Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

DPRD DIY menggelar seminar penanganan Klitih

DPRD DIY menggelar seminar penanganan Klitih

Jogja-Kopi|DPRD DIY menggelar Seminar Kemitraan dengan tema “Strategi mewujudkan Jogja Bebas Klitih” bertempat di ruang Paripurna lantai 1, Kamis(16/3).

Arif Noorhartanto selaku wakil ketua DPRD DIY menjelaskan gelaran seminar ini berangkat dari kasus klitih yang baru saja terjadi pada Sabtu (11/3) dan menghilangkan nyawa seorang permuda.

Menurut Arif Noorhartanto, kasus klitih ini perlu didalami agar dapat mengantisipasi kasus klitih yang sedang marak terjadi di Yogyakarta. Arif menjelaskan diskusi ini perlu diselenggarkan agar tecipta kerja sama yang sinergis dari berbagai pihak seperti DPRD, Kepolisian, Pemerintah, Pemerintah Daerah serta pihak sekolah. Sementara pendalaman bermaksud unutk melihat kasus klitih dari berbagai macam perspektif.

“Tujuannya adalah kita dapat memetakan permasalahan klitih dari berbagai perspektif dan dapat menyelesaikan permasalahan klitih,”Jelas Arif saat membuka Seminar Kemitraan

Diskusi ini diikuti oleh Kabag-kabag di Sekretariat DPRD DIY,Pemda DIY/Kota yang dikuti oleh Kapolda DIY Brijend Ahmad Dofiri dan Kapolresta Kombespol Tommy Wibisono, dan 13 perwakilan SMA yang meliputi SMAN 1 Yogyakarta, SMAN 3 Yogyakarta, SMAN 6 Yogyakarta, SMAN 1 Depok, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta,SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, SMA Piri 1 Yogyakarta, SMA Bopkri 1,SMA Bopkri 2, SMA De Brito,SMA St thomas, SMA Gajah mada.

Perspektif yang dimaksud Arif berupa perspektif Hukum dan Sosio Kultur dari Orang tua. Mengenai hukum Arif menjelaskan undang undang (UU) menjelaskan bahwa setiap orang mempunyai hak untuk hidup.

Selain itu, terdapat juga UU yang mendukung hak anak untuk mengembangkan diri dan mencari ilmu, mencintai dan dicintai keluarga, serta menyayangi teman dan mendapatkan hak aman.

“Dalam UU no 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, sudah dijelaskan, orang tua wajib memberikan pendidikan karakter untuk anak, dan penanaman budi pekerti serta setiap anak berkewajiban untuk mencintai keluarga dan menicntai teman,”ujar Arif.

Selain perspektif Hukum, Menurut Arif , Perspektif tentang sosio Kultur juga sangatlah penting. Pasalnya yang terjadi saat ini adalah rata-rata keluarga pelaku berasal dari keluarga yang kurang harmonis dan dingin. Arif berpendapat perlu agar setiap setiap keluarga menciptakan suasana yang hangat dan harmonis.

Tidak hanya itu, Arif juga menambahkan agar setiap menguatkan kontrol orang tua. Saat ini kontrol orang tua dirasa sangat lemah seperti Orang tua tidak boleh membuka ponsel atau smartphone anaknya.

“Orang tidak boleh membuka ponsel anaknya atas dasar privasi, dan ini menjadi permasalahan,”imbuhnya.

Arif berharap dengan gelaran Seminar tematik ini setiap pihak dapat bekerjasama untuk menciptakan kembali kota Yogyakarta yang kondusif, Aman, dan bebas dari Klitih. |Syidiq Syaiful Ardli

back to top