Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Distorsi Islam di Film Hollywood

Distorsi Islam di Film Hollywood

Oleh: Rio F. Rachman


DALAM buku Heru Susetyo berjudul The Journal of Muslim Traveler (2009), terdapat sub bab berjudul Islam di Film-Film Hollywood. Dia menyitir lima film (True Lies, Navy Seals, Invasion to USA, Black Hawk Down, dan The Sum of All Fears) yang disebut menggambarkan Islam nan sadis, bodoh, dan radikal. Sementara itu, dua kolomnis Barat bernama Laura Durkay dan Rachel Sharbi, di masing-masing artikelnya sepakat, Argo dan Zero Dark Thirty, langsung atau tidak, sukses menebar semangat Islamophobia (takut Islam).

Jika ditarik lebih jauh, adanya persepsi negatif tentang islam dan Islamophobia yang tercermin di film-film tadi, terjadi karena salah atau perbedaan pandangan tentang Islam. Baik dari produser maupun dari penikmat film yang kemudian mengartikan karya tersebut melalui gambaran realitas di benaknya. Hasilnya, muncul redefinisi bahkan distorsi Islam di film-film tersebut.

Mustahil teks, dalam hal ini film, dihasilkan dari kekosongan. Pasti ada muatan yang terkandung di dalam ruang pikir produser sebelum karya dibuat. Film selalu dimulai dari konstruksi di dalam pikiran kreator.

Di barat, termasuk Hollywood, representasi Islam telah lama menjadi distorsi. Dulu, Islam disebut sebagai golongan yang akrab dengan perbudakan, poligami, dan barbarian. Saat ini, konsepnya berubah ke arah anti-demokrasi, anti-rasional, dan suka kekerasan (Driss Ridouani, The Representation of Arabs and Muslims in Western Media, 2011). Ada semacam keinginan untuk mendeskriditkan Islam sebagai komunitas yang berbeda dengan mayoritas penduduk dunia.
   
Konsep jihad, misalnya, disebutkan di media-media barat sebagai perilaku peperangan suci demi agama. Padahal, lebih luas dari itu, ketika seorang perempuan hamil berjuang untuk melahirkan, kepala rumah tangga mencari nafkah, dan seseorang berupaya menghindari keburukan, itu juga termasuk jihad.
   
Ridouani juga mengutip Edward W. Said, seorang kristen asal Palestina yang kerap menuding adanya diskriminasi terhadap Islam di media barat dan Hollywood. Islam, kata Said, selalu diposisikan sebagai musuh dari Barat. Islam dianggap “alien” baik secara ideologi, politik, maupun perilaku.
   
Berkaca pada pemikiran Foucault tentang pengetahuan dan kekuasaan, Hollywood yang memiliki basis pengetahuan tentang film dan tak henti menelurkan film bermutu, juga memiliki faktor kekuasaan besar. Kekuasaan, bukan sebatas ranah vertikal seperti pemerintahan, politik praktis, regulator, maupun hubungan antara borjuis dan proletar. Bukan seperti menara tinggi di tengah penjara yang mengamati sel-sel di sekelilingnya.

Kekuasaan juga perihal horisontal atau antara elemen sosial. Termasuk, antara pembuat film dan penikmat film. Oleh karena pembuat film, dalam hal ini Hollywood, memiliki jaringan kuat dan daya rengkuh ke seluruh penjuru dunia, maka dia memiliki kekuasaan yang dimaksud. Daya rengkuh dan kemampuan komunikasi massa yang besar melalui media film, menjadi sarana penanaman pandangan atau ideologi. Seperti yang sempat disinggung di atas, pandangan, ideologi baru, redifinisi yang muncul, potensial menimbulkan distorsi.

Secara umum, kajian post strukturalis seperti Foucault, berbicara tentang subjek dan objek yang menjadi tidak jelas posisinya saat wacana dilontarkan ke ruang publik melalui media. Sebagai contoh, saat seorang penonton film datang ke bioskop dan berada di hadapan layar lebar, siapakah yang menjadi subjek dari film yang ditampilkan? Apakah penonton yang sedang menonton film tersebut? Atau justru film atau pembuat film yang sedang memberi pengaruh ideologi atau pemaknaan? Sehingga setelah pulang ke rumah, penonton sebagai objek malah berpikir bahwa definisi atau makna tentang suatu teks yang ada di film tadi benar atau salah.

Memang, Islam yang didefinisikan dalam film-film di atas tadi tidak bisa dibilang mewakili Islam secara keseluruhan. Sebab, film-film tersebut umumnya bersetting timur tengah dan Afrika. Namun, tidak dapat dinafikan pula, kalau nilai-nilai yang ada di dalam film turut mencuplik nilai Islam secara umum. Misalnya, dalam Black Hawk Down, terdapat orang yang sedang melakukan ibadah sholat. Lalu usai sholat, dia menyandang senjata. Sholat adalah ibadah semua muslim di dunia. Tidak hanya mereka yang berada di timur tengah atau Afrika.
   
Dalam Zero Dark Thirty juga terlihat bahwa pelaku bom bunuh diri meneriakkan “Allahuakbar” sebelum meledakkan diri di tengah orang-orang CIA di gurun kisaran Timur Tengah. Sedangkan seruan “Allahuakbar” adalah umum bagi semua muslim di dunia.

Pertanyaan yang kemudian lahir, apakah Islam di timur tengah dan Afrika memang radikal atau sadis seperti di film-film? Tidak selamanya demikian. Zuhairi Misrawi (2009) menyebutkan, ada banyak negara-negara Islam moderat yang secara mayoritas penduduknya juga menginginkan perdamaian atau hidup berdampingan dengan negara ataupun komunitas lain. Secara umum, seperti juga nabi Muhammad sang pembawa risalah, umat Islam juga selalu ingin perdamaian.
   
Harus diakui, tidak semua film Hollywood merangkai distorsi seperti ini. Bahkan, ada pula yang memberi gambaran Islam yang proporsional. Misalnya, di film Robinhood: The Prince of Thieves (1991), The Thirteenth Warriors (1999) dan Kingdom of Heaven (2005). Tiga film tersebut, meskipun sarat alur cerita konflik, tetap menempatkan Islam sebagaimana mestinya. Tidak berlebihan, dan dalam batas-batas peradaban yang pas. Islam digambarkan sebagai golongan yang humanis dan bermoral baik.

Bertolak dari semua penjelasan di atas, terdapat dua jenis film tentang Islam pabrikan Hollywood. Yang satu menggambarkan secara proporsional, dan yang satu mendistorsi nilai Islam. Kalau sudah begini, sudah barang tentu yang disebut terakhirlah yang menimbulkan problem di masyarakat. Maka itu, persoalan distorsi ini layak mendapat perhatian lebih. Sehingga bias definisi yang muncul pasca menonton film tidak membuat salah persepsi dan penyimpangan pesan di masyarakat. Wallahua’lam.--//

back to top