Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Dongeng Seorang Ibu Mengantarkan Anaknya Meraih Doktor

Foto: Ibu Les Foto: Ibu Les

Bu Les terus mendongeng untuk anak-anaknya. Dari ketika mereka masih berupa janin, hingga bahkan ketika mereka telah menjadi dewasa. Jangan remehkan dongeng! Dongeng-dongeng itu mampu mengantarkan anak-anaknya meraih gelar doktor.

Magelang-KoPi| Siang itu hujan turun begitu deras. Angin bulan Maret berdesah seperti raungan yang gelisah. Beberapa perempuan dewasa di sepanjang jalan perumahan Kalinegoro tampak panik mencari perlindungan. Tetapi, beberapa anak yang telanjang, berlarian di jalanan sembari menjerit dan tertawa menyambut hujan dan angin yang tampak liar. Tiba-tiba, seorang ibu muda muncul dengan payung warna merah dari ujung gang. Ia tengah mencari anaknya yang ternyata adalah salah satu dari anak-anak yang riang menantang badai tersebut. Mulutnya meraungkan suara memanggil nama anak tersebut.

"Ariifiinn...pulaang!" Jerit ibu muda tersebut yang dibalas sang anak dengan tawa dan lari kencang menjauh. Ibu muda itu menjadi semakin panik dan tampak jengkel mengejar anaknya di antara rinai hujan. Ibu itu mengejar tertatih di antara genangan air di jalan. Kaosnya mulai basah oleh air yang menetes dari payungnya.

Bu Sri Lestari Suryono tertawa melihat kejadian tersebut dari dalam rumahnya yang sederhana, sebelum kemudian ia menutup jendela kaca yang basah oleh tempias hujan. Ia segera mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya yang kecil. Sebuah ruang kecil dengan kursi-kursi ukir yang besar.

"Anak-anak ibu dulu juga seperti anak-anak itu. Nakal. Suka bermain-main sesukanya meskipun hujan badai," tuturnya sembari tersenyum. "Dulu, bahkan anak-anak suka ngintir (menghanyutkan diri:Red) di sungai. Mereka bikin perahu dari batang pisang. Haduh, kalau tahu saat itu, ibu pasti marah besar. Ada tetangga yang lapor saat itu, Bu, anak-anaknya pada ngintir pake getek di sungai, kata seorang tetangga waktu itu." Perempuan berusia 64 tahun yang masih tampak cantik itu tertawa mengenang.

"Tapi melihat mimik mereka yang lucu, Ibu cuma bisa geram."

Menurutnya, anak-anak memang seperti itu. Senantiasa dalam dunia bermain dan pencarian. Hanya saja, menurutnya, masih banyak orang tua yang terlalu protektif dan menghambat perkembangan sang anak. Mereka terlalu kuatir dan justru sering menyalahkan anak-anak. Bahkan tak jarang mereka melakukan kekerasan untuk menghentikan kewajaran anak.

"Semua itu bisa membuat anak-anak menjadi tidak percaya diri.” Kata Bu Les. “Memang kita yang tahu apa yang baik atau buruk, yang aman bagi anak atau tidak. Tetapi kalau kita tidak bisa mengontrol emosi kita, itu justru berbahaya bagi anak kita nanti,"tambahnya.

Tradisi membaca

Sri Lestari Suryono, biasa dipanggil Bu Les, saat ini tinggal di sebuah perumahan sederhana di kawasan Mertoyudan Magelang. Ia menjadi janda setelah suami tercintanya wafat di tahun 2003. Berputra lima anak yang sebagian besar sukses dalam meraih pendidikan. Dua di antaranya adalah Doktor lulusan universitas ternama di Jepang dan di Surabaya. Sementara yang lain menjadi pejabat daerah eselon dua di Kudus dan yang lain lagi memantabkan diri mereka menjadi pengusaha.

Saat ditemui KoranOpiniCom, Bu Les tengah sendiri membaca tabloid wanita dan majalah Jawa. Meskipun menjadi ibu rumah tangga biasa, ia memiliki kebiasaan membaca sejak masa mudanya. Ia memiliki pelbagai majalah dan tabloid wanita. Kebiasaan itu sangat bermanfaat. Selain memberikan jangkauan wawasan cakrawala untuk pengembangan pribadinya, ia juga memberikan banyak pengetahuan praksis di seputar dunia perempuan seperti menambah ketrampilan memasak yang menjadi hobinya, dunia mode perempuan dan teknik tanam menanam. Dan itu menjadi berguna pula bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

"Ibu banyak mendapat pengetahuan masak memasak. Macam-macam ya. Begitu ada resep baru, Ibu biasanya ingin mempraktikkan. Anak-anak kalau Ibu sudah memasak mereka sudah tak mau lagi jajan. Katanya, enak bikinan Ibu," cerita Bu Les. "Jadi Ibu tak usah memberi mereka uang jajan. Selain tidak baik membiasakan anak-anak jajan, Ibu memang tidak cukup punya uang buat jajan mereka." Tambahnya sembari tertawa kecil.

Tradisi membaca itu pula yang membuat Bu Les menjadi aktivis PKK sejak awal tahun 1980-an di Klaten. Ketika menjadi kader PKK, saat itu ia dipercaya untuk mengembangkan lingkungannya. Dengan berbekal pengetahuan dari bacaannya, Bu Les menjadi pelopor untuk memperkenalkan konsep 'Warung Hidup dan Apotek Hidup" di zaman Soeharto. Dimana masyarakat diajarkan membangun ketahanan pangan dan kesehatan melalui pemanfaatan lahan rumah yang relatif sempit. Masyarakat menjadi lebih hemat dengan sayuran yang mereka tanam sendiri dan memahami konsep Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).

"Sebelumnya pada tidak tahu dulu, kalau orang terluka misalnya, kita bisa gunakan tanaman terdekat kita seperti getah pohon pisang ambon. Anak-anak kalau sakit saya olesin getahnya, keringnya cepat dan sembuh. Luka apa saja, termasuk ketika kebakar. Bila diolesin dengan getah itu menjadi terasa dingin dan cepat sembuh. Nah, itu kemudian itu ditiru sama tetangga lainnya."

Kegemaran membaca itu pula yang kemudian membuat anak-anaknya menjadi suka membaca. Oleh sebab itu suaminya pun kemudian berlangganan majalah anak-anak serta pelbagai buku cerita. Mereka juga sering membawa buku cerita dari perpustakaan sekolah.

"Anak-anak itu dulu saking sukanya membaca, kalau pulang sekolah bukan meja makan yang dituju, tapi pasti majalah atau koran. Mereka berebut baca duluan. Tapi sekarang sepertinya lain ya. Hape yang dipegang."

Pendidikan dan dongeng

Meskipun tidak merasa sangat berhasil dalam mendidik anak-anaknya, Bu Les merasakan kepuasan dan sangat bersyukur karena anak-anaknya saat ini sudah menjadi "orang baik." Dahulu, kenangnya, hidupnya bersama keluarga sangat sederhana. Namun toh itu bukan menjadi alasan untuk tidak memikirkan pendidikan anak-anaknya secara baik dan benar. Kesadaran itu pula yang kemudian membuatnya mendidik anak-anaknya sejak mereka masih di dalam kandungan. Ketika masih berupa janin.

Maksudnya?

"Ibu selalu menjaga makanan ibu saat hamil, agar anak-anak tumbuh sehat ketika janin. Ibu juga menjaga perilaku ibu agar tidak menular pada janin. Ibu bicara yang baik-baik, Ibu melihat dan mendengar hal yang baik-baik. Semua itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan janin," jelasnya. "Setelah mereka lahir, ibu berikan ASI selama dua tahun. Memberi ASI ini sangat mengikat emosi atau batin bayi dengan ibunya. Ada kasih sayang yang timbal balik antara ibu dan anak."

Setelah itu?

Mendengar pertanyaan itu, Bu Les tersenyum. Di luar suara hujan masih terdengar bergemuruh. Beberapa kali tampak kilat menyala dari langit yang mendung. Bu Les berdiri mohon izin menyalakan lampu ruangan. Sesaat kemudian ia kembali duduk.

"Iya, setelah itu ya ibu sesuaikan dengan usia mereka. Misalnya, ketika mereka baru bisa bicara dan banyak bertanya, ibu biasanya mencoba menjelaskan pertanyaan mereka dengan dongeng. Terlebih ketika usia mereka mulai beranjak 4-5 tahun. Ibu membacakan mereka dongeng dari majalah atau karangan ibu sendiri. Hampir setiap hari Ibu mendongeng. Anak-anak biasanya berkumpul sambil domblong (=ternganga, Red) dan ekspresinya lucu-lucu," kenangnya sambil tertawa.

Dongeng bagi anak-anak itu, hasilnya luar biasa, jelas Bu Les. Imajinasi anak-anaknya berkembang luar biasa. Mereka sering mengekspresikan dengan pelbagai hal secara kreatif dan terkadang saling menegur antara saudaranya ketika salah satu anak dianggap melanggar nilai-nilai baik yang mereka kenal.

"Tapi anehnya, anak-anak di masa sekolah dasar jarang mendapatkan ranking, tapi wawasan mereka melebihi anak sebaya yang lain. Ada sih beberapa memang juga mendapatkan rangking kelas, tapi Ibu dan Bapak tidak menekankan hal itu. Paling penting bagi kami mereka jadi anak baik. Alhamdulilah, sekarang mereka sepertinya jadi orang baik dan bersekolah sampai tinggi. Dan mungkin karena mereka sering mendapatkan dongeng serta gemar membaca, mereka juga pintar menulis buku dan sering menulis di koran,"cerita Bu Les tanpa bermaksud pamer.

Waktu menunjukkan pukul 5 sore ketika hujan mulai reda. Di luar terdengar suara anak-anak bermain. Bu Les, janda tua sederhana yang tetap tampak cantik itu menyuguhkan kopi panas dan gorengan yang ia sempatkan masak beberapa saat lalu. Sembari menyeruput kopi panas yang nikmat, otak kami mengembara ke dunia anak-anak yang penuh dongeng. |Editor: Ranang Aji SP|

back to top