Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Enzim HO-1 adalah faktor resiko dari obesitas

Enzim HO-1 adalah faktor resiko dari obesitas

Vienna-KoPi, Peneliti Austria dan Jerman menemukan enxim HO-1 yang menjadi faktor kunci dalam menentukan tingkat penyakit yang diakibatkan obesitas, APA melaporkan Kamis (3/7).

Dalam sebuah koloborasi antara ilmuwan dari Medical University of Vienna Planck Institute Immunobiology and Epigenetics dan Paracelsus Medical University, menemukan bahwa penderita obesitas dengan tingkat lebih rendah dari enzim tersebut menunjukkan kecenderungan yang minim terhadap penyakit yang berhubungan dengan obesitas seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular.

Penelitian pertama dilakukan pada tikus, dimana ditemukan bahwa jika enzim berkurang dalam berbagai organ utama, tikus berat badannya masih naik tetapi tidak mengembangkan komplikasi terkait fatty liver atau kerusakan hati, dan sel-sel tidak mengembangkan resistensi terhadap insulin.

Kadar enzim tersebut diprediksikan tidak juga tergantung dengan berat badan, lingkar pinggang atau jumlah lemak di perut, kata Harald Esterbauer pemimipin penelitian, menambahkan ini adalah “kejutan yang lengkap”, dan berarti bagi para peneliti dalam menentukan faktor resiko yang baru mengenai obesitas.

(Fahrurrazi)
Sumber: Xinhua News

back to top