Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Doa Imlek: Semoga keberuntungan untuk Indonesia

Doa Imlek: Semoga keberuntungan untuk Indonesia

Jogjakarta-KoPi| Sejak pagi pukul 08.00 WIB (8/2) masyarakat Tionghoa mendatangi Klentheng Gondomanan untuk bersembahyang. Suasana di Klenteng cukup sepi. Keramaian mulai terlihat pukul 11.00 WIB ke atas.

Perayaan tahun baru Imlek 2567 bertepatan dengan shio ke-9 monyet elemen api dan sifat Yang (kuat). Dalam shio monyet api masyarakat Tionghoa akan mendapat keberuntungan dari segala aspek kehidupan.

imlek2

Seperti yang diharapkan oleh Yenlisa (21), tahun baru ini memiliki banyak rejeki.

"Doanya rejeki lancar, dan keluarga sehat," tutur mahasiswi UGM tersebut.

Yenlisa menyayangkan perayaan Imlek di Jogjakarta tidak terlalu ramai. Keramaian hanya terpusat di komunitas Tionghoa seperti Kampung Ketandan komplek Malioboro.

imlek3

"Tidak bisa pulang kampung ke Medan, di sini perayaannya sepi, tidak seperti di rumah. Kalau tidak ke Vihara ke pusat Tionghoa sepi, kita merayakan bersama keluarga Budhis di sini," kata Yenlisa.

Sementara masyarakat Tionghoa Ananta Pidika (19) dan Stevan Sugianto (18) mengharapkan Indonesia menjadi negara yang memiliki toleransi yang tinggi.

"Bangsa kita yang kacau kemarin sekarang aman, tidak ada permusuhan dimana-mana. Saling menghormati, seperti kalau umat Islam merayakan Idul Fitri,"kata Stevan. |Winda Efanur FS|

back to top