Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Doa Imlek: Semoga keberuntungan untuk Indonesia

Doa Imlek: Semoga keberuntungan untuk Indonesia

Jogjakarta-KoPi| Sejak pagi pukul 08.00 WIB (8/2) masyarakat Tionghoa mendatangi Klentheng Gondomanan untuk bersembahyang. Suasana di Klenteng cukup sepi. Keramaian mulai terlihat pukul 11.00 WIB ke atas.

Perayaan tahun baru Imlek 2567 bertepatan dengan shio ke-9 monyet elemen api dan sifat Yang (kuat). Dalam shio monyet api masyarakat Tionghoa akan mendapat keberuntungan dari segala aspek kehidupan.

imlek2

Seperti yang diharapkan oleh Yenlisa (21), tahun baru ini memiliki banyak rejeki.

"Doanya rejeki lancar, dan keluarga sehat," tutur mahasiswi UGM tersebut.

Yenlisa menyayangkan perayaan Imlek di Jogjakarta tidak terlalu ramai. Keramaian hanya terpusat di komunitas Tionghoa seperti Kampung Ketandan komplek Malioboro.

imlek3

"Tidak bisa pulang kampung ke Medan, di sini perayaannya sepi, tidak seperti di rumah. Kalau tidak ke Vihara ke pusat Tionghoa sepi, kita merayakan bersama keluarga Budhis di sini," kata Yenlisa.

Sementara masyarakat Tionghoa Ananta Pidika (19) dan Stevan Sugianto (18) mengharapkan Indonesia menjadi negara yang memiliki toleransi yang tinggi.

"Bangsa kita yang kacau kemarin sekarang aman, tidak ada permusuhan dimana-mana. Saling menghormati, seperti kalau umat Islam merayakan Idul Fitri,"kata Stevan. |Winda Efanur FS|

back to top