Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Dua remaja Australia dicegah gabung dengan ISIS

Dua remaja Australia dicegah gabung dengan ISIS

Canberra-KoPi| Dua bersaudara warga Australia berusia 16 dan 17 dicegah keluar dari Bandara Sydney karena diduga akan bergabung dengan ISIS, kata Menteri Perlindungan Perbatasan Peter Dutton Minggu, 8 Maret 2015.

Pejabat itu tidak mengatakan ke mana tujuan anak muda ke Timur Tengah. Ia juga menolak mengatakan apa yang ditemukan di bagasi mereka yang menimbulkan kecurigaan dan dilaporkan ke unit anti terorosime di bandara.

"Kedua pria muda berusia 16 dan 17 adalah anak-anak, bukan pembunuh, dan mereka seharusnya tidak diperbolehkan untuk pergi ke negeri asing untuk berperang kemudian kembali ke tanah kami akhirnya lebih radikal," Dutton kepada wartawan.

"Orang tua anak-anak itu "seperti terkejut" ketika kami menemukan anak-anak mereka berusaha untuk meninggalkan Australia", kata Dutton.

Mereka berubah menjadi radikal melalui internet, kata Dutton. Namun Dutton juga tidak mengatakan siapa yang membelikan tiket mereka.

Pemerintah di seluruh dunia sedang mencoba untuk mencegah anak-anak remaja  pergi ke Irak-Suriah dan bergabung dengan kekhalifahan.

Australia tengah memperjuangkan undang-undang baru yang menjerat secara pidana dengan ancaman hukuman 10 tahun bila memasuki wilayah negara Islam tanpa alasan yang sah.

"Ini adalah dua pemuda Australia yang tersesat, mereka lahir dan dibesarkan di  Australia, sekolah di sini, dibesarkan di sini, menyerap nilai-nilai kami, namun tampaknya mereka tergoda kultus kematian dan mereka berada di ambang yang mengerikan dan berbahaya, "kata Perdana Menteri Tony Abbott pada wartawan."

"Saya senang mereka dapat dicegah dan pesan saya kepada siapa saja yang mendengarkan kultus kematian, tutup telinga Anda. Jangan mulai berpikir Anda dapat meninggalkan" Australia, tambahnya.

Pemerintah mengatakan bulan lalu setidaknya 90 warga Australia berjuang dan mendukung kelompok-kelompok teroris di Irak dan Suriah dan paspor mereka dibatalkan. Lebih dari 20 warga Australia tewas.|AP

back to top