Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Enam puluh persen mahasiswa Yogyakarta non aktivis

http://www.si-pedia.com http://www.si-pedia.com

Jogja-KoPi|Mahasiswa yang menjadi aktivis di Yogyakarta hanya 40%, sementara yang 60% non aktivis karena jarang menyentuh konflik.

 

Forum Badan Eksekutif Mahasiswa DIY, Nur Fattah, mengatakan jika di bandingkan antara mahasiswa aktivis dan non aktivis, terdapat 60% mahasiswa Yogyakarta non aktivis dan sisanya merupakan mahasiswa aktivis, ujarnya saat diskusi Refleksi May Day di hotel Cakra Kembang Yogyakarta, Sabtu (28/7).

Fattah mengatakan hampir lebih dari setengah total mahasiswa Yogyakarta kemungkinan besar berasal dari lingkungan yang berkecukupan dan jarang menyentuh konflik. Lanjutnya mahasiswa non aktivis ini sangat minim dalam berpartisipasi untuk menyampaikan suara rakyat, terfokus pada kuliah dan tidak kritis terhadap keadaan.

"Mahasiswa DIY yang mendukung buruh sangat sedikit jumlahnya dibandingkan jumlah mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang) dan mahasiswa karaoke”, katanya.

Menurut nya seluruh mahasiswa DIY seharusnya ikut serta dalam pergerakan ekstra parlementer. Ekstra perlementer sendiri artinya mahasiswa bergerak di luar kebijakan pemerintah dan memberikan dorongan, usulan, pengawasan didalam kebijakan tersebut.

Namun yang terjadi hampir setengah mahasiswa Yogyakarat berdiri secara individual. Dia menyebutkan mahasiswa jenis ini sering mengekploitasi buruh dengan landasan tugas skripsi tanpa melihat keadaan buruh tersebut.

Fattah sendiri menyarankan kepada seluruh mahasiswa setelah menyelesaikan tugas tersebut sebaiknya meneruskan  untuk menyampaika keadaan buruh tersebut kepada lembaga pemerintahan.

"Kita sebagai mahasiswa seharusnya datang untuk advokasi dan mencari tahu permasalahan petani atau buruh  agar selanjutnya digerakkan agar kita mendapat audiensi dengan pemerintah terkait permasalahan tersebut”, lanjut Fattah

Sebagai mahasiswa aktivis dirinya akan terus mendorong kepada semua mahasiswa Yogyakarta untuk ikut serta sebagai tangan panjang rakyat untuk mencapai pemerintah.

"Terkait dengan kegiatan aksi, setelah kita melakukan aksi dan audiensi ya kita akan menunggu. Selama jawaban itu belum dikeluarkan kita akan terus berdiskusi, beraksi dan mengawasi, jika jawaban sudah keluar ya kita akan  dukung bersama-sama”,  pungkasnya.|Syafiq Syaiful Ardli

back to top