Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

DR. Hojjatollah Ebrahimian: Iran akan fasilitasi kerjasama membuat film

DR. Hojjatollah Ebrahimian: Iran akan fasilitasi kerjasama membuat film

KoPi- Hubungan Indonesia - Iran selama ini belum banyak diketahui masyarakat secara luas. Dalam sebuah kesempatan, KoranOpini.com melakukan wawancara dengan DR. Hojjatollah Ebrahimian, Konselor Budaya Republik Islam Iran di Yogyakarta, 26 Oktober 2014, sedikit memberikan informasi itu. Wawancara ini memberikan gambaran hubungan yang baik antara dua bangsa, yaitu di antaranya, Iran memberikan kemungkinan kerjasama budaya yang menarik dengan mengundang para seniman film Indonesia yang berminat membuat film bersama. Berikut laporan Suci Wulandari dari KoranOpini.com

Bagaimana Anda melihat hubungan Indonesia dan Iran ke depan?

Karena di sini saya sebagai Konselor Kebudayaan, saya mungkin hanya berbicara dari sisi atau dari pandangan hubungan Indonesia dengan Iran dari sudut pandang kebudayaan dan juga mungkin keagamaan.

Menurut saya, hubungan dengan Indonesia ini sudah mulai pada abad ke 15 atau 16 ketika itu ada orang – orang Iran yang datang ke sini (Indonesia) mungkin sebagai saudagar yang juga membawa hadiah yaitu Islam, yang kemudian disebarkan di wilayah Nusantara ini. Mereka datang dari mungkin dari wilayah – wilayah Persia dan secara umum datang ke Asia Tenggara, khususnya salah satunya adalah wilayah Nusantara ini. Kemudian setelah itu pedagang – pedagang, mubaligh dan yang lain dari Arab, negara – negara Arab atau bahkan dari Gujarat juga kemudian menyusul dan ikut andil dalam penyebaran masuknya Islam ke Indonesia atau Nusantara.

Sekarang bisa kita saksikan jejak sejarah, di Aceh kita bisa melihat batu nisan yang mana batu nisan tersebut dituliskan syair – syair berbahasa Persia dan ini mengindikasikan akan hubungan Indonesia atau Nusantara dengan Iran sudah ada sejak saat itu.

Poin penting yang perlu saya sampaikan adalah bahwa Iran dengan Indonesia mungkin dari satu sisi memiliki persamaan bahwa masyarakat Nusantara ketika itu menerima Islam dengan lapang dada, tidak dengan kekerasan ataupun peperangan. Mereka kemudian menyambut hangat para pembawa syiar agama Islam dan menyambut dakwah mereka dengan lapang dada begitu juga dengan kondisi penduduk Iran, ketika Iran kemudian ke sana mereka juga dengan lapang dada tanpa menumpahkan darah. Artinya tanpa kekerasan dan peperangan.

Begitu juga persamaan dengan kedua negara Indonesia dengan Iran yang selama ini memiliki mayoritas penduduk Islam. Di Indonesia mungkin ada sekitar 80% penduduk Islam, di Iran mungkin lebih banyak dari pada di persentasenya dan ini merupakan sebuah persamaan yang juga harus berlanjut kepada kerjasama yang lebih dalam dari pada sebelumnya. Kita memiliki keyakinan bahwa Allah SWT dan kita juga meyakini nabi terakhir adalah nabi Muhammad SAW dan kitab yang kita miliki adalah Al-Quran. Itu adalah persamaan – persamaan yang kita miliki.

Dan persamaan yang ke tiga yang selama ini saya perhatikan dari penduduk Indonesia bahwa penduduk Indonesia dengan Iran sama – sama mencintai keluarga nabi, maksudnya keturunan – keturunan nabi, walaupun mungkin dari sisi mazhab di Indonesia dengan Iran memiliki kelainan. Iran misalnya meyakini mazhab Ja’fary dan di Indonesia mayoritas adalah Syafi’i namun kedua penduduk bangsa ini penduduknya memiliki kecintaan terhadap keluarga nabi dan bahkan di Indonesia kalau bisa saya sebutkan ada keturunan nabi sekitar dua hingga tiga juta orang, mereka semuanya adalah bermazhab Syafi’i namun keturunan mereka hingga sampai kepada nabi Muhammad SAW.  Mereka adalah keluarga nabi Muhammad SAW.

Poin berikutnya adalah bahwa di dunia saat ini, Islam sedang menghadapi sebuah tantangan. Tantangan tersebut adalah memahami Islam. Bila saya melihat Indonesia -Indonesia penganut Islam yang moderat, Islam yang toleran, Islam yang lebih mengedepankan logika dan juga rasional, begitu juga dengan penduduk yang ada di Iran. Jadi dalam hal ini, Iran dan Indonesia sama – sama memiliki persamaan menolak Islam yang keras, Islam yang mungkin semena – mena dan menerima Islam tanpa kekerasan.

Poin lain adalah bahwa Iran setelah kemenangan revolusi Islam, Iran sedang melangkahkan kaki dalam berbagai bidang bahkan mereka memiliki cita – cita untuk membangun peradaban baru Qur’ani dan Islami. Kalau kita melihat dari sisi Indonesia dengan mayoritas penduduknya mungkin 250 juta mayoritasnya adalah memeluk agama Islam dan meiliki banyak sekali potensi – potensi yang perlu dimanfaatkan dan dikembangkan. Apabila Iran dan Indonesia dalam hal ini bisa bekerjasama. Iran juga memiliki capaian – capaian keilmuan yang luar biasa, Indonesia juga dengan potensi – potensinya. Apabila dua negara ini bekerjasama dan saling bahu membahu untuk saling mencapai cita – cita bersama, masa depan bersama, maka tentunya dua negara ini akan bisa menjadi teladan bagi negara – negara yang lainnya. Teladan dan juga bisa menyelesaikan permasalahan – permasalahan atau konflik – konflik yang ada di dunia Islam.
 
Menurut Anda apakah perbedaan mazhab Sunni dan Syiah akan menjadi kendala dalam hubungan kedua negara?

Tentunya tidak akan pernah menjadi penghalang dan juga pengaruh sedikitpun, bahkan satu persenpun tidak mempengaruhi kerjasama yang akan dibina Indonesia dengan Iran. Jangankan dengan penduduk muslim sendiri, termasuk Indonesia. Dengan penduduk non muslim pun kita sudah menjalin kerjasama. Tentunya dengan yang muslim akan lebih kita prioritaskan.

Itu mungkin perbedaan mazhab hanya propaganda yang dibesar – besarkan oleh musuh Islam untuk menghalangi umat Islam dalam persatuan sesama. Oleh karena itu kita harus pandai – pandai bisa membaca situasi dan kondisi, terutama di masa ini, dan menurut saya perbedaan mazhab tersebut adalah sebagai perbedaan fiqh. Artinya dalam permasalahan – permasalahan fiqh saja, kita meyakini seperti ini, kemudian orang lain meyakini yang lainnya. Sementara ada hal penting yang harus kita perhatikan. Imam Khomeni selaku pencetus Revolusi Islam Iran dan pelanjut beliau Ayattullah Khomeni selalu menekankan tentang persatuan bahkan mereka mengatakan persatuan lebih wajib bahkan daripada makan malam kita. Oke kita gak makan malam tidak apa – apa, tapi menjaga persatuan adalah sebuah kewajiban.

Film – film Iran banyak dikagumi masyarakat film di indonesia, seperti Children of Heaven dan A Separation yang mendapat penghargaan di dunia internasional, apakah film bisa menjadi pengikat hubungan yang lebih baik antara dua negara ini?

Saya rasa sebuah pendekatan yang cukup bagus bagi terjalinnya hubungan antar negara dan Alhamdulillah, pada masa – masa berikut ini, mungkin tidak lama lagi kita akan menggelar festival film di 10 universitas di Indonesia -dan dalam hal ini tidak hanya penayangan – penayangan film tersebut -bahkan apabila ada lembaga –lembaga yang ingin bekerjasama dan ingin membuat film bareng misalnya kita siap untuk menjembatani dan menyambungkan dengan pihak – pihak film yang ada di Iran sehingga bisa membuat sebuah film yang digarap bersama.

Berapa besar Iran memberikan kesempatan bagi masyarakat Indonesia yang ingin belajar ke Iran? Apa programnya?

Kita ada program beasiswa di kedutaan  Iran, tentunya ada juga persyaratan yang harus dipenuhi bagi para pemohon. Bisa disampaikan ke kita melalui email, mungkin dengan datang ke kedutaan atau juga bisa melalui sarana lainnya untuk melengkapi persyaratan – persyaratan tersebut, mulai dari SMA yang ingin melanjutkan studi ke S1, S2, bahkan S3. Di Iran memang ada berbagai macam jurusan. Hanya saja ada beberapa jurusan yang diprioritaskan, misalnya kajian Islam, kajian ketimuran, atau mungkin jurusan bahasa dan sastra Persia. Mungkin itu yang menjadi prioritas apabila ada yang ingin mendaftar, silahkan dan akan kita sampaikan ke pihak Teheran.

Apa saja yang Anda lihat selama berada di Indonesia dari sisi pendidikan, kebudayaan, masyarakat dan agamanya?

Tentunya sebelum saya ditugaskan ke sini, saya juga mendengar beberapa hal tentang Indonesia, namun setelah saya datang ke sini ada beberapa hal yang sangat berbeda dari apa yang pernah saya dengar.

Secara umum bahwa Indonesia adalah sebuah negara besar, kemudian juga hijau, penuh dengan kehijauan, begitu juga masyarakatnya sangat ramah dan secara umum adalah negara yang cukup bagus.

Ada beberapa hal yang mungkin memiliki nilai positif dari Indonesia, misalnya banyaknya pusat – pusat pendidikan ataupun perguruan tinggi  yang ada di Indonesia,  misalnya saja kalau kita lihat catatan yang sampai kepada saya, perguruan tinggi yang dibawahi  secara langsung oleh kementrian agama saja ada 600.

Begitu juga dengan kedisiplinan dan keteraturan  yang ada di tengah – tengah masyarakat. Saya  sangat rasakan sekali walaupun mungkin jumlah penduduk yang sekian besar dan juga mengalami problema ekonomi juga, namun dari itu semuanya saya melihat kedisiplinan dan keteraturan di tengah – tengah mereka.

Selama ini apa kontribusi yang diberikan Iran pada Indonesia selama menjalin hubungan ?

Alhamdulillah ada beberapa hal yang mungkin bisa kita sebut sebagai kontribusi Iran terhadap Indonesia. Misalnya saja, kita pada satu tahun yang lalu, ketika Indonesia menggelar pekan budaya Indonesia dalam memperingati 1000 tahun hubungan Indonesia dengan Iran, mereka mengadakan di Teheran dan Alhamdulillah kita memberikan fasilitas semampu kita, sehingga acara tersebut berjalan dengan baik dan semaksimal mungkin dan kita juga mengundang dari berbagai macam lembaga atau tokoh dan masyarakat pada umumnya yang mengetahui akan Indonesia dari sisi budayanya dan dari sisi apapun yang dimilikinya.

Begitu juga undangan – undangan yang kita sampaikan di tokoh – tokoh yang ada di Indonesia supaya berkunjung ke Iran baik ke lembaga – lembaga pendidikan atau instansi pemerintahan. Kita harapkan memberikan kontribusi terhadap masyarakat Indonesia sendiri sehingga pandangan mereka terhadap Iran tidak hanya didengar dari media – media namun didengar dari orang – orang Indonesia sendiri yang sudah pernah pergi kesana.

Begitu juga penerjemahan – penerjemahan bahasa buku – buku bahasa Persia ke dalam bahasa Indonesia kita harapkan memberikan andil dan manfaat kepada pembaca Indonesia yang tentunya tidak sembarangan kita memilih buku – buku terjemahan yang kira – kira bisa bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Begitu juga film – film, dubbing film dan terjemahan – terjemahan film begitu juga kita harapkan bisa bermanfaat bagi banggsa Indonesia

 

back to top