Menu
Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi | Balai Penyel...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi | Gunung Merap...

Prev Next

Diskusi Media Komunitas Melawan Hoax

Diskusi Media Komunitas Melawan Hoax

Sleman-KoPi| Combine Research institution (CRI) mengadakan diskusi publik bertajuk "Media Komunitas Melawan Hoax" di ruang Bulaksumur, Gedung University Club UGM, Sabtu (4/1). Hadir sebagai narasumber Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar, Suwarjono, Ketua Aliansi Jurnalistik independen Indonesia (AJI), Ahmad Rofahan, Media Komunitas Jingga Merah, dan Imung Yuniardi Ketua CRI.

Diskusi ini menanggapi maraknya peredaran hoax di media online dan media sosial, sehingga masalah hoax menjadi masalah yang dirasa perlu untuk dilawan dengan serius.

Sebelumnya upaya melawan hoax ini telah dilakukan dengan mendeklarasikan Masyarakat Antihoax di beberapa wilayah. Pemerintah pun mengeluarkan kebijakan menutup media-media online yang dianggap penyebar hoax. Sementara Dewan Pers berupaya melawan hoax dengan memberikan label ke media yang dianggap abal-abal.

Menurut Imung, media komunitas sering dianggap hanya sebagai media alternatif dan dipandang sebelah mata. Namun, untuk konten atau kualitas tidak jauh berbeda dengan media pers yang formal. Selain itu, menurtnya media komunitas bisa menjadi partner Dewan Pers untuk melawan hoax dan berita abal -abal yang ada di masyarakat.

"Yang membedakan media komunitas adalah fokus yang di wilayah itu atau dikomunitas itu dan tidak merambah ke lain-lain. Media komunitas juga bisa menjadi partnernya dewan pers untuk melawan media abal-abal," ujar Imung Yuniardi.

Sementara itu, Ahmad Djauhar Wakil Ketua Dewan Pers mengatakan untuk kasus hoax ini mayoritas berasal dari media sosial. Namun penyebarannya menjadi merambah ke media-media lain.

"Sumber Hoax pertama merambah di media online lalu merambah ke media cetak lalu ke media sosial yang nantinya mengarah ke TV," jelas Ahmad Jauhar.

Ketua Aji , Suwarjono juga memperjelas bahwasanya salah satu pendorong hoax adalah masyarakat yang mudah menggunakan media sosial dan tidak menggunakan manfaatnya.

"Masyarakat bisa menggunakan medsos yang sudah diinjeksi di smartphone yang mereka sebelumnya tidak pernah memanfaatkannya," ujarnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

back to top