Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Dunia hadapi krisis pangan yang lebih parah dari Perang Dunia II

Dunia hadapi krisis pangan yang lebih parah dari Perang Dunia II
KoPi | Badan pangan PBB Jumat (20/2) lalu memperingatkan bahwa dunia menghadapi krisis pangan terberat sejak Perang Dunia II. Krisis ini telah memperburuk lima krisis kemanusiaan terbesar yang terjadi saat ini. Lima krisis tersebut antara lain konflik di Suriah, Iraq, Afrika Tengah, Sudah Selatan, dan epidemik Ebola di Afrika Barat.
 

Etharin Cousin dari World Food Program (WFP) mengatakan, kelima tempat tempat tersebut perlu mendapat bantuan operasi skala besar dari WFP dan badan-badan dunia lain. Cousin menyebutkan permintaan bantuan lebih besar daripada jumlah bantuan yang diberikan negara donor. Akibatnya, WFP harus memotong bantuan makanan untuk 6 juta warga Suriah yang berada di dalam dan di luar negara tersebut.

“Saat ini kita menghadapi krisis yang memerlukan operasi skala besar dari komunitas dunia sejak Perang Dunia II,

Cousin menyatakan WFP perlu dana sebesar U$ 113 juta untuk tetap dapat menyediakan bantuan makanan bagi warga Suriah di bulan-bulan mendatang. WFP telah menghentikan pemberian kupon makanan bagi 2 juta pengungsi Suriah pada Desember lalu karena sudah kehabisan dana. Baru pada Januari lalu WFP kembali mendapat bantuan setelah menggalang dana lewat media sosial.

“Pengungsi Suriah yang berada di Iraq sendiri saat ini masih lebih baik keadaannya, karena pemerintah Arab Saudi telah mengucurkan dana sebesar US$ 148 juta kepada WFP,” ungkap Cousin.

Namun, bantuan tersebut diperkirakan akan habis pada tanggal 1 Mei. Pada tanggal-tanggal tersebut akan dimulai operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali Mosul, kota terbesar kedua di Iraq. WFP memohon pada negara-negara donor untuk memberikan bantuan untuk mengantisipasi warga yang terimbas operasi tersebut.

Cousin menyayangkan sedikitnya perhatian yang diberikan pada Sudan Selatan dan Afrika Barat, padahal intensitas kekerasan di sana terus meningkat. 

WFP juga menerjunkan sekitar seribu orang stafnya di tiga negara yang terserang epidemi Ebola paling parah, yaitu Liberia, Sierra Leone, dan Guinea. Tim WFP menyediakan bantuan makanan dan bantuan logistik dari WHO untuk 3,3 juta warga di sana.

Selain itu, masih ada empat negara lain yang sedang mengalami ketidakstabilan politik dan perlu penanganan segera, seperti Yaman, Nigeria, Ukraina, dan Libya. | AP

back to top