orang Mandangin yang memiliki kisah asmara layaknya Remeo dan Juliet. Kuburan Bangsacara-Ragapadmi hingga kini masih terawat dengan baik. Meskipun, sejarah asmara keduanya cenderung mengandung mitos.

Konon, Bangsacara merupakan salah satu patih kepercayaan di kerajaan Pacangan. Namanya tersohor karena rakyat mengenalnya sebagai orang bijak, penolong, dan berhati mulia. Sementara, Ragapadmi adalah salah satu putri sang raja, raja Bidarba. Ragapadmi berparas cantik dan baik budi pekertinya, namun menderita penyakit kulit yang membuat tubuhnya penuh nanah berbau busuk. Karena tidak kunjung sembuh, maka dia dipercayakan kepada Bangsacara untuk pengobatannya. Singkat cerita, Ragapadmi berhasil disembuhkan. Lalu, keduanya pun jatuh hati. Berniat menjadi sepasang kekasih, sehidup-semati di suatu pulau yang tenang serta jauh dari hiruk pikuk kekuasaan.

Hingga suatu hari Bangsacara hendak disingkirkan dari kerajaan. Atas nama rajanya, seorang patih lainnya yang iri terhadapnya, memintanya pergi ke pulau (yang kini bernama Pulau Mandangil) dengan ditemani dua ekor anjing peliharaannya untuk berburu 100 ekor rusa. Tetapi, akhirnya dia dibunuh oleh Raga Pate, sesama patih kerajaan itu. Melihat kematian sang kekasih, Ragapadmi lalu bunuh diri di samping jasad Bangsacara (Imron, 1983). Mitos lain mengatakan bahwa Ragapadmi meninggal dunia karena penyakit lepra yang telah lama dideritanya, sebagaimana kematian Nyai Roro Kidul yang mitosnya terkena penyakit cacar (Jordaan, 1984: 101).  

Kini, makam mereka sering dijadikan tempat berziarah. Apabila memiliki keinginan (hajâd), anak muda di sana akan melakukan ritual permohonan doa di sekitar makam leluhurnya. Hal itu pun juga berimbas pada budaya masyarakat nelayan di sana. Sekitar 95% penduduk pulau itu bermata pencaharian sebagai nelayan (Monografi desa, 2013). Tradisi menenggelamkan kapal sebagai simbol buang sial (moang apes) juga mereka lakukan di sekitar area makam Bangsacara-Ragapadmi. Dengan syarat, tradisi ini harus dilaksanakan tanpa sepengetahuan orang lain (Giri, 2010: 75). Di sisi lain, ada norma tidak tertulis bahwa ‘orang luar’ yang berziarah ke makam itu selayaknya diperlakukan sebagai tamu kehormatan (tamoyya Allah). Maka tidak heran, para penduduk sekitar berlomba-lomba menawarkan kepada ‘orang luar’ itu untuk bermalam di rumahnya tanpa harapan imbalan material apapun.  

Mitos Bangsacara-Ragapadmi sekaligus produksi makna terhadap leluhurnya itu merupakan praktik kultural yang menjadi identitas orang Mandangin. Nilai kebaikan dan kemurahatian dibalik mitos leluhurnya itu juga bagian dari jalan hidup orang Mandangin yang terus direproduksi lintas generasi. Itu sebabnya, kedua tokoh itu menjadi idola sosio-kultural bagi orang sekitarnya.

Tetapi, idolaisasi leluhur ini senyatanya sangat ironi. Apapun bentuknya, praktik idolaisasi itu merupakan manifestasi kesadaran penuh resiko. Di dalamnya terkandung rasa cemas dan krisis keselamatan karena adanya ancamannya yang datang dari ‘orang luar’. Maka, tampilnya sosok idola, pahlawan, atau mitos ketokohan di masa silam itu adalah wujud hadirnya budaya ketakutan (fear culture) yang terselubung di tengah masyarakat (Furedi dalam Bennet, 2005: 44).

Ironisnya, budaya ketakutan ini justru dirayakan sebagai proses budaya penggemar (fandom culture) orang Mandangin. Sirkulasi informasi yang tanpa dasar kebenaran dan properti kultural yang dipertontonkan dalam kehidupan sehari-hari itu senyatanya praktik penyisipan kepalsuan samar-samar (interpolation) dari autobirografi sosial yang sengaja disusun untuk menunjukkan efek budaya kegemaran ‘personal/kolektif’ (Hoxter dalam Hills, 2002:61). Di satu sisi, orang Mandangin, termasuk anak mudanya merasa bangga dengan mitos cinta Bangsacara-Ragapadmi. Tetapi, di sisi lain mereka tengah menyebarkan pengetahuan palsu kepada pihak luar. Batas antara kebenaran dan kesesatan menjadi buram dan remang-remang.

Memang, dari mitos Bangsacara-Ragapadmi itu mereka bisa memetik tentang arti cinta dan kesetiaan terhadap kehidupan, kebaikan, dan kemanusiaan. Penyelewengan kekuasaan juga layak dibalas dengan kemuliaan. Sehingga, tidak menimbulkan balas dendam yang berkepanjangan. Tapi, namanya juga penggemar fanatik, maka apapun akan dilakukannya demi menegakkan reputasi sang idola. Termasuk, harga diri pulaunya. Meski terkadang ini bisa dianggap berlebihan. Kata anak muda sekarang disebut lebay.

 

Daftar Pustaka

Andy Bennet, 2005. Culture and Everday Life, London: SAGE Publications
Matt Hills, 2002. Fan Culture, London and New York: Raoutledge
Roy E. Jordaan, 1984. The Mystery of Nyai Lara Kidul, Goddess of the Southern Ocean In: Archipel. Volume 28, hal. 99-116. http://www.persee.fr/web/revues/home/prescript/article/arch_0044-8613_1984_num_28_1_1921
Wahyana Giri, M.C, 2010. Sajen dan Ritual Orang Jawa, Yogyakarta: Penerbit Narasi
Zawawi Imron, 1983. Bangsacara-Ragapadmi: Cerita Cinta dari Rakyat Madura, Surabaya: Penerbit Bintang
http://www.kompasiana.com/likinisme/sejarah-singkat-pulau-mandangin-sampang-madura_54f8b182a333118a178b47cb
http://www.kompasiana.com/mapung/bantahan-atas-tulisan-holikin-ismail_5562fd3bce7e61d45ecb914a
   

back to top