Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

DIY akan terbebas dari demam berdarah melalui nyamuk dengan Wolbachia

DIY akan terbebas dari demam berdarah melalui nyamuk dengan Wolbachia

Sleman-KoPi| Sri Sultan Hamengku Buwono X optimis Yogyakarta terbebas dari demam berdarah bila pengembangan nyamuk dengan Wolbachia berhasil. Sultan juga merasa puas dengan hasil penelitian nyamuk Aedes Aegypti dengan Wolbachia di fasilitas penelitian Aedes aegypti (EDP) Yogyakarta di insektarium Sekip N 14. Nyamuk dengan Wolbachia ini tengah dikembangkan untuk menangkal Demam Berdarah.

Penelitian dalam pengembangan nyamuk dengan wolbachia ini akan dapat memutus rantai penyebaran virus DBD yang selanjutnya dapat diterapkan di masyarakat Yogyakarta.

"Kami berharap penelitian ini dapat memandulkan nyamuk sehingga tidak menyebarkan DB," ujar Sultan saat diwawancarai di depan gedung penelitian, Selasa (14/2).

Sultan mengatakan untuk 3 tahun, penelitian ini masih dalam tahap identifikasi di dua pedukuhan di Sleman yang sudah berbentuk nyamuk. Sementara di Bantul berbentuk telur. Hasilnya menunjukkan di dua pedukuhan itu ada penurunan kasus DBD.

Peneliti utama EDP-Yogya, Prof. Adi Utarini menjelaskan selama 2 fase percobaan yang sudah berjalan, ada penurunan penyakit DBD di wilayah Bantul dan Sleman. Sehingga Adi menarik kesimpulan semakin banyak Wolbachia pada nyamuk, maka penularannya semakin berkurang.

"Dengan percobaan sekali sudah memberikan hasil yang baik untuk memutus demam berdarah dan mampu menghambat virus dengue," ujarnya dengan antusias.

Penelitian juga melihat apakah ada resiko yang membayangi. Adi mengatakan berdasarkan penelitian tim pakar, pengembangan nyamuk ber-wolbachia minim atau beresiko rendah pada manusia, ekonomi, kesehatan dan lingkungan.

Untuk saat ini perkembangan nyamuk ber-Wolbachia belum tinggi, sehingga belum bisa memproteksi masyarakat dari demam berdarah secara keseluruhan. Adi menjelaskan untuk wilayah kota Wolbachia pada bulan Januari berjumlah 15%. Sementara untuk total seluruh DIY 60%. Namun, peneliti UGM menargetkan Maret sudah mencapai 80% wilayah nyamuk yang ber-Wolbachia.

Hal ini sejalan juga dengan harapan Sri Sultan Hamengkubuwono untuk tahun 2020 nanti seluruh DIY sudah bisa terlindungi nyamuk-nyamuk ber-Wolbachia.

"Sehingga nantinya seluruh DIY ini bisa dicover nyamuk produksi yang nantinya DIY menjadi minimal jumlah Penderita DBD,"pungkasnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

back to top