Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Dinosaurus juga suka “nge-fly”?

Dinosaurus juga suka “nge-fly”?
KoPi | Rupanya sejarah tidak bisa dilepaskan dari narkotika. Mulai dari jaman Yunani kuno hingga peradaban modern saat ini, manusia sudah merasakan efek halusinogen dari berbagai tanaman obat, seperti ganja, candu, mariyuana, dan sebagainya. Tapi sepertinya sejarah “nge-fly” sudah muncul bahkan jauh sebelum manusia muncul, alias pada jaman dinosaurus!
 

Baru-baru ini arkeolog menemukan fosil tanaman rumput purba di Myanmar. Fosil tanaman berusia 100 juta tahun tersebut ditumbuhi spesies jamur yang sejenis dengan jamur api yang dapat menyebabkan halusinasi. Jamur ini telah lama dikenal dalam peradaban manusia sebagai obat, racun, dan halusinogen. 

Arkeolog meyakini dinosaurus memakan rumput tersebut, meskipun tidak mengetahui bagaimana efeknya pada mereka. “Sepertinya jamur api sudah lama menjadi bagian kehidupan manusia dan binatang, dan kini kita tahu jamur ini sudah ada bahkan sejak rumput paling purba tumbuh,” ungkap Georg Poinar, Jr., paleo-entomologis dari Oregon State University yang menjadi pemimpin penggalian tersebut.

Poinar mengatakan efek jamur api pada manusia dan hewan bisa menyebabkan delusi, perilaku irasional, kejang, kesakitan, kelemayuh, dan kematian. Dalam sejarah, jamur ini pernah menyebabkan ribuan orang meninggal pada Abad Pertengahan, karena panen gandum di Eropa terserang jamur api. 

Meski demikian, jamur ini kini dipakai dalam pengobatan. Ilmuwan kini mengambil ekstraknya untuk dijadikan berbagai obat-obatan, termasuk salah satunya dijadikan LSD.

Pertanyaannya, apakah dinosaurus juga bisa “nge-fly” karena jamur ini?

“Kemungkinan jamur ini bisa mempengaruhi mental dinosaurus jika susunan jamur api dalam fosil tersebut sama dengan jamur api yang ada saat ini,” ujar Poinar pada The Huffington Post. | Oregon State University, The Huffington Post

 

back to top