Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Dunia hadapi krisis pangan yang lebih parah dari Perang Dunia II

Dunia hadapi krisis pangan yang lebih parah dari Perang Dunia II
KoPi | Badan pangan PBB Jumat (20/2) lalu memperingatkan bahwa dunia menghadapi krisis pangan terberat sejak Perang Dunia II. Krisis ini telah memperburuk lima krisis kemanusiaan terbesar yang terjadi saat ini. Lima krisis tersebut antara lain konflik di Suriah, Iraq, Afrika Tengah, Sudah Selatan, dan epidemik Ebola di Afrika Barat.
 

Etharin Cousin dari World Food Program (WFP) mengatakan, kelima tempat tempat tersebut perlu mendapat bantuan operasi skala besar dari WFP dan badan-badan dunia lain. Cousin menyebutkan permintaan bantuan lebih besar daripada jumlah bantuan yang diberikan negara donor. Akibatnya, WFP harus memotong bantuan makanan untuk 6 juta warga Suriah yang berada di dalam dan di luar negara tersebut.

“Saat ini kita menghadapi krisis yang memerlukan operasi skala besar dari komunitas dunia sejak Perang Dunia II,

Cousin menyatakan WFP perlu dana sebesar U$ 113 juta untuk tetap dapat menyediakan bantuan makanan bagi warga Suriah di bulan-bulan mendatang. WFP telah menghentikan pemberian kupon makanan bagi 2 juta pengungsi Suriah pada Desember lalu karena sudah kehabisan dana. Baru pada Januari lalu WFP kembali mendapat bantuan setelah menggalang dana lewat media sosial.

“Pengungsi Suriah yang berada di Iraq sendiri saat ini masih lebih baik keadaannya, karena pemerintah Arab Saudi telah mengucurkan dana sebesar US$ 148 juta kepada WFP,” ungkap Cousin.

Namun, bantuan tersebut diperkirakan akan habis pada tanggal 1 Mei. Pada tanggal-tanggal tersebut akan dimulai operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali Mosul, kota terbesar kedua di Iraq. WFP memohon pada negara-negara donor untuk memberikan bantuan untuk mengantisipasi warga yang terimbas operasi tersebut.

Cousin menyayangkan sedikitnya perhatian yang diberikan pada Sudan Selatan dan Afrika Barat, padahal intensitas kekerasan di sana terus meningkat. 

WFP juga menerjunkan sekitar seribu orang stafnya di tiga negara yang terserang epidemi Ebola paling parah, yaitu Liberia, Sierra Leone, dan Guinea. Tim WFP menyediakan bantuan makanan dan bantuan logistik dari WHO untuk 3,3 juta warga di sana.

Selain itu, masih ada empat negara lain yang sedang mengalami ketidakstabilan politik dan perlu penanganan segera, seperti Yaman, Nigeria, Ukraina, dan Libya. | AP

back to top