Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Dilema sekolah, antara ilmu dengan nilai universal

Sumber gambar: sekolahdasar.net Sumber gambar: sekolahdasar.net

KoPi, Secara sosiologis, individu yang baru saja hadir di dunia dianalogikan sebagai gelas kosong. Apa dan bagaimana gelas tersebut akan diisi, tergantung kepada agen yang memberikan sosialiasi kepada individu tersebut. 

Siapa yang memiliki pengaruh terbesar dalam membentuk perilaku individu dalam masa sekolah?

Dalam masa sekolah, individu mendapati bahwa sekolah merupakan agen sosiasliasi kedua setelah keluarga.  Oleh karenanya, peranan sekolah begitu sentral dalam pembentukan perilaku individu; mempersiapkan individu agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang lebih luas. Sekolah menanamkan nilai-nilai universal; nilai-nilai yang terdapat dalam lingkungan luar, yaitu masyarakat. Nilai tersebut kadangkala tidak diajarkan di dalam lingkungan keluarga, seperti nilai toleransi. Hal tersebut dilakukan agar individu dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat luas.

Namun, dewasa kini sekolah gagal dalam menjalankan fungsinya sebagai agen sosialisasi. Sosiolog Universitas Airlangga, Dr. Tuti Budirahayu Dra, Msi melihat bahwa sekolah hanya berkonsentrasi dalam hal melakukan transfer ilmu akademis. Penanaman nilai serta norma yang terdapat dalam masyarakat kemudian menjadi terabaikan. Dengan demikian, keluarga kembali memegang peranan sentral sebagai agen sosialiasi kepada individu dalam masa sekolah.

Ilmu akademis vs penanaman moral

Kualifikasi pekerjaan mengharuskan individu memiliki modal simbolik agar mampu mendapatkan posisi yang diinginkan. Modal simbolik yang dimaksud adalah ijazah. Oleh karenanya, kepemilikan ijazah yang didukung oleh pendapatan nilai akademik yang baik menjadi tujuan mayoritas masyarakat.

Mekanisme seperti yang disebut di atas kemudian mempengaruhi proses pembelajaran di sekolah.

“Sekolah lebih menekankan bagaimana muridnya bisa menyerap ilmu, dapat menjawab soal-soal ujian, mendapatkan nilai yang tinggi. Hal tersebut kemudian menjadi kebanggaan sekolah serta orang tua muridnya. “

Proses pembelajaran yang terjadi di sekolah kemudian mempengaruhi pemikiran masyarakat, termasuk orang tua siswa. Mereka lebih mempertanyakan kemampuan akademik siswa daripada perilaku siswa yang mengacu pada nilai serta norma dalam masyarakat. 

“Masyarakat, termasuk orang tua siswa, lebih sering mempertanyakan, berapa nilaimu? Ranking berapa kamu? Jarang sekali masyarakat mempertanyakan, apa yang telah kamu berikan ke masyarakat sekitarmu? Apa kamu bisa membantu temanmu? Pada akhirnya, nilai menjadi alat yang membagi masyarakat dalam hal kompetensi individu, termasuk hingga hal pekerjaan.”

Pendidikan yang sebatas menghafal

Mayoritas mata pelajaran, maupun pelajaran agama yang seringkali menjadi harapan dari masyarakat sebagai pembentuk perilaku siswa, tidak mampu mengakomodir harapan tersebut. Dewasa kini, pelajaran yang diterima oleh siswa hanya sebatas pada menghafal, yang kemudian siswa diharapkan dapat menjawab soal-soal ujian. Jarang sekali terlihat bagaimana pelajaran yang diterima oleh siswa kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Katakanlah, pelajaran agama juga hanya teori dan juga menghafal. Tidak ada penerapan dari pelajaran tersebut. Contohnya seperti, apakah siswa sudah menerapkan nilai-nilai sedekah, nilai-nilai kasih sayang. Pelajaran tersebut hanya terbatas pada aspek kognisi serta pengetahuan saja, seperti sholat itu seperti apa.”

Soal-soal yang diujikan hanya memiliki sifat memanggil ulang apa yang telah dihafalkan. Dengan mekanisme pembelajaran tersebut, pelajaran yang diterima siswa hanya menjadi perantara saja dalam rangka memperoleh nilai yang baik. Tidak ada dimensi penerapan, sehingga pelajaran yang diterima mudah saja untuk dilupakan/ terlupakan.

Fullday school, program peningkatan stress siswa

Durasi sekolah dewasa kini dapat dikatakan lama, yaitu kurang lebih delapan jam, atau yang dikenal dengan nama fullday school. Menurut pengajar mata kuliah Sosiologi Pendidikan tersebut, walaupun belum ada penelitian mengenai hubungan antara durasi sekolah dengan peningkatan moral siswa, secara logika dapat dikatakan bahwa siswa mengalami peningkatan dalam hal moral dikarenakan durasi sekolah yang lama. Namun, hal tersebut nampaknya belum terlihat pada siswa saat ini.

“Tujuan dari fullday school adalah mengurangi durasi siswa berkeliaran, seperti main ke mall. Namun, bukannya menanamkan nilai-nilai serta norma masyarakat, sekolah lagi-lagi memberikan pelajaran kepada siswanya.”

Bisa saja, dengan semakin lamanya durasi belajar di sekolah dapat menyebabkan semakin tingginya tingkat kejenuhan siswa. Hal tersebut kemudian mengakibatkan siswa melakukan tindakan-tindakan menyimpang, yang salah satunya adalah kenakalan remaja. Tuti melanjutkan, kenakalan remaja yang dilakukan merupakan kompensasi siswa atas kejenuhan belajar di sekolah.

Bimbingan konseling, apakah fungsional?

Selain sebagai kompensasi, kenakalan remaja yang dilakukan oleh siswa juga merupakan hasil meniru perilaku masyarakat sekitar. Hal tersebut diperkeruh dengan abainya sekolah menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa. Sekolah juga tidak dapat melakukan tindakan preventif dalam mencegah kenakalan remaja.

Bimbingan Konseling (BK) sebagai salah satu komponen yang terdapat di sekolah nampaknya gagal dalam mencegah kenakalan remaja. Pada awalnya, BK memiliki fungsi sebagai agen yang mampu melakukan pendekatan kepada siswa. Diharapkan, BK mampu memiliki hubungan yang intim dengan siswa sehingga siswa dapat menyalurkan baik keluhannya maupun keinginannya. Dengan demikian, BK mampu membantu siswa, baik dalam hal menyelesaikan masalah maupun membantu perkembangan siswa.

Kurangnya pemahaman akan fungsi dari BK menyebabkan siswa kurang dapat memaksimalkan peranan dari salah satu komponen sekolah tersebut. Tenaga yang dimiliki oleh BK juga menjadi salah satu permasalahan. Semakin terbukanya kesempatan untuk menempuh pendidikan tidak sebanding dengan peningkatan, baik kualitas maupun kuantitas tenaga BK. Petugas dari BK pada akhirnya kurang mampu memahami masing-masing karakter serta permasalahan siswa.

Reporter: Yudho NP

back to top