Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Enzim HO-1 adalah faktor resiko dari obesitas

Enzim HO-1 adalah faktor resiko dari obesitas

Vienna-KoPi, Peneliti Austria dan Jerman menemukan enxim HO-1 yang menjadi faktor kunci dalam menentukan tingkat penyakit yang diakibatkan obesitas, APA melaporkan Kamis (3/7).

Dalam sebuah koloborasi antara ilmuwan dari Medical University of Vienna Planck Institute Immunobiology and Epigenetics dan Paracelsus Medical University, menemukan bahwa penderita obesitas dengan tingkat lebih rendah dari enzim tersebut menunjukkan kecenderungan yang minim terhadap penyakit yang berhubungan dengan obesitas seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular.

Penelitian pertama dilakukan pada tikus, dimana ditemukan bahwa jika enzim berkurang dalam berbagai organ utama, tikus berat badannya masih naik tetapi tidak mengembangkan komplikasi terkait fatty liver atau kerusakan hati, dan sel-sel tidak mengembangkan resistensi terhadap insulin.

Kadar enzim tersebut diprediksikan tidak juga tergantung dengan berat badan, lingkar pinggang atau jumlah lemak di perut, kata Harald Esterbauer pemimipin penelitian, menambahkan ini adalah “kejutan yang lengkap”, dan berarti bagi para peneliti dalam menentukan faktor resiko yang baru mengenai obesitas.

(Fahrurrazi)
Sumber: Xinhua News

back to top